BODONG! Kebo 1 Suro

Entah datang dari labirin otak yang mana lagu kitaro – Matsuri meliuk-liuk membangkitkan semangatku untuk menyambar kunci motor dan pastinya tidak lupa tangan ku reflek mengambil kaca mata yang tergeletak mentah-mentah di meja makanku, ku lihat  Sang Waktu sudah membentuk sudut 30 derajat dari pukul 00.00. Sepanjang jalan Adi Sucipto membujur ke timur yang diujung jalan kita bisa melihat betapa indahnya kota Solo di malam hari, di sekitar stadion Manahan berjajar membentuk barisan yang siap menyejukan pejalan kaki di siang hari Casuaraina equsetifolia (cemara). Namun pada malam hari seiring senyapnya kota Solo, tempat ini menjadi rumah yang nyaman dengan kasur yang empuk bagi para raja jalanan gelandangan.

Lagu Kitaro mulai meredup ditelinga virtualku. Melaju dengan kecepatan 90 km/jam motor tua jenis Honda yang kutunggangi menyalak-nyalak ditengah sepinya jalan disekitar Jl. AdiSucipto, mengejar ambisiku untuk melihat seekor kebo bersejarah yang sangat tenar di Kota Solo dan Indonesia tentunya yaitu kebo keturunan Kyai Slamet yang keramat, untuk pertama kalinya.  Berkelebat disampingku sebuah kendaraan bermotor dengan plat AD 89… JT sebuah motor JUpiter, sudah jelas motorku tidak ada apa-apanya kalau dibanding dengan Honda jenis terbaru itu, sebenarnya sudah biasa sih aku diperlakukan tidak adil seperti itu, namun ketika kuperhatikan setelah motor itu melaju didepanku, pengendara motor itu, aku hanya berteriak tapi kutahan “wua..” sebilah keris menancap diselendang belakang pria berbelangkon hitam coklat dengan motif batik khas solo, lengkap dengan baju almamater beskap Solo warna hitam , dan dipinggangnya ada selendang pria yang lebih mirip ikat pinggang seperti bling-bling yang lagi ngetrend pada jaman majapahit. Komplit pakaian adat jawa, dengan jarik warna coklat bemotif batik-batik yang indah kalau boleh kubilang dia lebih mirip among tamu ditempat orang punya hajat. “gila orang itu, tapi salut deh buat semangatnya”kataku dibalik helm,  kupikir dia adalah salah satu abdi dalem kraton surakarta hadiningrat, karena orang yang akan mengiringi perjalanan malam si kebo bukan orang sembarangan, melainkan dia harus memenuhi system requirement dan lulus uji sertifikasi kraton dengan ketat, sungguh elegan.

Semangat untuk melihat kebo dari jarak dekat ini semakin bertambah, adrenalin ku memacu denyut jantung hingga ke ubun-ubun dan dengan rpm yang sudah mentok terus kugeber motorku melalui rel kereta api yang menghubungkan stasiun purwosari dengan Balapan melewati berdusun-dusun pedagang kaki lima yang kebanyakan menjual sea food di Kota barat dan akhirnya melaju ke Jl. Slamet Riyadi. Tepatnya didepan sebuah Mall yang pertama kali menjadi lahan konsumerisme di Solo, tak kuduga bukan kepalang ternyata 500m didepanku sudah menghadang ribuan orang dengan pembuangan gas CO2 yang terakumulasi berlebihan dan satuan polisi yang mengatur jalan, kemacetan lalu lintas yang sudah mulai sering terjadi di Solo kembali terjadi. Memerintahkan sang motor tua untuk berhenti secara otomatis rem tangan tertarik kebelakang oleh jemariku yang tadinya kedinginan di jalanan menjadi penat .

Pemandangan di pinggir jalan dari seorang pengemudi mobil yang mengepulkan asap dari mulutnya didalam mobil yang terlihat bosan, seonggok dagangan pasar berupa krupuk dan karag yang terpaksa menunggu datangnya kebo untuk bisa melanjutkan perjalanan bisnis, sampai-sampai dua orang tolol yang tidak mengerti perkembangan jaman yang berkelahi di pinggir jalan karena salah paham *mabuk mungkin* hingga seorang Bapak tua dengan keriput wajahnya yang sudah tidak ada tempat lagi untuk mendaratkan keringat dengan mulus yang menengok pas tepat depan muka ku dengan memelas mohon ampun untuk kejamnya kemacetan yang diakibatkan oleh ulah si Kebo, yang mengintip dari balik kaca gelap sebuah mobil dengan plat nomer H *Semarang*. Diiringi dengan kerasnya bunyi vespa dari beberapa motor vespa yang dikendarai genk vespa yang nyentrik dan lebih mirip kaleng bekas yang dijatuhkan dari atap rumah, serta debu dan asap dari kepulan kendaraan bermotor. Diperempatan kulihat (lagi) seorang tua kira-kira 55 tahun, yang dengan blangkon dan beskap lengkap namun kali ini memakai warna putih, duduk manis diatas becak beroda tiga yang pengemudinya jauh 10 tahun lebih tua darinya.

