Arsip untuk Januari, 2008

inna lillahi.. untuk Raja Orde Baru Soeharto

akhirnya Sang Raja Orde Baru, Bapak mantan presiden republik Indonesia, Bapak Soeharto.
saya hanya akan mengucapkan Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji’un. sebagai makhluk ciptaan Tuhan sudah menjadi sebuah keniscayaan untuk kembali kepadaNya. sekali lagi kita diingatkan akan kesuaan Tuhan, untuk kepan saja mengambil ruh dari jasad, yang membuktikan betapa manusia tidak ada apa-apanya disisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

sekarang  kembali pada diri kita masing-masing dengan peringatan itu. mati adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua, namun cara kita mati, dan apa yang akan kita tinggalkan dari kematian kita itulah yang harus kita rencanakan saat kita masih hidup.

mati yang menghidupkan, kata Solikhin Abu Izzudin. seperti kematian para syuhada. mereka meninggal dengan perjuangan, dengan meninggalkan wasiat pada kita agar terus berjuang di jalan yang benar.  jiwa-jiwa mereka akan terus hidup  menjadi penyemangat diri kita, menjadi suri tauladan bagi yang hidup. Kematian yang pahalanya tak pernah berhenti.

merencanakan hidup agar selalu bermanfaat dan ketika mati menjadi sejarah *yang baik* , adalah menddesain kematian kita untuk menuju kehidupan yang kekal nantinya.

selamat berpulang soeharto, semoga tauladan baikmu akan abadi di jiwa-jiwa anak Bangsa ini.

pengadilan akherat, pengadilah paling adil telah menunggumu 

Sang Waktu berkata: semua akan berawal dan berakhir kepadaNya.

NOTA KOSONG DAN OTAK KOSONG

Sepulang kampus Nusa mampir ke sebuah toko klontong yang lumayan besar disudut pertigaan jalan yang berhadapan langsung dengan salah satu pesantren hebat di Kota Solo. Memasuki toko yang dagangan klontong nya lumayan lengkap dan murah, pokoknya mahasiswa banget, ditambah dengan penjual toko yang seorang gadis muda berjilbab putih, dan kelihatanya sangat berkomitmen untuk menjaga harga dirinya, menyentuh tangan pelanggan dengan tidak sengaja pun dia hindari. Berdiri tiga langkah di depan Nusa, sepertinya keluarga muda, seorang istri yang sedang mengorder belanjaan , seorang Bapak gendut yang perutnya selangkah lebih maju daripada kakinya, berkaca mata dan berkumis tipis, dibawahnya ada seorang anak kecil kira-kira berumur 6 – 7 tahun.

Setelah mengorder beberapa belanjaan yang dimasukan ke dalam plastik hitam besar, entah apa itu, kemudian Ibu dari anak kecil tersebut membayarkan belanjaan tersebut, tiba-tiba si Bapak nunjuk sesuatu dan dimasukan pula sesuatu itu kedalam plastik belanjaan tersebut, lalu berkata pada gadis penjaga toko tersebut “Mbak, saya minta Nota Kosongnya ya, dikosongin aja, tapi di Cap ya..”

Gadis muda penjaga toko berparas tirus tersebut sejenak bengong, entah kenapa, namun harus diulang dua kali kata-kata bapak tersebut “ nota kosong mbak..nota kosong tapi di Cap toko ini”

“oh, sebentar” entah apa yang dipikirkan gadis itu, dengan agak ragu gadis itu membela hati nurani nya untuk menolak ke bohongan yang akan terjadi dengan NOTA KOSONG.

Nusa yang dengan muka kucel dan rambut acak-acakan masih membawa ransel kebangganya itu hanya berdoa, semoga anak da istri Bapak itu tidak menjadi penikmat NOTA KOSONG hanya untuk sekedar mengisi perut kosong, dari KEPALA KOSONG sang Pencari Nota Kosong.

“Kenapa ya orang-orang kita kecanduan sama kedelai?”

“Lapar nih Bung” kata seorang kawan pada Nusa dikamar kosnya ,hujan rintik-rintik yang masih dianugrahkan pada bumi dan makhluk di dalamnya membuat Nusa dan Tara merasa semakin lapar setelah pulang dari kampus ditengah-tengah masa ujian yang akan mereka lalui seminggu lagi. Debu dan CO2 yang biasanya mereka hirup disiang terik setelah lewat jam 13 di kota yang cukup ruwet ini, menjadi berkurang karena dihisap oleh H2O yang seolah – olah turun dengan malaikat untuk memberi kesejukan ditengah panas dunia yang semakin tinggi. Nusa dan Tara hanya memakai kaos oblong dan sandal jepit kebanggaanya mereka, sambil ngobrol ngalor ngidul tentang kuliah, ujian, bakteri, sampai dosen yang tadi diajak ngobrol masalah skripsi malah ngobrolin sponge bob. Nusa adalah anak Teknologi Pangan Universitas hebat di Solo, dan sedangkan Tara adalah anak Teknik Sipil di Universitas yang sama.

