Pembicaraan Kalangan Bawah

Kembali ke wedangan yang sama dengan bau khas wedangan yang sepertinya belum akan punah sepuluh tahun kedepan, melalui salah satu pintu sempit yang hanya cukup di lalui satu orang aku masuk dan memilih tempat duduk diatas dingklik sepanjang 1,5 m. Di depanku hanya tersisa beberapa buah menu makanan, “wah, udah telat nih pak saya, udah pada habis semua gini, tinggal tahu tempe, dan telor tusuk satu” kataku pada penjual itu. “iyo mas wis entek-entekan iki” dengan logat jawa kasar khas pak Thukul penjual hik (wedangan, red). HIK, kebanyakan orang Solo dan sebagian Jogja menyebut untuk wedangan jenis angkringan kecil bertenda biru atau orange dipinggiran jalan yang merupakan kepanjangan dari Hidangan Istimewa Kampung (HIK), yang spelling nya lebih tepat seperti He’ mirip e mati pada sobek tapi di akhiri dengan alif, bukan kaf  kalau dalam bahasa arab.

Dengan suasana kekeluargaan ala bapak-bapak kampung  yang bercanda konyol masalah arisan RT bapak2, nongkrong, melek bengi , main kartu sampai larut hingga masalah politik yang dibicarakan sangat subjektif dan awam. Tiba-tiba ada seorang pembeli dari kalangan bapak-bapak tersebut dengan cara jawa ijin pamit duluan “wah iki kudu mulih disik iki” yang kemudian ditanggapi oleh temanya yang duduk disisi meja hik samping dengan sedikit mengepulkan asap rokok yang dihisapnya “lha ngopo arep mulih cepet2? wis ora duwe duit , tanggal tuwo ngene?” dijawab juga oleh bapak yang akan pulang tadi seraya berdiri dan senyum yang mengembang aneh, karena dihiasi oleh gigi ompong ditengahnya berkata ” Ora, iki arep ngeloni anak ku wis wengi”

” halah ngeloni anak opo anak, bar ngeloni anake trus ngeloni sing ngopeni anak”sambil tertawa cekakakan keras yang bisa membangunkan orang yang sedang mimpi jadi presiden sekalipun. Aku hanya tertawa kecil sambil terus melahap menu makanan ala kampung namun nikmat bukan main ini. ” ora… tapi ngeloni anak sing gede.. hahaha” di jawab spontan oleh pak ompong tadi dengan tawa riang pada kawan-kawan sejawatnya.

ku pikir, hal dan pemikiran yang sederhana seperti itulah yang terjadi di masyarakat kita secara umum, di kalangan akar rumput, dikalangan masyarakat bawah yang mengisi bola dunia Indonesia ini lebih dari 50 % nya. Konteks berpikir yang sangat – sangat sederhana namun sepertinya sudah sistemik di lingkup sosial.

Belum lagi disamping warung itu ada Ibu-ibu yang sepertinya istri si penjual HIK itu sedang menonton Tivi dipelataran terbuka dengan tivi ukuran mini hitam putih dengan santainya, dengan anaknya yang masih SD kira-kira kelas 5 an.Termakan iklan seluler yang sedang perang tarif, termakan serial sinetron yang serasa memanjakan mereka dalam mimpi-mimpi buta, termakan gaya hedonisme ala Jakarta dengan mobil mobil mewah yang dipakai untuk syuting film itu, termakan gaya berpakaian si pambawa acara gosip selebriti, dan berbagai macam doktrin sistemik ala media televisi sekarang.

Masih ku nikmati teh hangat yang di permukaanya mengepul asap tipis menandakan panasnya dan nikmatnya rasa teh hangat pak Tukul itu aku mendengar closing statement bapak ompong tadi “wah iyo, iki filme Aisyah yo, wah Aisyah sik bar iki”.  Well, ternyata bapak-bapak pun termakan sinetron.

disclaimer: postingan agak ruwet setelah mengalami serial kehidupan nyata di atmosfer nyata

11 Tanggapan ke “Pembicaraan Kalangan Bawah”


  1. 1 goop Februari 26, 2008 pukul 9:18 am

    Kapan ngajak saya nih??
    :lol:

  2. 2 teknokrat88 Februari 26, 2008 pukul 12:17 pm

    aku baru bikin blog. bantuin aku ya. banyak pertanyaan nih. buka blog aku ya

  3. 3 verlita Februari 26, 2008 pukul 1:21 pm

    emang kayak kita…??? kerjaan mulu yg diomongin :|

  4. 4 isnuansa Februari 26, 2008 pukul 3:06 pm

    hehe.. meh ngeloni anak opo meh ngeloni sing momong anak?

  5. 5 Ina Februari 26, 2008 pukul 5:30 pm

    makan-makan kok nga ngajak2 saya sech?
    :(
    pokoknya kl ke solo saya minta ditraktir sepuanya.
    *mekso

  6. 6 pelangi nurani Februari 26, 2008 pukul 7:21 pm

    HIK… beda yah dengan hiks… dan hikz… ?

  7. 7 deteksi Februari 26, 2008 pukul 7:57 pm

    justru mereka mampu merasakan kedamaian dan kebahagiaan..

    Maaf, penggunaan kata ‘kalangan bawah’ ini saya rasa kurang tepat. Seperti sudah tau derajat manusia

  8. 8 fauzansigma Februari 26, 2008 pukul 10:08 pm

    @ mas goop:lha kapan bs ke solo nih mas?
    @ teknokrat88: lha url blog nya mana mas?
    @ verlita: iyah, makanya itu sy sbnernya pengen sedamai mereka.
    @ isnuansa: … no coment deh, urusan org tua ituh
    @ Ina: ya udah ke solo kapan hubungi aja.
    @ pelangi nurani: klo yg hiks, ato hikz itu buat para wanita biasanya…hehe
    @ deteksi: yup itu yg saya ingin sampaikan bung, knp sy pilih kata kalangan bawah krn memang benar, sy tidak menjustifikasi bahwa mereka scr derajat sosial rendah, tp kalangan mrk itulah yg sangat sangat jarang di dengar oleh publik.

  9. 9 daeng limpo Februari 26, 2008 pukul 11:46 pm

    dunia instan melahirkan mie instan dan manusia instan

  10. 10 Nin Februari 29, 2008 pukul 6:03 am

    Baru tahu ya kalo bapak-bapak juga sinetron….
    Apalagi Bapak-Bapak zaman sekarang… kurang kerjaan soalnya

  11. 11 rozyee Maret 15, 2008 pukul 4:19 am

    Hahahaha…
    ternyata, kayak di desaku ya…


Tinggalkan Balasan




Disclaimer

Bukankah semua yang ada didunia ini sudah ada diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, kita tinggal membacanya. Masalah intrepetasi itu benar atau salah adalah urusan kita, bagaimana ketika kita belajar membaca itu. Bagaimana sebelum kita bisa membaca dengan benar, kita juga berpikir dengan benar. Gusti Ora Sare.. Untuk Sebuah Kebaikan yang Lebih besar harus melalui cara yang lebihbaik. Silakan berbincang dengan saya di YM: sigma_aurum
Teman-teman UNS, kita ngeblog yuk!
Photobucket
segala tulisan dan khayalan dalam tulisan ini dilindungi oleh Yang Maha Kuasa, jadi kalau Kopi Paste liat kanan kiri dulu. Kalau tulisanya dimuat di media saya dikasih tahu yak!

 

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Fauzansigma Aurum's Facebook profile

a

proudly present

Add to Technorati Favorites

Subscribe in NewsGator Online

Add to My AOL