 

Setelah bersusah payah mencari jalanan yang agak lengang, akhirnya aku tiba di jalan Yos Sudarso, lokasi bisnis strategis untuk para pengusaha apapun jenisnya, dari toko boneka, toko piercing imitasi yang sangat digemari anak-anak SMP, toko Steak terkenal, Money changer, toko Sinar Terang yang aku pun sudah lupa menjual apa sebenarnya ditoko itu, hingga hotel, toko Batik Danar hadi, bengkel resmi motor-motor negri tirai bambu hingga toko kelontong jualan sampho eceran yang semua berjajar-jajar membentuk sebuah dinding keras seperti tebing yang saling berhadapan dan ditengah-tengahnya ada jalan raya boulevard yang hiruk pikuk penuh sesak oleh ratusan manusia yang berharap berkah dengan melihat kebo *kecuali aku*. Akhirnya aku menemukan tempat juga untuk markir motor tua ini, ditengah jalan Yos Sudarso, di pembatas jalan yang melintang dari selatan ke timur, aku linglung, terlihat sebagai manusia paling konyol disitu, karena aku hanya sendirian dan ditemani motor tua kesayanganku ini, clingak clinguk seperti kipas angin tahun 90an bermerek Nasional, aku berhenti dan berkata pada diriku sendiri “apa yang dicari orang-orang ini?”.

“lha kok dewean tho mas?” dengan tiba-tiba tanya seorang Ibu ibu yang kira-kira sudah punya anak kelas 1 SMP padaku dengan melongo, sambil menenteng plastik hitam kecil yang sepertinya isinya adalah es teh bungkus yang dibeli dua jam yang lalu. “enggih Bu, lha Ibu kalian sinten mawon” tanyaku dengan nada jawa medhok dan dimanis-manisin, sembari kuletakan motorku mepet ke batas jalan itu. “lha niki katah mas, adek kulo, kalian anak-anake, niki si Delon nggih melu-melu niki, lha wong mbake dho tangi pengen ningali Bodong kebrebekan tangi” jawab Ibu itu dengan rinci dan nggak kupahami sama sekali nama-nama itu, ooh rupanya setelah kulihat dia sedang mengajak anak kecil usia 2 tahunan. Tepatnya bernama Delon. Dikepalaku masih tersisa satu nama yang tidak ku kenali, yaitu “Bodong”.  Aku kembali bertanya “kebone nanti lewat sini gak Bu?” dengan bahasa Jawa (selanjutnya akan diceritakan dengan Bhs Indonesia). “wah lha iya jelas mas, jalurnya itu dari dalam kraton ke utara lewat Gladak sampai kantor Telkom, ke timur mentok sampe Sangkrah, ke selatan sampe perempatan sangkrah itu lurus mas, terus sampe perempatan selanjutnya, lalu ke barat, lewat Gading masih bablass, sampi Gemblegan, ke utara lagi, nah nanti Bodong lewat depan kita ini mas” kata iBu itu secara rigid dan dengan Jawa yang jauh lebih medhok dari aku. Nah, terjawab sudah siapakah BODONG sebenarnya, dia adalah satu jenis KEBO yang akan kulihat sebentar lagi. “ooh nama kebonya itu Bodong to Bu? Terus ada beerapa kebo nanti yang bakalan ikut kirab disini Bu?” sambutku dengan polos mengatakan bahwa bodong HANYALAH seekor Kebo yang dipandang miris oleh Ibu itu. “iya mas, nanti itu yang ikut selain Bodong ya anak-anaknya mas, wong anaknya udah banyak kok mas”, timpal Ibu tadi sembari mengalungkan slayer hangat ke tubuh Delon yang kecil mungil dan lucu tadi. “gini mas, kalo Bodong yang keluar Joko Sumringit gak bisa ikut keluar, jadi Cuma Bodong dan anak-anaknya” sahut Ibu yang duduk bersila beralaskan koran yang berada di samping Ibu yang pertama tadi, di balik kaca mata bulat dan berminus lebih dari 7 tersebut dia melihatku dengan agak keheranan “orang aneh” pasti itu yang akan dkatakannya padaku. Satu lagi disebut nama yang sangat asing bagiku, JOKO SUMRINGIT. Siapa gerangan dia? Apakah dia juga sejenis makhluk besar bertanduk seperti BODONG?

BERSAMBUNG…

19 Tanggapan ke “BODONG! Kebo 1 Suro”


  1. 1 mbelgedez Januari 11, 2008 pukul 8:38 am

    Sayah pikir cuman sayah, Orang Nyang Ndak Ada Kerjaan… ternyata situ lebih sablenk lagee, lha wong cuman kebo ajah kok ditonton…. Bodonk tenan !!!

    nyang bodong kebonya, mangsud sayah…. :)

  2. 2 pelangi nurani Januari 11, 2008 pukul 11:04 am

    ooo… begitu to ceritanya… cukup mampu membuat pelangi nurani tertawa dalam hati :) ralat mas, jupiter itu bukan produknya honda loh, tapi yamaha :D

  3. 3 calonorangtenarsedunia Januari 11, 2008 pukul 11:29 am

    aku tiap ke solo pgn nonton kebo bule itu tapi kok ga pernah kesampean..