Memasuki kantin di pinggir jalan raya, dekat dengan pool salah satu Bus Umum antar kota, bau harum makanan Yang sedang di masak sudah mulai menggerogoti dompet tipis mahasiswa rantau tersebut, “ayam goreng nih Ra, bau nya huwaa, bikin dompet mepet gw tambah tipis aja” kata Nusa pada Tara seraya membersihkan kaca matanya yang terkena air hujan, “halah, ayam-ayam man koe ki, tempe juga biasanya, gaya banget sih skrg makan ayam segala”.

“wuah lo ga tau harga tempe sekarang berapa per biji?kedelai udah naik Bung, otomatis harga tempe naik”

“tadi gw juga nanya ke kantin kampus pas beli es teh, Ibu kantinya ngeluh katanya harga tahu tempe sekarang 200 perak mas”

“trus kemaren pas gw beli gado-gado juga kliatanya contentnya kurang, biasanya tempe tahunya banyak, sekarang yang banyak malah daun kobis nya” kata Nusa dengan menggebu-gebu pada Tara yang Cuma cuek, disambil mengambil satu tempe goreng dan tahu goreng, dan tentunya kecap favoritnya. Nusa yang tergoda dengan ayam goreng yang tergeletak bertumpuk-tumpuk di piring dalam display warteg yang agak panas karena aroma gorengan dan berbagai property lauk pauk yang sedang digoreng sedang berpikir keras melebihi kerasnya berpikir saat ujian utama, yaitu tentang isi koceknya dan kebutuhan hidup sebulan kedepan. Belum lagi untuk melunasi uang praktikumnya. “humm, ayam ah, masa bodo sm praktikum” katanya dalam hati. Diiringi lagu dangdut kucing garong yang meliuk-liuk sedih dengan nada-nada ceria khas dangdut yang berasal dari dalam ruangan dapur kantin yang terlalu mepet dengan kursi-kursi makan pelangganya, suasana panas lembab yang di blender dengan lagu-lagu dangdut yang bermuara pada radio butut yang kemresek Nusa dan Tara sangat menikmati makan siang dan pagi perdananya untuk hari ini, pukul 13, yah angka unik dan menggembirakan untuk perut mereka. Lanjutkan membaca ‘“Kenapa ya orang-orang kita kecanduan sama kedelai?”’

Soeharto dan Penyakit Obsesif Kompulsif

Seorang kawan yang telah sukses mengadakan seminar sekala nasional di sebuah hotel Sahid Jaya ternama di Kota Solo yang luar biasa, setelah acara selesai yah seperti biasa, mereka saling bercanda untuk menghilangkan penat yang menghantui pikiran mereka disela-sela kesibukan akademik. Juhud yang bermuka hitam lebam dengan logat khas Jowo bangetnya bertanya kepada kawan-kawanya “heh, siapa nih yang udah pernah tidur di hotel berbintang 5 kayak gini?” spontan Jono yang anak gunung tersesat kuliah di Kota menjawab dengan polosnya “ wah aku rung tau Hud, wekekek”, ditimpal dengan jawaban Andri yang berlagak sok Kota dengan “halah masa belum pernah to, lha wong aku aja tiap hari tidur sini kok, bapaku kan pejabat pemkot, hahahaha”, suasana menjadi semakin renyah dan riuh dengan canda kawan-kawan tadi. Namun dari salah satu mulut kawan kita yang polos tapi bermakna “lha kok nanyanya siapa yang pernah tidur di hotel ya? Kenapa kok ngga, siapa yang pernah tidur dikolong jembatan sama golongan marginal itu yah?”. Tiba-tiba mata semua kawan-kawan yang disana berubah cahayanya dan forum itu menjadi sebuah forum kontemplasi atas kesuksesan sesuatu yang beharga. Yaitu mengingatkan kita akan salah satu penyakit yang meraja lela dikalangan makhluk Homo sapiens jaman sekarang cinta dunia dan takut mati.

Hal ini juga dapat di analogikan dengan kematian Soeharto *nanti, entah kapan* yang dapat kita ambil dari sejarah beliau sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, mempunyai anak cucu yang berfasilitas ultraeksklusif, mempunyai kacung-kacung negara yang hegemoni dari akar hingga ke kepala. Hingga saat ini (13/1) pukul 05.00 dilaporkan oleh metro tv sudah dalam keadaan deadly critical condition, dan mengalami gangguan organ tubuh akut yang sepertinya akan membuat Kalitan ramai sebentar lagi. Sebagai informasi saja di Solo bandara satu-satunya yaitu Adi sumarmo akan ditutup untuk sementara untuk aktivitas transportasi yang meledak karena menunggu kedatangan keluarga cendana, jalan raya Solo yang menjadi jalur-jalur utama telah dibersihkan dan beberapa diantaranya termasuk Jl. Slamet Riyadi, Jl. A Yani, Jl. Adisucipto, Jl. Jend Sudirman dan Jl. Ir. Sutami (depan kampus saya UNS) dan beberapa jalan protokol lain akan ditutup berdasar keputusan Kapoltabes Solo *sumber berita: disini*.

