“Kenapa ya orang-orang kita kecanduan sama kedelai?”

Januari 23, 2008 § 24 Komentar

“Lapar nih Bung” kata seorang kawan pada Nusa dikamar kosnya ,hujan rintik-rintik yang masih dianugrahkan pada bumi dan makhluk di dalamnya membuat Nusa dan Tara merasa semakin lapar setelah pulang dari kampus ditengah-tengah masa ujian yang akan mereka lalui seminggu lagi. Debu dan CO2 yang biasanya mereka hirup disiang terik setelah lewat jam 13 di kota yang cukup ruwet ini, menjadi berkurang karena dihisap oleh H2O yang seolah – olah turun dengan malaikat untuk memberi kesejukan ditengah panas dunia yang semakin tinggi. Nusa dan Tara hanya memakai kaos oblong dan sandal jepit kebanggaanya mereka, sambil ngobrol ngalor ngidul tentang kuliah, ujian, bakteri, sampai dosen yang tadi diajak ngobrol masalah skripsi malah ngobrolin sponge bob. Nusa adalah anak Teknologi Pangan Universitas hebat di Solo, dan sedangkan Tara adalah anak Teknik Sipil di Universitas yang sama.

Memasuki kantin di pinggir jalan raya, dekat dengan pool salah satu Bus Umum antar kota, bau harum makanan Yang sedang di masak sudah mulai menggerogoti dompet tipis mahasiswa rantau tersebut, “ayam goreng nih Ra, bau nya huwaa, bikin dompet mepet gw tambah tipis aja” kata Nusa pada Tara seraya membersihkan kaca matanya yang terkena air hujan, “halah, ayam-ayam man koe ki, tempe juga biasanya, gaya banget sih skrg makan ayam segala”.

“wuah lo ga tau harga tempe sekarang berapa per biji?kedelai udah naik Bung, otomatis harga tempe naik”

“tadi gw juga nanya ke kantin kampus pas beli es teh, Ibu kantinya ngeluh katanya harga tahu tempe sekarang 200 perak mas”

“trus kemaren pas gw beli gado-gado juga kliatanya contentnya kurang, biasanya tempe tahunya banyak, sekarang yang banyak malah daun kobis nya” kata Nusa dengan menggebu-gebu pada Tara yang Cuma cuek, disambil mengambil satu tempe goreng dan tahu goreng, dan tentunya kecap favoritnya. Nusa yang tergoda dengan ayam goreng yang tergeletak bertumpuk-tumpuk di piring dalam display warteg yang agak panas karena aroma gorengan dan berbagai property lauk pauk yang sedang digoreng sedang berpikir keras melebihi kerasnya berpikir saat ujian utama, yaitu tentang isi koceknya dan kebutuhan hidup sebulan kedepan. Belum lagi untuk melunasi uang praktikumnya. “humm, ayam ah, masa bodo sm praktikum” katanya dalam hati. Diiringi lagu dangdut kucing garong yang meliuk-liuk sedih dengan nada-nada ceria khas dangdut yang berasal dari dalam ruangan dapur kantin yang terlalu mepet dengan kursi-kursi makan pelangganya, suasana panas lembab yang di blender dengan lagu-lagu dangdut yang bermuara pada radio butut yang kemresek Nusa dan Tara sangat menikmati makan siang dan pagi perdananya untuk hari ini, pukul 13, yah angka unik dan menggembirakan untuk perut mereka.

“emang kedelai sekarang sekilo berapa Sa? Tanya Tara dengan polos, menunjukan bahwa dia adalah maniak strutktur beton. “tergantung lo beli dimana lah, yang jelas di Lab Sipil ga ada bro, wakwakwak..ya antara 7500 sampe 8000 an Bung”. “wah kasian pedagang tempe tahu yah, masa dia Cuma jual tempenya dengan harga 400 rupiah, padahal sekilo udah segitu, belum lagi disusul dengan naiknya harga minyak goreng,minyak tanah, harga sembako lain ku perkirain juga naik bakalan” kata Tara dengan nyrocos sambil terus menghajar tempe tahu dengan nikmatnya, keringatnya meluncur bebas dari pelipis kepalanya. “wuah, km kok bisa hebat gitu sih prediksinya Bung?” ketus Nusa. “namanya juga baca koran Bung!! Wakwakwak..” jawab tara dengan tawanya yang manis. “sebenernya ada gak sih pengganti kedelai sebagai bahan baku tempe sama tahu Sa?ente kan anak pangan, harusnya bisa donk membuat inovasi biar kita tidak selamanya dibodohin Amerika dengan kedelai impornya!”