  4. 4 Sawali Tuhusetya Januari 11, 2008 pukul 1:40 pm

    kebo bodong, ada juga kyai slamet. ada2 saja. asalkan hanya menjadi ritual budaya, bukan terjebak menjadi ritual religi ndak apa2 dilestarikan. tapi kalok dah banyak yang syirik, si bodong dan kyai slamet kudu diwaspadai.
    BTW, mas sigma emang asli solo, yak!

  5. 5 atmo4th Januari 11, 2008 pukul 2:19 pm

    katanya ada yang mandinya hanya satu suro aja ya?
    serem juga, hihihi…

  6. 6 andi bagus Januari 11, 2008 pukul 4:42 pm

    ya emang bodhong si kebo..hehehe

    met taun baru muharram mas..

  7. 7 alle Januari 11, 2008 pukul 6:11 pm

    eerrghh,.. males amat yah liatin kebo

  8. 8 Hoek Soegirang Januari 11, 2008 pukul 6:41 pm

    “JOKO SUMRINGIT. Siapa gerangan dia? Apakah dia juga sejenis makhluk besar bertanduk seperti BODONG?”
    joko sumringit itu saudara dari teman bapaknya pa’de sepupu mertuanya bodong….

  9. 9 undercover Januari 11, 2008 pukul 9:43 pm

    Waduh cerita bersambung iks, saya sih sering denger cerita tentang kebo itu mas. Tapi apa istimewanya si kebo itu sih sebenarnya mas?

  10. 10 Mrs.Neo Fortynine Januari 11, 2008 pukul 10:46 pm

    waiyah! apa emang satu suro identik dengan hal aneh ya?

    di daerahku juga lho… ada perayaan aneh aneh gitu…

  11. 11 otakiphan Januari 12, 2008 pukul 12:03 am

    satu suro saya ndak mau keluar kamar…. semedi. sapa tau dapet pangsit!

  12. 12 antarpulau Januari 12, 2008 pukul 12:50 am

    …tidak lupa tangan ku reflek mengambil kaca mata yang tergeletak mentah-mentah di meja makanku…

    ============
    Yaaaa….
    kaca matanya masih mentah.. jgn dimakan dulu… :)

    =Met taun baru 1429 Hijriah…= :)

  13. 13 aRuL Januari 12, 2008 pukul 12:52 am

    oh gitu yah…
    kebo bodong :)

  14. 14 landy Januari 12, 2008 pukul 1:45 pm

    ehmmm senyum , sambil tunggu sambungannya

  15. 15 hendrat Januari 12, 2008 pukul 11:44 pm

    hehehehe…
    apa udele si Kebobener2 bodhong ya mas… :)
    seep! lanjut…
    [wait mode: ON]

  16. 16 Abeeayang™ Januari 13, 2008 pukul 2:50 am

    udele bodong yaks… :lol:

  17. 17 jagal Januari 14, 2008 pukul 4:05 pm

    wis wis wis rasah kesuen nonton kebo ne….!
    kang nek wani kebone di jak balapan karo motor mu wae ……
    mesti ish luwih banter kebo ne
    yuk yes

  18. 18 febriantoeko Januari 28, 2008 pukul 10:33 pm

    bos salam kenal dari solo, bos gimana cara buat blog ada asesoris kaya punya km , aku ada blog http://www.febriantoeko.wordpress.com

  19. 19 tjah solo Desember 26, 2008 pukul 11:57 am

    Wah pelecehan tuch mbelgedez….

    Tu kebo punya makna sendiri…

    Lambang dari kemakmuran….

    Situ aja yang gak mampu berpiir secara logika dan adat…

    Mbelgedez tenandth….


Tinggalkan Balasan




Disclaimer

Bukankah semua yang ada didunia ini sudah ada diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, kita tinggal membacanya. Masalah intrepetasi itu benar atau salah adalah urusan kita, bagaimana ketika kita belajar membaca itu. Bagaimana sebelum kita bisa membaca dengan benar, kita juga berpikir dengan benar. Gusti Ora Sare.. Untuk Sebuah Kebaikan yang Lebih besar harus melalui cara yang lebihbaik. Silakan berbincang dengan saya di YM: sigma_aurum
Teman-teman UNS, kita ngeblog yuk!
Photobucket
segala tulisan dan khayalan dalam tulisan ini dilindungi oleh Yang Maha Kuasa, jadi kalau Kopi Paste liat kanan kiri dulu. Kalau tulisanya dimuat di media saya dikasih tahu yak!

 

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Fauzansigma Aurum's Facebook profile

a

proudly present

Add to Technorati Favorites

Subscribe in NewsGator Online

Add to My AOL