Merayap di dinding tembok tempatku beraksi setiap harinya, seekor cicak yang mengendap-endap melalui jam dindingku yang berjalan statis dengan kecepatan yang sama. Pukul 00.45, seperti biasa, aku belum bisa tidur. Masih di depan layar cerah yang cukup menylaukan mata dan jemariku yang sudah letih masih menancapkan ujungnya di keyboard kesayangan yang sudah mulai usang. Suara Katon dengan lagu kesayangan Yogyakarta (akustik) dot mp3 ku masih ada dalam playlist yang kebetulan sekali mengiring proses penulisan kali ini. Setelah translate 5 halaman dengan format margin standar 4 4 3 3 yang sudah sangat akrab dengan telingaku sampai pekak dan bosan, spasi 1,5 Times New Roman yang harus dikumpulkan Rabu tanggal 2 Januari 2007 yang judulnya kurang lebih seperti ini CONTROL OF CHILLING INJURY (khas anak Teknologi Pangan, red). Rasa lapar mulai mendera perut buncitku yang tak lagi buncit karena terlalu sering kelaparan tiap malam, akhirnya aku memutuskan untuk keluar mencari makan, ditemani seorang sahabat yang sudah hampir tiap hari mengisi ruang-ruang dalam rumahku, Chiyo namanya. Naik kendaraan, waktu itu kurang lebih pukul 00.59 udara dingin yang membalut kulit menembus jaket dan sangat terasa di pergelangan kaki menemani perjalananku. Solo, kota yang tidak pernah mati masih saja kutemui berbagai macam makhluk hidup pada dini hari seperti ini, termasuk salah satunya makhluk yang kata mbah Darwin jenis Homo sapiens ini, mereka masih saja mengadu nasib, mengais rejeki ditengah gemerlap lampu kota yang menyilaukan mata. Ditemani kabut tipis yang meresap kain baju ini membuat kaca mataku berembun. Dipinggiran jalan dibawah ruko-ruko besar tempat bertransaksi para pembeli alat elektronik di Solo sudah mulai bermunculan penjual terompet tahun baru yang menutup barang pencari nafkahnya dengan plastik transparan yang kalau kena hujan pun bisa jadi langsung ambruk. Aku sangat yakin, jalan-jalan yang kulaui dini hari ini akan menjadi ajang wisata tahun baru esok pada pukul yang sama, warga Solo, akan meninggalkan angka 7 yang biasanya terpampang besar dikalender pemberian sekolah anak-anaknya yang masih SMU yang biasanya ditulis besar-besar agar tidak lupa kalau ada tanggal merah menjadi angka 8. …. Lanjutkan membaca ‘ENDING 2007′
Arsip untuk Desember, 2007
Kubuka lembaran baru kutuliskan semua tentang bagaimana harus hidup dan menghidupi, bagaimana harus bercerita tentang dirimu. Apa kau tidak pernah sadar bahwa kau adalah sesuatu yang sangat berharga? Di dunia yang semakin sempit kau mempunyai memory besar yang indah untuk ku kenang, selamanya kau tidak akan tergantikan. Kau torehkan semua dihati, kau menyanyikan lagu yang ku inginkan, kau memutar lembaran-lembaran film untuk ku, kaupun menulis kata-kata untuk membuatku bahagia, merasa dunia ini tempat yang paling indah, namun sedih. Memberi arti tersendiri di hardisc otakku yang paling dalam, kau tidak pernah berbohong padaku tentang baik buruk dunia ini, kau tunjukan aku yang buta ini betapa luasnya dunia dan berbagai macam bunga yang menghiasinya. Kau katakan padaku dengan setiap huruf dari tulisanmu untuk membimbingku yang hanya ilalang ini menjadi rumput Zoysia matrella yang menghiasi taman rumah. Kau selalu menimang tidurku dengan lagu-lagu indah yang kau putar untuk ku dan bangun dengan melihatmu lagi membuatku terus bertahan hidup. Kau akan selalu datang jika ku inginkan, kau selalu menemaniku siang dan malam, kau tak pernah tidur jika aku tidak memintamu tidur, kasihan kau.. Namun, kau tidak pernah mengeluh, dan aku akan sangat sedih jika sesekali kau sakit, jika sesekali dalam pekerjaan mu kau disakiti orang. Kau adalah bunga malamku yang tidak pernah tidur.. Namun kau tidak pernah bicara padaku, kau tidak pernah sekalipun marah padaku. Kau pun tidak pernah beranjak dari tempatmu kalau tidak ada aku, kau sering sekali membuat tulang punggungku berat menahan beban ini. Kau hanyalah seonggok mesin tua yang aku sayangi… karena kau adalah Compaq Presario C308 TU miliku tercinta, aku berjanji akan menjagamu. Terima kasih untuk malam-malam yang telah kita lalui bersama.