“substitusi bahan maksud lo? Ada banget Bung, kemaren gw sama temen-temen jurusan sempet ngadain diskusi kecil-kecilan tentang substitusi kedelai dengan koro benguk sebagai bahan baku tempe dan kecap”

“bener banget lo, walaupun lo mikirin beton mulu tapi, keren juga lo,Indonesia itu ngimpor kedelai dari amerika tiap tahunya 2 juta ton, padahal kedelai yang diimpor dari sana itu, kedelai nomer dua Bung, negara pengimpor kedelai yang the Best banget itu ya Kanada”

Tara menimpali pertanyaan Nusa tadi “emang sih, Abang Sam itu pengimpor kedelai terbesar, Kita gak bakalan mampu memenuhi kebutuhan dalam negri kita sendiri Bung, dan setahu ku, kenapa harga kedelai kita naik ya karena Mbah Sam itu mengurangi lahan kedelai nasionalnya sebanyak 15%”.

Mendadak ada mas-mas yang duduk didepan mereka, sepertinya sopir truk yang bertengger di depan warung kecil itu, dia berkata “kalau masih suka tempe gak usah ribut deh mas” katanya pada kami dengan bahasa Jawa. Nusa dan Tara Cuma nyengir mendengar pernyataan kalangan grass root tersebut, Nusa menjadi berpikir,rupanya masyarakat Indonesia ini udah terlanjur pada kecanduan tempe sama tahu deh, seperti halnya kecanduan kita pada beras yang notabene adalah makana pokok, padahal kan masih ada bahan-bahan substitusi.

“hihi, back to substitusi tadi deh Sa, gimana prosesnya? Apa sih bahan penggantinya itu?” kata Tara sambil tersenyum ke Mas-mas yang berkumis tebel dan membawa sejuta masalah kehidupan sehari-hari dipundaknya. “ooh, iya deh, kedelai itu kan hanya sebuah tren klo kata gw, sebernya koro benguk yang bisa menjadi bahan substitusi kedelai itu tidak berbahaya kalo di olah dengan benar, dan pengolahanya itu gak muluk-muluk kok” jawab Nusa. “emang gimana prosesnya? Ada racunya kan pastinya, kenapa sampe dianggap serem gitu koro benguk klo gak ada racunya”

Sambil mengunyah ayam goreng impianya itu dengan mulut penuh makanan Nusa menjawab perlahan-lahan “koro benguk itu kan yang ditakuti racun Sianidanya Bung, HCN itu loh..nah sebenernya racun HCN itu tidak berbahaya jika memenuhi standar ambang batasnya yaitu …. cara ngilanginya Cuma dengan air bersih selama 24 sampe 48 jam, biasanya sih malah para pedagang tempe benguk itu merendam koro itu sampai tiga hari, tapi air bersih nya harus di ganti tiap 6 sampe 8 jam, kadar gizinya tau ga lo Ra? Maha Karya Ilahi, Si Koro Benguk ini per 100 gr mempunyai kadar 332 kalori, 24 g protein, 3 g lemak, 55 g karbohidrat, 130 mg kalsium, 200 mg fosfor, 2 mg besi, 70 SI vitamin A, 0,3 mg vitamin B1, dan 15 g air.. gak kalah sama kedelai kan Bung!”

“trus kalo masalah rasa gimana Sa?dari penampilanya sih, kliatanya pembeli udah ogah deh mau menyamtapnya, kan warnanya item gimana gitu”

“rasanya gak kalah Bung, memang sih masih ada rasa agak pahit-pahit gimana gitu, tp itu dia yang jadi tantang kita kawa, gimana cara memodifikasi koro benguk yang berpotensi itu menjadi produk unggulan lokal kita, kalau setahu gw sih, bisa dengan fortifikasi kali yak, dengan menambahkan bahan lain yang dapat mengurangi rasa langu itu, bisa juga kan dicampur dengan sedikit kedelai”

“tapi klo udah digoreng pake tepung dengan matang , menurut gw udah enak sih, ga kalah sama pizza hut kapitalis itu kok, wakwakwak…”

“so, kenapa tempe kita yang kedelai itu ga diganti sama koro benguk yah, eh berarti si Koro itu bisa juga donk dibikin kecap? Ya kan?” tukas Tara dengan pedenya.

“ iya bisa banget dibikin kecap, wah tau deh, kenapa orang-orang kita termasuk gw masih setia kecanduan sama kedelai”

 

referensi: diambil dari berbagai sumber

gambar dari sini

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 24 Responses to “Kenapa ya orang-orang kita kecanduan sama kedelai?”

  • Resi Bismo berkata:

    pertamax….
    Gak salah tuh judulnya, seharusnya diganti bung Sigma, pertanyaannya jadi gini. Kenapa ya orang2 kita pada kecanduan Korupsi? 😀 huhuhueuheue

  • adit-nya niez berkata:

    Haduh… Saya gak terlalu mikirin di dalem kedelai (tempe-tahu) ntu mengandung gizi apa aja…

    Tapi yg jlaz emang rasanya enak aja makan tuh makanan rakyat. Huhuhu…
    Tapi sekarang kykna udah bukan “makanan rakyat” lagi yah…

    Huhuhu… 😀

  • andi bagus berkata:

    jadi dari SAM adalah bahan baku kedelai ke dua..dikibulin dunk kita sebagai importir..

  • Yari NK berkata:

    Ya…. nggak apa2 deh kecanduan kedelai juga….. daripada kecanduan McDonald’s yg nggak jelas gizinya dan junkfood alkohol, yg penting mudah2an kita bisa swasembada kedelai sehingga tidak terjadi kejadian harga **halaah** kedelai yang meroket ini.

    eh, btw, kacang koro ada asam sianidanya gitu?? Baru tahu saya…. padahal saya kalo iseng2 suka makan kacang koro! Hmmm… koro benguk sama dengan kacang koro ngga ya? 😀

  • goop berkata:

    Seperti juga kecanduan sama Nasi…
    * 😀 *
    padahal konon banyak subtitusinya
    * :mrgreen: *

  • realylife berkata:

    secara ini khan makanan yang udah mendarah daging , sampe ada yang menjuluki negara ini dengan julukan bangsa tempe khan ?
    jadi saya rasa doyannya karena itu kali
    o iya saya mau ngundang buat baca tulisan ini
    makasih
    http://realylife.wordpress.com/2008/01/21/palestina-tanah-sejuta-doa/

  • atapsenja berkata:

    Hihi, aku juga anak tahu dan tempe lho. O, ya, susu kacang yang terbuat dari kedelai juga konon bisa membuat kulit halus, putih, dan mulus. :mrgreen:

    Kedelai berasal dari daerah Manshukuo(China Utara). Dan, pada abad ke-17 baru dibudidayakan sebagai tanaman makanan di Indonesia.

    Kedelai bukan hanya sebagai tanaman pangan, lho. Tapi kedelai juga dikenal sebagai pupuk hijau karena dapat meningkatkan kesuburan tanah.

    Selain untuk pangan seperti tempe, tahu, kecap, susu kedelai, dan minyak, polong mudanya juga dapat dimasak sebagai sayur. Ampasnya digunakan sebagai campuran pakan. Minyak kedelai juga banyak dipakai untuk tujuan industri.

    Wik! maaf ya, adik, sedikit tambahan dari apa yang pernah kakak baca dari buku.

