Fenomena Hotspot

Februari 26, 2008 § 56 Komentar

Disebuah universitas negri terkenal di Solo nan jauh disana, ada seorang kawan yang bernama Jon Koplo (pinjem istilahnya Solopos ya, red). Dia adalah seorang mahasiswa semester 11 yang sudah malas kuliah dan tidak pernah kuliah lagi karena sudah punya sambilan dan banyak proyek yang digarapnya. Suatu ketika Jon Koplo ke kampus dengan penuh percaya diri, dan dandanan yang rapi berbaju formal sudah seperti eksekutif muda masa ini yang berwarna kuning pucat dengan motif batik, celana kain halus berwarna hitam yang dia kenakan juga menambah keren penampilanya yang nyentrik. Jon Koplo juga meerupakan salah satu tokoh mahasiswa di kampus itu, apalagi di fakultasnya, hampir semua mahasiswa kenal dia, apalagi dosen dan karyawan jangan ditanya lagi reputasinya sebagai mahasiswa tua yang berpengaruh.
Disela-sela waktu setelah kuliah Jon Koplo bertemu dengan temanya Lady Cempluk yang juga mahasiswa di fakultas yang sama dengan Jon Koplo, namun usia mereka kuliah disana agak jauh perbandinganya, Lady Cempluk baru menempuh semester 7 saat itu. “Pluk sini dulu, piye kabarmu saiki, kok ga pernah ketemu lagi?” kata Jon Koplo yang sedang duduk di shelter fakultas yang rindang dan indah itu, yang disekitarnya juga sedang terjadi banyak aktivitas mahasiswa seperti biasanya. “wah bos, alhamdulilah baik, lha km sekarang kok udah hebat gitu gimana caranya?mbok aku diajari bos?” dengan gaya bicara Lady cempluk yang gayeng dan renyah. “lho kok km ngga kuliah gimana to Pluk?” kata Jon Koplo, “nanti sepuluh menit lagi mau kuliah ini bos” jawab Lady Cempluk sambil mengeluarkan Laptopnya dari tas ransel besarnya yang berwarna hitam dan merek terkenal itu. “wah kalau kamu kuliah mbok aku pinjem laptopmu Pluk….mau cari bahan di internet nih, aku mau ngenet di hotspot PUSKOM aja Pluk, boleh to?” kata Jon Koplo sembari melirik laptop Lady Cempluk, yang belum jadi di turn on kan. “ya udah bos bawa aja ga papa, nanti kalo udah dititipin anak sekre aja ya” jawab Lady cempluk dengan gampangnya meminjamkan, karena Jon Koplo dan Lady Cempluk adalah teman dekat.
Sepuluh menit kemudian Lady Cempluk bersama kawan-kawan sekelasnya menuju ruang kuliah di Gedung F lantai 5 Ruang 13 yang bisa diakses dengan mudah melalui lift yang berada di depan pintu utama gedung itu. Sudah mulai kuliah di dalam kelas, Lady Cempluk duduk disamping Parno yang juga teman mbanyol si Lady Cempluk yang asli Wonogiri, dengan gaya khas nya Parno mengatakan sesuatu kepada Lady Cempluk yang membuat tertawa cekikikan pelan agar tidak terdengar dosen yang mengajar membosankan di depan. Tiba-tiba HP Lady Cempluk berbunyi dengan kerasnya “tiiiit…..tiiiit…..tiit…”, wah, ketahuan sudah bahwa Lady Cempluk hanya pakai HP monophonik yang tidak bisa dipakai foto-foto atau memutar MP3 Sholawatan seperti yang teman-temanya biasa lakukan.
Cempluk membaca dengan gaya sedikit ditutupi kursi yang ada didepanya, kemudian dia agak merunduk dan badanya bergetar seperti orang menahan tawa kurang jelas, yang membuat Paijo penasaran “hhheeh..ono opo Pluk? Bisik Paijo dengan pelan. “iki lho woconen sms-e Jon Koplo” sembari memperlihatkan HP yang berisi sms Jon Koplo dari PUSKOM, yang sedang hotspotan “Pluk, iki carane ngurupke wireless-e piye ben iso hotspotan?”

arti dari “Pluk, iki carane ngurupke wireless-e piye ben iso hotspotan?” adalah “Pluk ini gimana cara nyalain wirelessnya biar bisa hotspotan?”

disclaimer: posting ini saya comot murni tanpa perubahan dari blog saya yang satunya ini

Pembicaraan Kalangan Bawah

Februari 26, 2008 § 11 Komentar

Kembali ke wedangan yang sama dengan bau khas wedangan yang sepertinya belum akan punah sepuluh tahun kedepan, melalui salah satu pintu sempit yang hanya cukup di lalui satu orang aku masuk dan memilih tempat duduk diatas dingklik sepanjang 1,5 m. Di depanku hanya tersisa beberapa buah menu makanan, “wah, udah telat nih pak saya, udah pada habis semua gini, tinggal tahu tempe, dan telor tusuk satu” kataku pada penjual itu. “iyo mas wis entek-entekan iki” dengan logat jawa kasar khas pak Thukul penjual hik (wedangan, red). HIK, kebanyakan orang Solo dan sebagian Jogja menyebut untuk wedangan jenis angkringan kecil bertenda biru atau orange dipinggiran jalan yang merupakan kepanjangan dari Hidangan Istimewa Kampung (HIK), yang spelling nya lebih tepat seperti He’ mirip e mati pada sobek tapi di akhiri dengan alif, bukan kaf  kalau dalam bahasa arab.

Dengan suasana kekeluargaan ala bapak-bapak kampung  yang bercanda konyol masalah arisan RT bapak2, nongkrong, melek bengi , main kartu sampai larut hingga masalah politik yang dibicarakan sangat subjektif dan awam. Tiba-tiba ada seorang pembeli dari kalangan bapak-bapak tersebut dengan cara jawa ijin pamit duluan “wah iki kudu mulih disik iki” yang kemudian ditanggapi oleh temanya yang duduk disisi meja hik samping dengan sedikit mengepulkan asap rokok yang dihisapnya “lha ngopo arep mulih cepet2? wis ora duwe duit , tanggal tuwo ngene?” dijawab juga oleh bapak yang akan pulang tadi seraya berdiri dan senyum yang mengembang aneh, karena dihiasi oleh gigi ompong ditengahnya berkata ” Ora, iki arep ngeloni anak ku wis wengi”

” halah ngeloni anak opo anak, bar ngeloni anake trus ngeloni sing ngopeni anak”sambil tertawa cekakakan keras yang bisa membangunkan orang yang sedang mimpi jadi presiden sekalipun. Aku hanya tertawa kecil sambil terus melahap menu makanan ala kampung namun nikmat bukan main ini. ” ora… tapi ngeloni anak sing gede.. hahaha” di jawab spontan oleh pak ompong tadi dengan tawa riang pada kawan-kawan sejawatnya.

ku pikir, hal dan pemikiran yang sederhana seperti itulah yang terjadi di masyarakat kita secara umum, di kalangan akar rumput, dikalangan masyarakat bawah yang mengisi bola dunia Indonesia ini lebih dari 50 % nya. Konteks berpikir yang sangat – sangat sederhana namun sepertinya sudah sistemik di lingkup sosial.

Belum lagi disamping warung itu ada Ibu-ibu yang sepertinya istri si penjual HIK itu sedang menonton Tivi dipelataran terbuka dengan tivi ukuran mini hitam putih dengan santainya, dengan anaknya yang masih SD kira-kira kelas 5 an.Termakan iklan seluler yang sedang perang tarif, termakan serial sinetron yang serasa memanjakan mereka dalam mimpi-mimpi buta, termakan gaya hedonisme ala Jakarta dengan mobil mobil mewah yang dipakai untuk syuting film itu, termakan gaya berpakaian si pambawa acara gosip selebriti, dan berbagai macam doktrin sistemik ala media televisi sekarang.

Masih ku nikmati teh hangat yang di permukaanya mengepul asap tipis menandakan panasnya dan nikmatnya rasa teh hangat pak Tukul itu aku mendengar closing statement bapak ompong tadi “wah iyo, iki filme Aisyah yo, wah Aisyah sik bar iki”.  Well, ternyata bapak-bapak pun termakan sinetron.

disclaimer: postingan agak ruwet setelah mengalami serial kehidupan nyata di atmosfer nyata

Bukan Istirahat Panjang

Februari 24, 2008 § 14 Komentar

Ketika Sang Waktu serasa berhenti, memaksaku untuk hanya berdiam diri di depan kenyataan yang seharusnya dapat kutuliskan menjadi rangkaian tinta maya, jemariku hanya seperti mendung yang akhirnya memeritahkan setiap titik molekul H2O turun ke bumi berdansa dengan bumi menari-nari bersama rumput dipadang ilalang, gerimis. Namun serasa tercekat dengan berbagai macam  magnet kenyataan dari kutub-kutub yang saling berlawanan, jemari ini hanya terdiam. Sekali lagi terdiam untuk waktu yang cukup lama. Bukan karena tidak ada sesuatu yang ingin disampaikan, sebaliknya malahan, karena penuh dengan berbagai macam memory, hard disk otak ku serasa penuh, CPU usage serasa selalu 100%, tidak normal, sungguh tidak normal penggunaan CPU itu, kasihan aku dia.

