kembali ke habitat

Terdengar langkah-langkah cepat seseorang sedang menaiki tangga, ke lantai dua gedung bersejarah ini. Mengintip dengan cara memunculkan separuh wajah berkeringatnya, dan kemudian seraya meloncat kegirangan dia memeluk ku lalu menjabat tanganku erat-erat yang sedang duduk bersila beralaskan karpet hijau diantara tumpukan kertas-kertas artikel yang berantakan. “mas balik ke habitat lagi nih?!” kata nya padaku dengan penuh semangat dan dari matanya muncul gelombang elektromagnetik yang memancarkan aliran adrenalin yang tinggi, menandakan semangatnya yang sedang meledak-ledak. Anak Fakultas Hukum angkatan 2005 itu sudah beberapa kali menyusuri jalan dan belajar di Universitas Kehidupan bersama ku.

Tidak terasa hari ini aku kembali ke tempat yang sama tempat yang pernah membawa ku menemui berbagai kesempatan belajar simulasi kehidupan nyata, saat itu aku hanya anak ingusan dari desa yang agak norak dan kemaki tapi kebetulan masuk ke Universitas yang saat ini sangat kubanggakan, aku sangat bersyukur telah mendapat kesempatan belajar, masih terlalu banyak untuk dihitung anak bangsa yang terjajah dengan kebutaan akan ilmu dan pendidikan, masih terlalu naif untuk berkata bangsa kita sudah adalah bangsa berpendidikan sementara moralitas putra bangsa masih dipertanyakan kualitasnya.

Di tempat ini aku diajarkan bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa yang berguna untuk bangsa, negara dan agama, bagaimana harus berpikir strategis, tidak apatis terhadap anomali-anomali kehidupan yang memberikan pelajaran sebagai bekal menuju cakrawala ilmu. Disini aku menemukan warna-warni kehidupan yang benar-benar nyata, kadang gila, dan mengharuskan kita bersikap gila karena kalau kita tidak ikutan gila bisa tergerus zaman. well, semua itu ku sebut dengan realita, mozaik-mozaik realita yang tersusun dalam satu lembaran papyrus kehidupan, menjadi peta untuk menempuh jalan selanjutnya kawan.

Disini akan ku buka lembaran-lembaran kertas putih yang akan ku tulis dan kuhiasi berbagai macam anekdot, karikatur, namun kadang akan muncul berbagai macam ancaman entah datang dari dalam maupun dari luar. Disini aku dan staf-staf ku akan membawa roda kehidupan ini menjadi sesuatu yang monumental, ya.. harus monumental seperti sebelumnya. lembaran ini akan menjadi saksi bisu yang berbicara saat aku diadili di sebuah pengadilan paling adil sejagat nantinya. amanah almamater yang berada dipunggungku dan semua kawan ku yang ada ditempat ini, pada saat ini, kami hanya mencoba untuk berkarya, harapan antara hidup dan mati yang menjadi kosekuensi logis layaknya sebuah peperangan melawan kebatilan telah dikibarkan dalam panji-panji idealisme yang selalu kami teriakan.

Semoga di blog ini pun selanjutnya bisa kutuliskan banyak hal tentang perjalanan dalam lembaran-lembaran kertas yang di amanahkan kepadaku.

huwaaa!!  namun disetiap lembaran yang akan menyusun cerita panjang tersebut akan ku temukan cerita-cerita ilmiah yang mengiringi pembuatan mahakarya akhir seorang mahasiswa skripsi.

aku hanya bisa tertunduk padaMU,  tidak pernah bisa dan tidak akan pernah berani mendahului takdir Mu, manusia sepertiku hanya bisa berusaha, Ya Rabb semua akan berawal dan kembali kepadaMu..

*maafkan aku “sang waktu” setelah satu minggu tidak mengUpdatemu aku merasa bersalah, namun memang segala sesuatu yang terjadi dalam labirin-labirin otak ku dan setiap sel dalam otak ku menolak untuk menuliskannya di tinta maya mu*

21 Tanggapan ke “kembali ke habitat”


  1. 1 Santi Februari 4, 2008 pukul 8:39 am

    kok saya jadi terharu biru ya baca posting yang ini? :|

  2. 2 aRya Februari 4, 2008 pukul 10:35 am

    hiks…….
    bagi tisu dunk

  3. 3 sawali Februari 4, 2008 pukul 11:49 am

    satu minggu ndak ngupdate? walah, ndak usah disesali, mas sigma. ngeblog itu ndak ada habisnya. ada banyak tugas dan kesibukan lain yang juga butuh sentuhan perhatian kita. ngeblog bisa dilakukan kapan pun kita mau. isinya pun bisa beragam. cerita harian, curhat, artikel, berita keluarga, kampus, bahkan hingga tulisan2 ilmiah sekalipun. blog itu kayaknya seperti samudra. bisa menampun apa saja, tanpa pernah merasa mengeluh, hehehehehe :lol:

  4. 4 adit-nya niez Februari 4, 2008 pukul 11:51 am

    Semangat bung!! :mrgreen:

  5. 5 atmo4th Februari 4, 2008 pukul 3:32 pm

    musim back to kampus nih,,

    bisa gila…

  6. 6 Sonia Februari 4, 2008 pukul 5:54 pm

    Hm… memang sudah saatnya kembali ke realita, Sig…
    selamat mengarungi perjalanan yang tak jamin TIDAK AKAN MEMBOSANKAN selama antum mau membuatnya ‘BERKESAN’ seumur hidup. selamat bergabung kembali….
    bersatu, Tuntaskan perubahan. Hidup Mahasiswa!

  7. 7 zakiyah umami Februari 5, 2008 pukul 8:29 am

    aku suka gaya bahasa serta isi dari tulisan ini. idealis mungkin dibalik dari HOPE si penulis. Idealis adalah karakter khusus yang dimiliki kita ketika masih mahasiswa. Aku menyadari sekali itu, namun idelisme itu akan surut seiring kepentingan dan keadaan. Mudah2an aja itu gak terjadi dengan kita sebagai hamba ALLAH.
    Siip lah buat sang penulis.

  8. 8 verlita Februari 5, 2008 pukul 10:27 am

    hiks hiks

  9. 9 pelangi nurani Februari 5, 2008 pukul 12:41 pm

    ehm, kurasa tas ranselmu itu tak seberat amanah yang sedang kau pikul saat ini :D keep spirit!

  10. 10 raddtuww tebbu Februari 5, 2008 pukul 1:27 pm

    ayo semangat!!!

  11. 11 Vandy Februari 5, 2008 pukul 3:23 pm

    Comment Duluan, baca kedua

  12. 12 indrapamungkas Februari 5, 2008 pukul 5:36 pm

    balik kampus lagi, . .ternyata tidak hanya saya, . haaa, . .smangat2, . .

  13. 13 fauzansigma Februari 6, 2008 pukul 2:19 am

    @ santi: lho ini bukan postingan haru lho..
    @ arya: tisu buat apaan Bung? hiks…hiks..nih..
    @ adietnya niez: semangat juga bung!
    @ atmo4th: back to realita yah..
    @ sonia: itu sdh menjadi kewajiban Bu, iya insya Allah semua akan saya jalani dgn ikhlas dan tentu saja ga pernah berubah, sejak pertama berada di gedung itu, tetep semangat!
    @ zakiyah umami: well, semua ada wktu yg menentukan antara kembali nya realita dan masa idealisme… dalam arti luas ya
    @ verlita: sudahlah…jgn nagis
    @ pelangi nurani: “humm”nya udah ilang.. iya renselnya ga ada apa2nya
    @ raddtuww tebbu: pasti semangat!
    @ vandy: mana comentnya?
    @ indrapamungkas:wah lha km gmn?

