Pahatan Kehidupan

Desember 4, 2007 § Tinggalkan komentar

Lelah melakukan perjalanan kembali lagi saya mengunjungi wedangan yang sama untuk ke sekian kalinya, kembali lagi saya memesan teh hangat, namun karena sudah pukul 00.00 lebih beberapa menit nasi bungkus di wedangan itu sudah habis. Terpaksa saya hanya menunggu teh hangat yang dibuat penjual itu, terdengar suara penjual itu sedang mengambil bubuk gula, dan dengan secepat kilat seperti seseorang yang dikejar-kejar angin topan yang berpusar dibelakangnya dan menuangkan biang teh yang masih panas kental berwarna hitam bagaikan air yang menggenang di danau yang sangat dalam sehingga hanya nampak hitam kecoklatan. Sudah kuduga teh ini akan sangat panas dilidah, namun nikmatnya bukan main, dalam udara sedingin puncak, yang menyelimuti kota Solo yang cantik di malam hari setelah hujan terus menerus sejak sore tadi. “Wis wareg durung Bud?” tanya seorang Bapak2 di sudut warung dengan bahasa jawa yang artinya “udah kenyang belum Bud?” kepada seorang pemuda yang kurang lebih seumuran anak SMU atau sederajat. Budi yang hanya tersenyum menjawab pertanyaan itu, sedang sibuk merogoh sesuatu dari dalam kantong jaketnya yang mirip baju pramuka, berwarna coklat pucat, tapi tanpa atribut. Setelah mendapatkan sepuntung rokok didalamnya dia lanjutkan dengan “korek endi mas?” tanyanya kepada sang Penjual yang mengambilkan korek dari kotak rahasia yang dijaganya dengan ketat seakan perlu kode rahasia untuk membukan kotak yang berada diatas grobak wedangan uniknya. “nyoo…rokoke gak boleh tambah lho ya..!” kata penjual itu dengan sedikit ekspresi kecutnya, saya bertanya dalam hati, kenapa kok si Budi yang berwajah polos, berambut cepak, bermuka bulat dengan ekspresi mukanya yang sama sekali tidak seperti anak SMU kebanyakan di posisikan seperti itu oleh beberapa orang yang ada di wedangan itu.

Bapak yang duduk sambil agak mengantuk di wedangan itu tadi juga menanyai seolah-olah Budi adalah seorang anak kecil yang nakal dan masih suka berbuat aneh-aneh. Baru kusadari bahwa Budi mempunyai raut muka yang “general”, default, sesuai template, dari sononya untuk anak yang keterbelakangan mental. Tapi kalau menurutku si Budi polos tidak terlalu parah dan sudah bisa mengendalikan diri untuk anak yang sejenis denganya. Dia sudah bisa membeli makanan sendiri, menghitung, dan tau bagaimana merokok, tapi saya ga jamin dia tahu bagaimana cita rasa dari rokok, yang dibuktikan dengan aneh raut mukanya dan gayanya ketikan memantik api dari korek jress yang dipinjamnya dari penjual itu.
Budi adalah seorang anak dengan keterbelakangan mental di sebuah kampung dipinggiran kota Solo, yang lingkunganya lumayan agak sedikit modern tapi masih sangat menjaga culture yang normatif. Dia mempunyai kemampuan otak dibawah rata-rata orang biasa, di punya waktu loading yang lebih lama dari orang normal biasanya, dan daya tangkap terhadap perintah atau kebiasaan yang lemot. Namun dia tetap diberikan oleh Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pencipta hati dan akal pikiran, dia juga dilahirkan sebagai manusia biasa yang bisa punya hati nurani dan mengerti bagaimana harus survival dalam hidupnya, jika digambarkan isi kepala Budi bagaikan batu pualam dalam gua yang hitam kelam, dan keras, sehingga perlu dijatuhi air bertahun-tahun untuk bisa membuat sebuah lobang diatasnya, saking sulitnya, tapi bisa juga. Nah, sekarang tinggal apa yang ditangkap oleh Budi selama belasan tahun hidup di lingkunganya, masyarakat yang membentuk kepribadianya, keluarga yang mengarahkan jalan hidupnya, dengan benturan konflik lingkungan yang membentuk perilakunya. Ada yang mengatakan kita adalah lingkungan kita, dan juga “kalau mau tahu sifat seseorang lihat siapa teman-teman orang itu”. Dengan bentukan sosial yang baik maka Budi juga akan membuat pahatan di batu kehidupanya dengan kata-kata manis dan kenangan manis, dengan lingkungan masyarakat yang memberi pengaruh sangat besar, karena dia hidup di kampung yang memberi contoh yang baik dia juga akan berlaku seperti yang telah dicontohkan teman, saudara, tetangga, Pak RT/RW, penjual wedangan dan juga orang-orang yang berada dalam wedangan itu, serta orang-orang, ratusan bahkan ribuan orang yang datang dan pergi ditemuinya dalam hidupnya. Pastinya juga berlaku sebaliknya, bahkan saya rasa hal-hal yang buruk tapi menyenangkan akan lebih cepat bercokol dan memenuhi pikiran serta sel-sel darah kita, pulse ke otak kita dan merubah tabiat kita, yang akan berlaku pada Budi pula. Sebuah balok kayu yang dipaku pada tiap-tiap kita melakukan kesalahan dengan satu paku akan berlobang, dan meninggalkan bekas yang tidak pernah bisa hilang selamanya walaupun paku itu dicabut kembali, begitu juga dengan hati kita, memory kita…tidak akan pernah hilang luka pada hati itu jika sudah dipakukan kesalahan atau memory yang buruk, walaupun paku-paku sudah dicabut (termaafkan).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pahatan Kehidupan at lebihbaik.

meta

%d blogger menyukai ini: