Penuh sesak jalan utama Kota kecil itu, namun kali ini lain. Bukan karena kesibukan aktifitas masyarakat pekerjanya, tapi mereka adalah seluruh masyarakat dari berbagai pelosok kota, bahkan mungkin ada yang dari luar kota yang sedang merayakan hari kemenangan. Hingga saat ini pun kumandang Takbir masih sayup-sayup terdengar dari setiap penjuru mata angin.
Sebuah mobil bak terbuka, menampung puluhan hingga belasan orang membunyikan pengeras suaranya yang sudah mulai parau seperti saya kalau lagi serak, mengagung-agungkan asma Allah. Di ikuti dengan serombongan kendaraan bermotor yang cukup meriah dengan suara-suara merdu mesin kendaraan yang dibolong knalpotnya, Indah sekali, seperti kampanye parpol setiap lima tahun sekali itu. Mereka bersorak sorai, mereka saling bersahut-sahutan antar pengendara menandakan bahwa mereka sedaerah, atau sekampung, mungkin juga se-gank. Jalan utama kota itu benar-benar ramai dengan mobil-mobil bak terbuka, dan mereka semua kompak untuk saling mengadu pengeras suara dengan lagu-lagu merdu mereka. Benar-benar Indonesia! Beraneka ragam karakter manusia ada di jalan itu, selain mobil -mobil yang di tumpangi para rombongan, juga terdapat banyak mobil-mobil mewah berplat B, D, A, H, AG, BM, DK, dan sebagainya yang menunjukan bahwa mereka adalah pemudik yang sedang menikmati Kota kelahiranya. Indah bukan main dalam benak mereka. Berkumpul bersama keluarga jauh yang terpisah cukup lama dan kemudian bersama secangkir teh atau makanan ringan ‘itikaf’ dipinggir jalan merayakan hari kemengan. Ya! Hari kemenangan, Ramadhan telah habis terlewatkan 30 hari penuh. Puasa sudah tertunaikan kewajibanya. Zakat sudah dibayarkan ke panitia zakat, dan pastinya hari idul fitri itu akan datang.
Ya, idul fitri telah tiba. Hari dimana seluruh umat muslim di Indonesia yang jumlahnya 88,2% dari total penduduk Indonesia kembali ke fitrah, kembali suci, kembali pada zero mistake! Luar biasa bukan. Dengan hanya 30 hari, Tuhan memberikan keringanan yang sangat dahsyat! yaitu kesucian diri! Setiap tahun kita diberi kesempatan untuk kembali menjadi suci lho kawan-kawan! betapa Tuhan ini Maha Legowo, dosa-dosa kita yang bejibun dan tidak mungkin kita menyadari bahwa kita melakukan dosa bisa diampuni oleh Tuhan pada bulan ini. Luar biasa.
Nah, oleh karena itu saya rasa, yah.. karena ke-legowoan Tuhan itu tadi kita menjadi terbiasa, kita menjadi ngenthengke bahwasanya ketika kita berbuat dosa toh nanti juga ada masa-masa diampuninya. Begitulah bangsa kita ini memandang hal itu. Belum lagi dengan luapan kebahagiaan yang diungkapkan setiap kali selesai ramadhan. Saya menjadi curiga, apakah takbir yang berkumandang, kemudian, jalan-jalan yang ramai dengan pemudik, ramai dengan para pemeriah ramadhan ini, berekspresi seperti itu karena bahagia ditinggal ramadhan terus kemudian tidak perlu lagi berpuasa, atau memang tahu hakikat dari Hari Kemenangan, hari kembali fitrah itu bagaimana. Saya pikir sudah sejak lama kita melakukan hal seperti ini, terlarut dalam kegembiraan ditengah sebuah kenihilan pemahaman. Ya, tidak bisa disalahkan, tidak ada yang salah disini. Lha wong tidak paham saja bisa sangat bergembira kok, apalagi kalau paham. Tidak perlu paham untuk bisa gembar-gembor takbiran!
Seperti dikatakan Cak Nun dalam salah satu tulisanya ” Kita (orang Indonesia, pen) mampu memadukan setan dengan malaikat dalam situasi yang sangat damai. Kita bisa menjajarkan kebaikan dan keburukan dalam suatu harmoni yang indah. Kita mampu mendamaikan kesedihan dengan kegembiraan, kesengsaraan dengan pesta pora, krisis dengan joget-joget, keprihatinan dengan kesombongan, dan kemelaratan dengan kemewahan. ” Sungguh satire dan paradoks. « Read the rest of this entry »
Like this:
Be the first to like this post.