  • no_name! berkata:

    PR untuk kalian wahai teman2 teknologi pangan dan hasil pertanian (khususnya UNS):
    ayo ciptakan produk baru dengan bahan baku pengganti kedelai! semangad! -(^_^)-

  • Freddy Hernawan berkata:

    karena saya suka makan tahu dan tempe (apalagi yang dibacem duh lezatnya.. )

  • daeng limpo berkata:

    Waduh kesukaan saya sama dengan Mas Freddy Hernawan….tempe bacem

  • sandemoning berkata:

    wew, daeng limpo, aku juga suka tempe bacem, apalagi ditambah jadah goreng mbah carik di Kaliurang, wew…
    (ups, sory mas fauzan…)

    eh, iyak. nah loh (?#2@ bingung mpffghh)…

    negara tercinta ini memang aneh (negara yang aneh, kata dora), apapun yang disukai rakyat, kini semakin jauh dari rakyat: tempe, tahu, kedelai, minyak tanah, minyak goreng,,,

    fyuhhh…

  • bumisegoro berkata:

    padahal tempe juga macem-macem lho. tapi teteeep aja yg paling digemari yang berbasis kedelai. btw, udah nyobain tempe rasa kaki? kalo belum tengok aja di sini nih…
    http://bumisegoro.wordpress.com/2007/06/12/tempe-rasa-kaki/

    tx

  • cK berkata:

    saya juga suka tempe! koro benguk itu rasanya kayak gimana ya? kok saya nggak pernah tau sih? 😕

  • prim berkata:

    tempe ..tahu ..wah enak..dong, sudah murah gizinya banyak lagi…!

    Makanya banyak yang suka, terus kalau barangnya nggak ada .. ya jelas panik lah…!!!

  • Nanang Suryana berkata:

    saya juga suka tempe ama tahu….

  • Hasan Seru berkata:

    saya gak suka kedelai

  • realylife berkata:

    terima kasih atas silaturahminya hari ini
    sering – sering silaturahmi ya

  • anaesteshia berkata:

    mending kacanduan kedele… dari pada minum kopi jahat alias kopi 666

    wakakakakaka 😀

  • Sawali Tuhusetya berkata:

    ini sebuah ironi yang terjadi di sebuah negeri agraris. ada apa sih sebenarnya harga kedelai tiba2 menjadi sebuah fenomena? ini bagian tugas dari mas sigma untuk menjawabnya? hehehehehehe 😆

  • antarpulau berkata:

    apa-apa disubstitusi…
    sampe makanan pokok di substitusi….

    Lha kalo yg pokok sudah disubstitusi.. gimana nih…?

    ya udah… kalo caranya gini..
    mendingan kita substitusi aja tuh pemerintah…..
    kebijakan pemerintah yg sering ngawur, tapi rakyat yg disuruh men-substitusi akibat mis-manajemen mereka…..

    kira-kira….. mau gak yaa pemerintah kita substitusi…???

    *kesel*

  • Ina berkata:

    Saya nga suka candu, Saya itu sukanya tempe.
    *diketak

    Mungkin krn kebiasaan kl yach, makan tempe dr kecil. Bisa krn biasa, suka krn sering. Disamping itu Tempe makanan yg merakyat.

    😀 Hidup Keledai…! *ups…salah
    Hidup KEDELAI…!!!! Hidup TEMPE…!

  • Sir Arthur Moerz berkata:

    opo iki…

  • Nin berkata:

    Wah susah kalo mau ngikutin obrolan anak teknik sipil dengan teknologi pangan ya….
    Kalo saya yang jadi titik pemikirannya, si SAM itu pinter banget ya…. selama ini kita dilenakan dengan kedelai sebagai bahan pokok pembuatan tempe yang merupakan makanan kecintaan rakyat Indonesia. Katanya tempe itu murah dan bergizi. Setelah lidah kita sudah sangat akrab dengan si tempe ini, kedelainya dimahalkan dengan berbagai dalih.
    –Mau tanya sama anak teknologi pangan, kenapa si SAM itu bisa jadi eksportir kedelai terbesar ya?

  • Penyair Gadungan berkata:

    yang pasti ada rhasia dibalik kedelai itu sendiri …
    he..he..he..
    rahasia yang tersembunyi membawa kenikmatan tersendiri …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading “Kenapa ya orang-orang kita kecanduan sama kedelai?” at lebihbaik.

meta

%d blogger menyukai ini: