Kecewa Ku Kau Dia dan Mereka

Serasa disayat kalau mengingat banyak hal yang terjadi belakangan ini. Semua membuktikan bahwa kita adalah manusia yang tidak pernah bisa lepas dari permasalahan, sedikit pun! “Kau tahu, dimana tempat yang sama sekali tidak akan kau temukan permasalahan di dunia ini Bro?” tanya seorang kawan kepadaku. “Dimana tempat itu?”… “Dibelakang kampus UNS itu masih banyak lahan kosong, untuk kau buat kuburanmu!”

Mati. Kupikir, selama ini hanya orang mati yang merasa sangat nyaman untuk menghindar dari permasalahan duniawi. Banyak hal terjadi pada saat bersamaan, bahkan dua hal yang saling berlawanan sekalipun. Antara kekecewaan dan kebanggaan akan suatu hal. Antara kebahagiaan dan kesedihan. Antara menghampiri dan meninggalkan.

Teringat tentang meninggalkan, saat ini aku dan sahabat-sahabat ku akan meninggalkan sesuatu yang sangat besar dan berat untuk dilepas. Tapi kata mereka “Kita akan meniggalkan apa untuk Adik-adik kita?”. terjadi pada saat yang sama, terasa semua itu akan lepas dan kita bebas, benar-benar tidak akan lagi bisa berada disana untuk kembali menorehkan kata-kata di atas batu pualam untuk dikenang sebagai sejarah! Namun terlanjur kecewa, seharusnya kita bisa meninggalkan semua hal saat ini, untuk suatu kebaikan yang lebih besar!

Aku pernah berdoa, agar suatu saat akan ada yang meningatkan kami akan sebuah substansi. Dalam doaku pun aku menyerahkan diriku, seandainya jalan itu harus ditunjukan melalui diriku dan membuatku menjadi seorang yang harus dikorbankan untuk kebaikan yang lebih besar, aku menerima dengan tulus. Iya, bagaimanapun harus ada yang menjadi korban, harus ada yang menjadi penghantar pesan pada saat perang, dan dia siap mati.

Semua berawal dari sebuah kegelisahan, aku hanya berdiskusi dengan sepi yang setiap kata-katanya memekakan telingaku, setiap malam demi malam kulalui dengan berdiskusi dengan sepi. Sekali waktu aku berdiskusi dengan malam, namun ketika siang datang semua menjadi kabur. Aku mencari jawaban. Tapi yang kudapat adalah pertanyaan.

Ambruk, luluh lantah, semua akan terjadi kalau terus seperti ini. Tidak akan ada lagi bangunan mahadahsyat yang reputasinya sempurna. apakah ini adalah awal dari keruntuhan itu kawan? apakah ini awal dari sebuah kemandekan perjuangan? terhenti dengan hegemoni opini tentang siapa Sang Pemimpin yang berani dan bisa.

Padahal diluar sana, setiap jengkal jalanan yang liar telah menunggu macan-macan yang berani dan tahu apa yang seharusnya dilakukan sebagai macan! Bukan domba-domba yang hanya akan mengembik ketakutan dan kembali pada gembalanya. Diluar masih sangat panjang jalan pembebasan itu. Masih banyak orang-orang dirampas haknya.

Perjuangan itu sempurna! Perjuangan itu haqiqi, tanpa mengaharapkan balas jasa. Ini adalah sebuah perjuangan pembebasan, bukan olok-olok sekumpulan remaja yang manja yang memilih jalan yang aman dan semua akan berjalan lancar sesuai keinginan. Bukan, ini adalah sebuah perjuangan yang haus darah. Ini adalah janji darah juang itu kawan. Bahkan ini akan memaksa kita untuk siap menuai kesakitan saat udara dingin tiba menusuk tulang-tulang kita. Waktu mu, raga mu, jiwa mu, sedikit materi mu, jalan mu telah kau persembahkan untuk ini kawan tapi semua nya akan sia-sia kalau kau hanya diam menunggu jalanan aman.

Kelak suatu saat aku yakin, rakyat akan tahu, siapa sebenarnya yang membela mereka.

Dan tulisan ini kutujukan pada diriku sendiri dan yang merasa.

21 Tanggapan ke “Kecewa Ku Kau Dia dan Mereka”


  1. 1 fauzansigma Agustus 6, 2008 pukul 1:14 pm

    selamat pagi, siang, sore, dan malam sodara-sodara penghuni alam maya.. maafkan atas kelancangan sy, kalau selama ini tidak pernah membalas komen2 dan tidak blogwalking, semoga bulan-bulan depan sudah bisa beraktifitas seperti biasa lagi. doakan.

  2. 2 abiyasa Agustus 6, 2008 pukul 1:28 pm

    perjuangan sungguh-sungguh itu butuh pengorbanan jiwa dan harta. tentu itu ..

  3. 3 aRuL Agustus 6, 2008 pukul 1:35 pm

    ada apa nih?
    kadang seorang aksi pahlawan tidka terlihat kasat mata, tapi akan tetap dikenang sepanjang masa :)

  4. 4 Sawali Tuhusetya Agustus 6, 2008 pukul 10:48 pm

    “hidup adalah perjuangan”, begitulah idiom yang sering kita dengar, mas sigma. ini mengingatkan kita agar hidup kita menjadi lebih dinamis, selalu proaktif, dan tidak hanya sekadar menunggu keberuntungan yang jatuh dari langit. apalagi ini sudah memasuki agustus. nilai2 perjuangan para pendahulu negeri ini agaknya perlu kita apresiasi dan kita gali ulang agar benar2 mampu menjadi sumber inspirasi dan menyatu dalam ruh perjuangan generasi muda masa kini. selamat berjuang, mas sigma!

  5. 5 ndop Agustus 7, 2008 pukul 2:04 am

    dinikmati aja yang sudah ada…

  6. 6 tukangobatbersahaja Agustus 7, 2008 pukul 4:03 pm

    saya juga merasakan…
    dengan adanya masalah baru berarti kita sudah naik kelas :)

  7. 7 Nunik Agustus 7, 2008 pukul 8:46 pm

    Lelah,tp nikmat sig.. Spt jdul blog sy, “nikmati hdup dgn sgala konsekuensi nya”

  8. 8 Nunik Agustus 7, 2008 pukul 8:49 pm

    Sedih,senang, bhagia, suka,duka,menangs, trtawa adl bag kcl dr konsekuensi hdup. Saatny brgerak! Bnyk yg hrs dadvokasi. Ketidakadilan trjd dpn mata. I’m waiting for u! Okey,let’s do it! GO! mrka msh mbtuhkn qt.

  9. 9 agus cuprit Agustus 8, 2008 pukul 5:31 pm

    bro, jangan pernah menyerah..saya yakin sigma sekarang dah lebih dewasa. Saya yakin setiap perjuangan pasti ada pengorbanan. Berkorbanlah dengan segenap jiwa-ragamu hanya untuk Allah SWT. tak ada nilai yang lebih berharga daripada balasan Surga bukan?

    HIDUP MAHASISWA!!!

  10. 10 agus cuprit Agustus 8, 2008 pukul 5:37 pm

    jadi teringat masa-masa dimana kmu masih baru…saat itu pun sama…saya juga berpikir: apa yang bisa kami bagikan pada kalian?!

  11. 11 Sonia Atika Agustus 9, 2008 pukul 12:18 pm

    Arti sebuah pengorbanan.. apa sih? berkorban itu identik dengan mengorbankan seseorang, atau lari, atau menghilang saja ya?
    bagi saya TIDAK. pengorbanan itu, adalah berusaha semampu yang kita bisa, sebatas kemampuan kita agar jangan sampai ada orang lain yang juga harus menjalani seperti kita. itu pengorbanan. meski sakit, capek,.. itu resiko perjuangan.
    tapi saya sempat berpikiran ‘ah.. pasti sangat menyenangkan kalau tidak sendiri, atau segelintir orang saja. saya menanti mereka untuk berjuang bersama. memaknai perjuangan dengan pengertian yang sama.’
    tapi.. ternyata mereka menyerah. payah. sayang sekali.

  12. 12 h4nn4 Agustus 9, 2008 pukul 11:35 pm

    Adik, lama tak bersua. Ada apakah? Kok jadi jenggotan? Hehehe…

    Adik, bila ada yang menganggap ini adalah cerita domba yang mengembik ketakutan maka masih ada yang patut dibanggakan. Dalam dunia dogeng domba ialah lambang kedamaian. Ada sebuah kisah, seekor domba mengembik sambil menegadahkan kepalanya ke langit. Apa yang terjadi? Hujan segera turun setelah kemarau yang panjang. Hujan memberikan kehidupan. Melegakan tanah yang dahaga.

    Domba juga lambang ketakwaan. Meski domba mengembik ketakutan bukankah masih ada dahi dan tanduk yang bisa dipakai untuk menyeruduk. Hihihi…!

    Semangatlah. Bukankah adikku ini selalu ceria? Nah, selamat berjuang!!!

  13. 13 hidayat Agustus 10, 2008 pukul 6:34 am

    wah lagi gundah gelisah ya…hmmm.salam kenal

  14. 14 Z..... Agustus 11, 2008 pukul 1:29 pm

    Hummmmmmmm……..
    mas pasti bisa!

  15. 15 achoey sang khilaf Agustus 12, 2008 pukul 5:06 pm

    pilih politisi bersih
    pilih politis yang peduli pada rakyatnya!

  16. 16 Rita Agustus 14, 2008 pukul 8:05 pm

    kiqkiqkiq tuk paragraf pertama….
    Amien atas doanya…..
    TAu pembela yg sebenarnya??, pasti, pasti :D

  17. 17 srondeng asli Agustus 17, 2008 pukul 4:45 pm

    manusia akan terus berproses. kecil, muda, dewasa, dan mati. dari yang tidak tahu menjadi tahu. dari yang tahu menjadi paham dan seterusnya. tidak ada yang sempurna. semoga kita terus bertahan dan tetap bertahan dalam langkah perjuangan ini. biarkan kita bangga menghadap kepada tuhan dengan derita kecewa hati kita. biar Tuhan yang akan memberi nilai segala sesuatunya.

  18. 18 Sonia Agustus 20, 2008 pukul 1:14 am

    Sig, baguslah.. ternyata sigma bukan jd bagian yg menyerah.. baguslah.. intinya, saya senang. bertahan, bertahan. tinggal sebentar.tak seberapa lama dari perjuangan kita selanjutnya. Ini semua BELUM APA-APA SIGMA!

  19. 19 undercover Agustus 20, 2008 pukul 5:51 pm

    Soal mati, rupanya bukan penyelesain, buktinya semua orang takut mati.
    Soal berusaha, rupanya juga bukan cuma untuk didiskusikan dan dibincangkan namun kita harus beranjak melakukan.

    Semoga tulisan mas Sigma bisa menjadi spirit juga inspirasi…

  20. 20 Silo September 10, 2008 pukul 6:04 am

    jangan takut mati, tapi juga jangan sekali-kali takut untuk hidup. Hidup lebih baik dari mati jika bisa memanfaatkannya…
    Tapi kalau mati Syahid dalam berjuang OK dah..


Tinggalkan Balasan




Disclaimer

Bukankah semua yang ada didunia ini sudah ada diciptakan oleh Yang Maha Pencipta, kita tinggal membacanya. Masalah intrepetasi itu benar atau salah adalah urusan kita, bagaimana ketika kita belajar membaca itu. Bagaimana sebelum kita bisa membaca dengan benar, kita juga berpikir dengan benar. Gusti Ora Sare.. Untuk Sebuah Kebaikan yang Lebih besar harus melalui cara yang lebihbaik. Silakan berbincang dengan saya di YM: sigma_aurum
Teman-teman UNS, kita ngeblog yuk!
Photobucket
segala tulisan dan khayalan dalam tulisan ini dilindungi oleh Yang Maha Kuasa, jadi kalau Kopi Paste liat kanan kiri dulu. Kalau tulisanya dimuat di media saya dikasih tahu yak!

 

Agustus 2008
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Fauzansigma Aurum's Facebook profile

a

proudly present

Add to Technorati Favorites

Subscribe in NewsGator Online

Add to My AOL