Berminggu-minggu tidak menulis serasa berada di alam bawah sadar yang terlalu lelap, mimpi-mimpi nyata yang selalu hadir setiap hari hanya menjadi mozaik yang terlewatkan oleh seorang pengamen jalanan yang sudah bosan dengan kepenatan jalan raya. Yah.. memang, jalan ini terasa sungguh sesak, setiap detik selalu berubah, countdown timer itu pun berkata begitu, dia menjadi saksi bisu yang menghentikan sejenak perjalanan muhajrin itu untuk beristirahat.

aaah…meloncat kesana – kemari, sepeerti hari-hari terakhir yang kulalui selama beberapa minggu ini

Jibaku, hingga tengah malam, menanggung tanggung jawab moral sebagai seorang tentara melaksanakan perintah komandan  dengan pertimbangan-pertimbangan yang harus dipaksa rasional, berhadapan face to face dengan berbagaimacam varietas manusia lintas ideologi memecah keimanan menuju hipokrit.

Trans pemikiran, bertemu Homo sapiens pemalas, pemaki, pemarah, pembohong, pencuri, penjual janji kosong, pembual sistemik, dan berbagai macam homo sapiens yang tidak dapat dikategorikan manusia. maafkan aku Sang Waktu.

Nb: jarang nih nulis posting agak berbau curhat gini, lama ga ngeblog bingung juga jadinya..bener2 trans pemikiran nih..

 

Semangat Kawan!

Februari 7, 2008 § 59 Komentar

Kawan apakah kau dengar kata mereka? Orang –orang yang berteriak di pinggir jalan membawa poster-poster yang menyuarakan hati nurani mereka melawan kezaliman. Mereka adalah bulir-bulir tinta emas yang membuka labirin pemikiran dan spektrum kehidupan yang semakin tidak menentu arahnya, mereka menuliskan setiap langkah demi langkah mereka dalam lembaran-lembaran putih yang dihiasi dengan bingkai indah perubahan, lembar demi lembar mereka tuliskan setiap jengkal langkah gerak mereka.

Tidak peduli apa kata dunia nyata tentang omong kosong idealisme yang nantinya akan termakan kenyataan. Mereka hanya lah nurani, mereka hanya mencoba meneriakan kebenaran, dengan darah yang mengalir dari alveoli ke jantung mereka , dengan keringat yang mengalir melalui kelenjar ekskresi mereka, dengan setiap Adenosin TriPhospat yang mereka keluarkan sepenuh hati dan keihklasan dari tulus hati perjuangan mereka, setiap langkah mereka adalah tinta emas tulisan sang waktu. Bagaikan adrenalin yang memompa emosi dan kelenjar-kelenjar semangat, sepenuh hati perjuangan mereka disatukan dalam barisan-barisan rapi yang melangkah indah bagai padi-padi disawah yang dihembus angin timur. Dalam barisan dengan satu komandan yang membawa panji-panji kebenaran sehingga melahirkan jiwa-jiwa yang kokoh membawa arah perjuangan ini.

Tak berharap balasan atas jasa-jasa, tak menunggu upah hingga keringat mereka kering, tak menunggu waktu memberikan ganjaran yang setimpal, namun hanya ketulusan yang akan berbalas firdaus. Hanyalah berharap pelangi kehidupan yang terususun dari spektrum warna yang berbeda-beda sehingga tersusun dalam damai menghiasi bumi kelahiran mereka. Hanyalah senyum seorang sahabat kecil mereka yang menari-nari dibawah gemericik air hujan persahabatan, hanyalah masa depan penuh cinta bumi pertiwi, hanyalah moralitas yang berlandaskan nurani setiap kafilah penunggu 17.000 lebih pulau di bumi pertiwi, hanyalah tangis bahagia Homo sapiens tua dan keriput yang melihat cucu dan cicitnya generasi ke sekian ratusnya dapat mengenyam majlis – majlis ilmu disetiap pelosok nusantara.