  14. 14 antarpulau Februari 6, 2008 pukul 2:30 am

    “…..Di tempat ini aku diajarkan bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa yang berguna untuk bangsa, negara dan agama……..”

    itu dia…. :)
    baru bener…. :) *jempol*
    jangan kuliah cuma dengan niat dapet ijazah aja yak… hehe… :mrgreen:

    bangsa… negara… agama… »»» terasa merdu di telinga saya…. :)

  15. 15 cK Februari 6, 2008 pukul 2:00 pm

    tetep nulis yaaa… :D

  16. 16 fauzansigma Februari 7, 2008 pukul 12:27 pm

    @ antarpulau: iya pak doakan saja smua mahasiswa disadarkan agar kuliah ga cm cari ijazah doank
    @ ck: iya BU, ntar isinya ya malah seputr ituh

  17. 17 undercover Februari 7, 2008 pukul 5:57 pm

    Kalau dulu saya punya semangat juga idealisme seperti mas sigma, tentu sekarang saya sudah ongkang-ongkang. He..
    Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain tentu sangat bijak juga jika mas sigma bisa tanamkan dalam hati. Tapi saya sih percaya sama mas sigma, karena jelas mas sigma jauh lebih baik dari saya diwaktu lalu.

  18. 18 goyangan Februari 7, 2008 pukul 9:41 pm

    ternyata mahasiswa harapan bangsa…saya kira penyanyi dangdut… :D

  19. 19 Freddy Hernawan Februari 7, 2008 pukul 11:41 pm

    gile.. malam malam ngasih komentar nya :)

  20. 20 ayaelectro Februari 8, 2008 pukul 10:34 pm

    wah mahasiswa yang baik. hehe, kalo gw mah jadi pelajar yang setia untuk tertidur pada suatu mata pelajaran(geografi, gurunya masuk sekelas tidur. hehe)

  21. 21 Sonia April 17, 2008 pukul 10:47 pm

    sudah hampir 2 bulan lebih amanah di sini. kadang, ada rasa ragu, sanggupkah menuntaskan amanah ini, sama ketika menuntaskan amanah2 sebelum ini? saat ini yang tak alami adalah : penat, berat, dan ujungnya sama sekali buram. bahkan hitam pekat!!! kalo sigma??
    barangkali sigma lebih bisa menutupinya dan mengemasnya menjadi tdk nampak, tertutupi dengan kegilaan-kegilaannya. tapi sonia? yah mencoba tetap bijak, tapi kok, berat juga ya…?
    sebenarnya, ada apa ya sig? apa yang salah?
    sistem kita? manajemen kita? ataukah memang kitanya yg belum siap utk menjadi ‘penggerak’?
    atau, pantaskah kita tumpukan beban ini kepada pemimpin kita itu?

    sig, segera cari solusi yuk. kita harus segera keluar dari ‘kuburan’ itu. kita harus kembali menemukan ‘porsima’ yg sudah mewarnai kita dulu. jgn biarkan staf2mu, adek2 ku, tidak merasakan seperti yang kita rasakan dulu. OK?! semangat, pak mendagri BEM UNS 2008!!!!!!!


Tinggalkan Balasan




Disclaimer

Bukankah semua yang ada didunia ini sudah ada diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, kita tinggal membacanya. Masalah intrepetasi itu benar atau salah adalah urusan kita, bagaimana ketika kita belajar membaca itu. Bagaimana sebelum kita bisa membaca dengan benar, kita juga berpikir dengan benar. Gusti Ora Sare.. Untuk Sebuah Kebaikan yang Lebih besar harus melalui cara yang lebihbaik. Silakan berbincang dengan saya di YM: sigma_aurum
Teman-teman UNS, kita ngeblog yuk!
Photobucket
segala tulisan dan khayalan dalam tulisan ini dilindungi oleh Yang Maha Kuasa, jadi kalau Kopi Paste liat kanan kiri dulu. Kalau tulisanya dimuat di media saya dikasih tahu yak!

 

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Fauzansigma Aurum's Facebook profile

a

proudly present

Add to Technorati Favorites

Subscribe in NewsGator Online

Add to My AOL