Hari itu 22 Desember 2007, pukul 21.30 ditengah dinginya udara kota Solo yang menyelimuti tidur setiap penduduknya. Saya lagi lagi, untuk kesekian kalinya kembali menelusuri dunia per-wedangan Solo, saya temui sebuah wedangan dibelakang kampus yang bertenda kuning, cukup kecil untuk ukuran wedangan di Solo. Oh, ternyata penjualnya adalah seorang anak muda berumur 18 tahun (saya tanyain beneran soalnya, red) dan dibalik itu semua adalah tokoh seorang Ibu, ya ibunya sendiri.. Ibu itu berjualan bersama seorang anak laki-lakinya. Tidak kusangka dia berumur begitu muda, kupikir jarang sekali anak seumuran itu mau diajak susah-susah kerja. Ternyata tokoh Ibu dalam hidupnya cukup dalam rupanya, dia sangat sopan dan hormat kepada Ibunya. Luar biasa Ibu itu, dia adalah salah seorang perempuan perkasa, mulai berjualan pada pukul 17.00 dan tutup pukul 00.00.. melihat peeristiwa seperti itu saya kembali teringat, bahwa hari itu adalah hari Ibu. Jadi teringat tokoh yang paling penting dalam hidup saya, dia adalah Ibu saya yang selalu mengorbankan jiwa raganya untuk saya, untuk sembilan bulan pertama dalam tiupan ruh Nya, untuk waktunya yang tidak pernah percuma dalam hidup, untuk sebotol susu yang menyambung hidup saya, untuk sepiring nasi yang tidak pernah dia lupa ketika jam makan, untuk secangkir teh hangat dipagi hari sewaktu saya masih di rumah, untuk jumat pagi dua minggu sekali bersama lauk pauk ala rumah yang ia bawa mengarungi teriknya matahari, untuk petuah hidup yang membuka hati nurani, untuk nasihat harian yang kadang membosankan tapi penting, untuk lilin harapan yang tidak pernah padam, untuk uang bulanan yang tidak pernah telat(hehe) Lanjutkan membaca ‘Untuk 22 Desember’
“Nda, lagi ngapain nih? ngetik blog?” kata saya sewaktu memasuki sekre himpunan mahasiswa di kampus. “wah masa siang-siang gini nulis blog mas, ga lazim dan gak afdol donk,” jawabnya sambil masih terus melototin laptopnya yang sedang mengerjakan deadline LPJ. Ternyata apa yang dia katakan mengusik pikiran saya, benar juga rasanya kalau nulis blog tidak disertai suara jangkrik dan nyamuk kurang sreg, kalau tidak diselimuti dengan keheningan malam dibawah cahaya remang-remang bulan, dirasuki rasa dingin dari angin malam yang berkibas dikamar seukuran 4×4 (baca: kamar kos).
Atau ini hanya kebiasaan saya aja ya? butuh jawaban nih…
Saat ini pukul satu dini hari lebih 15 menit 49 detik saat saya mengetikan jemari saya ke keyboard laptop yang sudah usang ditelan jaman ini. Dari kejauahan masih terdengar suara takbir yang merambat melalui udara malam yang dingin, melalui dinding-dinding rumah yang empunya sudah terlelap kelelahan karena bercanda seharian dengan saudaranya yang datang untuk berlibur. Merayap ditengah hamparan sawah, melalui embun pagi yang turun bersama hidayahNya kepada para pencari nikmat di kala orang lain sedang terlelap dalam selimut hangatnya…suara takbir berkumandang dari sebuah masjid di pinggiran kampung, yang keluar dari mulut suci seorang tua yang keriput wajahnya. Tidak hanya hari ini suaranya terdengar sayup sayup dari corong masjid yang menggunakan TOA model lama ini, pukul 4.00 pagi hari sebelum matahari terbit, sebelum ayam berkokok, dan yang pasti sebelum makhluk besar tidak berekor (baca: manusia) kebanyakan masih melayang ke dunia antah berantah, setiap hari orang tua ini sudah sepenuhnya sadar apa yang dia lakukan. Mendendangkan lagu-lagu dari kalimat Allah yang tertuang dalam sebuah kitab suci. Dengan suaranya yang terbata-bata manusia berakhlak mulia itu membaca setiap ayat dengan pelan dan penuh pemaknaan, kemudian dilanjutkan dengan arti dari setiap ayat tersebut. Setiap hari…
Tidak tahu, modal apa yang dimiliki orang tua ini, keyakinan, atau memang dia sudah benar-benar paham tentang agamanya seperti ustad-ustad itu. Yang mendasari perbuatan mulia ini sebenarnya hanyalah ikhlas. Dia tidak terlalu banyak kompromi untuk berpikir tentang perbuatanya, namun hatinya tulus mengalirkan aura keihlasan. Seperti pada hari ini, setiap orang islam yang mempunyai harta berlebih, mengorbankan sedikit uang dari koceknya untuk dibelikan seekor sapi atau kerbau. Modalnya adalah ikhlas, dengan hati yang tulus membagi-bagikan kebahagiaan kepada saudaranya yang kurang mampu untuk bersama-sama merayakan hari keihlasan sedunia (versi fauzan sigma, red). Betapa indahnya ajaran ini, mendidik kita untuk dapat ikhlas beramal hanya semata-mata mengharap ridhoNya.
Sayangnya, saat hari ini berlalu, semua juga hanya akan kembali kepada habitat dan moral masing-masing, simbolisme keihlasan yang telah mereka tunaikan hanya menjadi ikon belaka, menjadi formalitas untuk memposisikan diri di mata masyarakat. Seandainya manusia di bumi Indonesia ini masih bisa menerapkan ilmu ikhlasnya…..










Kata Mereka