Semua disini akan berawal , mulai 5 Februari 2008 dalam barisan-barisan rapi, BEM UNS akan mengawal sang waktu menghadapi rona-rona kehidupan. Memerintahkan parasit, toksin, dan patogen jiwa manusia pergi dari cawan jati diri dan meyambut hangat sapaan dan pelukan kawan-kawan mereka yang bernama semangat, konsistensi diri, komitmen, responsibility, dedikasi, keihklasan, pengorbanan, dan loyalitas yang akan menemani perjalanan mereka dalam lembaran-lembaran sejarah yang tidak akan pernah hilang dari catatan malaikat pencatat perbuatan manusia.

berita disini

kembali ke habitat

Februari 4, 2008 § 21 Komentar

Terdengar langkah-langkah cepat seseorang sedang menaiki tangga, ke lantai dua gedung bersejarah ini. Mengintip dengan cara memunculkan separuh wajah berkeringatnya, dan kemudian seraya meloncat kegirangan dia memeluk ku lalu menjabat tanganku erat-erat yang sedang duduk bersila beralaskan karpet hijau diantara tumpukan kertas-kertas artikel yang berantakan. “mas balik ke habitat lagi nih?!” kata nya padaku dengan penuh semangat dan dari matanya muncul gelombang elektromagnetik yang memancarkan aliran adrenalin yang tinggi, menandakan semangatnya yang sedang meledak-ledak. Anak Fakultas Hukum angkatan 2005 itu sudah beberapa kali menyusuri jalan dan belajar di Universitas Kehidupan bersama ku.

Tidak terasa hari ini aku kembali ke tempat yang sama tempat yang pernah membawa ku menemui berbagai kesempatan belajar simulasi kehidupan nyata, saat itu aku hanya anak ingusan dari desa yang agak norak dan kemaki tapi kebetulan masuk ke Universitas yang saat ini sangat kubanggakan, aku sangat bersyukur telah mendapat kesempatan belajar, masih terlalu banyak untuk dihitung anak bangsa yang terjajah dengan kebutaan akan ilmu dan pendidikan, masih terlalu naif untuk berkata bangsa kita sudah adalah bangsa berpendidikan sementara moralitas putra bangsa masih dipertanyakan kualitasnya.

Di tempat ini aku diajarkan bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa yang berguna untuk bangsa, negara dan agama, bagaimana harus berpikir strategis, tidak apatis terhadap anomali-anomali kehidupan yang memberikan pelajaran sebagai bekal menuju cakrawala ilmu. Disini aku menemukan warna-warni kehidupan yang benar-benar nyata, kadang gila, dan mengharuskan kita bersikap gila karena kalau kita tidak ikutan gila bisa tergerus zaman. well, semua itu ku sebut dengan realita, mozaik-mozaik realita yang tersusun dalam satu lembaran papyrus kehidupan, menjadi peta untuk menempuh jalan selanjutnya kawan.

Disini akan ku buka lembaran-lembaran kertas putih yang akan ku tulis dan kuhiasi berbagai macam anekdot, karikatur, namun kadang akan muncul berbagai macam ancaman entah datang dari dalam maupun dari luar. Disini aku dan staf-staf ku akan membawa roda kehidupan ini menjadi sesuatu yang monumental, ya.. harus monumental seperti sebelumnya. lembaran ini akan menjadi saksi bisu yang berbicara saat aku diadili di sebuah pengadilan paling adil sejagat nantinya. amanah almamater yang berada dipunggungku dan semua kawan ku yang ada ditempat ini, pada saat ini, kami hanya mencoba untuk berkarya, harapan antara hidup dan mati yang menjadi kosekuensi logis layaknya sebuah peperangan melawan kebatilan telah dikibarkan dalam panji-panji idealisme yang selalu kami teriakan.

Semoga di blog ini pun selanjutnya bisa kutuliskan banyak hal tentang perjalanan dalam lembaran-lembaran kertas yang di amanahkan kepadaku.

huwaaa!!  namun disetiap lembaran yang akan menyusun cerita panjang tersebut akan ku temukan cerita-cerita ilmiah yang mengiringi pembuatan mahakarya akhir seorang mahasiswa skripsi.

aku hanya bisa tertunduk padaMU,  tidak pernah bisa dan tidak akan pernah berani mendahului takdir Mu, manusia sepertiku hanya bisa berusaha, Ya Rabb semua akan berawal dan kembali kepadaMu..

*maafkan aku “sang waktu” setelah satu minggu tidak mengUpdatemu aku merasa bersalah, namun memang segala sesuatu yang terjadi dalam labirin-labirin otak ku dan setiap sel dalam otak ku menolak untuk menuliskannya di tinta maya mu*

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Februari, 2008 at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: