Kepada Ibu yang padanya aku berhutang cinta yang tak pernah terbayar lunas sampai mati sekalipun, kepada Ibu yang dalam setiap doanya senantiasa kudengar namaku disebut, kepada Ibu yang tidak pernah lelah untuk menyayangiku. Untuk Ibu yang selalu menangis ketika aku sakit, kepada Ibu yang telah membawaku kemana-mana dalam 9 bulan ditiupkan rohku dirahimnya. Kepada Ibu yang sering aku sakiti hatinya namun tak pernah sekalipun mengeluh dan berkata-kata kasar padaku, kepada Ibu yang selalu menentramkan jiwa ku disaat semua cahaya telah padam, kepada Ibu yang jauh disana namun selalu memelukku hangat dalam doanya.
Kepada Ibu yang tersenyum dan menangis bahagia ketika melihat dan mendengar tangis pertamaku di dunia ini, pada 21 Oktober beberapa tahun yang lalu. Kepada Ibu yang mengajarkan ku kesederhanaan dan kesempurnaan hidup dengan kesederhanaan itu, untuk Ibu yang mengajarkan berbagai macam ilmu, untuk Ibu yang selalu mengajarkanku menggunakan mata hati, untuk Ibu yang mengajarkanku ikhlas menerima berbagai macam keadaan.
Untuk Ibu yang pernah merasakan pahit getirnya membesarkan anak laki-laki bandel sendirian, dengan segala keterbatasan dengan segala himpitan namun semua dilawan dengan Cintanya. Yah, dia sangat mencintaiku, namun aku selalu lupa.
Ibu, saat ini anakmu telah menjadi manusia dewasa *insya Allah*. Saat ini anakmu telah kau besarkan dan mengerti bagaimana kebenaran itu ditegakkan, bagaimana mencari sebuah hakikat tentang kebenaran, bagaimana harus bersikap tegar dengan segala deraan. Bagaimana memegang prinsip yang telah Ibu ajarkan kepada ku.
Ibu telah memberiku kesempatan untuk menjadi seorang manusia luar biasa, walaupun hidup kadang susah, namun Ibu selalu menyekolahkanku di tempat-tempat yang luar biasa, dan disana aku bisa belajar banyak hal Bu. Di antara teman-temanku dan keseharian Ibu selalu mengajariku suatu pelajaran bagaimana menggunakan hati nurani yang jarang bisa di dapatkan di sekolah-sekolah jaman sekarang.
Bu, ijinkanlah anakmu ini memilih jalan hidup ini Bu, anakmu ini memilih jalan hidup kesempurnaan dengan kesederhanaan, seperti Rasulullah, yang hidup sederhana namun setiap langkah hidupnya dipenuhi dengan barokah dan memberi inspirasi untuk setiap orang. Karena tidak ada lagi figur pemimpin di bangsa kita ini yang hidup seperti Rasulullah Bu, semua hanya mementingkan simbol-simbol kekayaan materi tanpa tahu batasan. Padahal yang diajarkan Ibu adalah bagaimana kita menerima segala sesuatu dengan apa adanya, itu adalah konsep bersyukur yang aku dapatkan dari Ibu. Lanjutkan membaca ‘Cintanya Tanpa Syarat’












Kata Mereka