Sepertinya mereka dan sebagian dari kita, dan mungkin juga saya telah terkena penyakit yang mengakar dari masa lalunya, yaitu obsesif kompulsif terhadap materi keduniaan yang berlebihan dan takut menghadapi kematian. Sangat jarang dari kita *dan saya* untuk merasa cukup dengan apa yang telah di anugrahkan olehNYA.

Nb: posting disela2 ujian, maaf menggangu, dan posting bukan bermaksud justifikasi.

gambar diambil dari  sini

 

 

BODONG! Kebo 1 Suro

Entah datang dari labirin otak yang mana lagu kitaro – Matsuri meliuk-liuk membangkitkan semangatku untuk menyambar kunci motor dan pastinya tidak lupa tangan ku reflek mengambil kaca mata yang tergeletak mentah-mentah di meja makanku, ku lihat  Sang Waktu sudah membentuk sudut 30 derajat dari pukul 00.00. Sepanjang jalan Adi Sucipto membujur ke timur yang diujung jalan kita bisa melihat betapa indahnya kota Solo di malam hari, di sekitar stadion Manahan berjajar membentuk barisan yang siap menyejukan pejalan kaki di siang hari Casuaraina equsetifolia (cemara). Namun pada malam hari seiring senyapnya kota Solo, tempat ini menjadi rumah yang nyaman dengan kasur yang empuk bagi para raja jalanan gelandangan.

Lagu Kitaro mulai meredup ditelinga virtualku. Melaju dengan kecepatan 90 km/jam motor tua jenis Honda yang kutunggangi menyalak-nyalak ditengah sepinya jalan disekitar Jl. AdiSucipto, mengejar ambisiku untuk melihat seekor kebo bersejarah yang sangat tenar di Kota Solo dan Indonesia tentunya yaitu kebo keturunan Kyai Slamet yang keramat, untuk pertama kalinya.  Berkelebat disampingku sebuah kendaraan bermotor dengan plat AD 89… JT sebuah motor JUpiter, sudah jelas motorku tidak ada apa-apanya kalau dibanding dengan Honda jenis terbaru itu, sebenarnya sudah biasa sih aku diperlakukan tidak adil seperti itu, namun ketika kuperhatikan setelah motor itu melaju didepanku, pengendara motor itu, aku hanya berteriak tapi kutahan “wua..” sebilah keris menancap diselendang belakang pria berbelangkon hitam coklat dengan motif batik khas solo, lengkap dengan baju almamater beskap Solo warna hitam , dan dipinggangnya ada selendang pria yang lebih mirip ikat pinggang seperti bling-bling yang lagi ngetrend pada jaman majapahit. Komplit pakaian adat jawa, dengan jarik warna coklat bemotif batik-batik yang indah kalau boleh kubilang dia lebih mirip among tamu ditempat orang punya hajat. “gila orang itu, tapi salut deh buat semangatnya”kataku dibalik helm,  kupikir dia adalah salah satu abdi dalem kraton surakarta hadiningrat, karena orang yang akan mengiringi perjalanan malam si kebo bukan orang sembarangan, melainkan dia harus memenuhi system requirement dan lulus uji sertifikasi kraton dengan ketat, sungguh elegan. Lanjutkan membaca ‘BODONG! Kebo 1 Suro’

Halaman Berikutnya »


Disclaimer

Bukankah semua yang ada didunia ini sudah ada diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, kita tinggal membacanya. Masalah intrepetasi itu benar atau salah adalah urusan kita, bagaimana ketika kita belajar membaca itu. Bagaimana sebelum kita bisa membaca dengan benar, kita juga berpikir dengan benar. Gusti Ora Sare.. Untuk Sebuah Kebaikan yang Lebih besar harus melalui cara yang lebihbaik. Silakan berbincang dengan saya di YM: sigma_aurum
Teman-teman UNS, kita ngeblog yuk!
Photobucket
segala tulisan dan khayalan dalam tulisan ini dilindungi oleh Yang Maha Kuasa, jadi kalau Kopi Paste liat kanan kiri dulu. Kalau tulisanya dimuat di media saya dikasih tahu yak!

 

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Fauzansigma Aurum's Facebook profile

a

proudly present

Add to Technorati Favorites

Subscribe in NewsGator Online

Add to My AOL