Utopia Jadi Negara Kaya

Mei 25, 2008 § 46 Komentar

Melaju dengan kecepatan hampir 100 km/jam sebuah mobil CRV warna hitam dengan plat nomer belian yang sepertinya mahal, di atas panasnya aspal jalanan disekitar terminal tirtonadi Solo, menembus semua pengendara motor dan kendaraan yang lebih tak berdaya lain dengan gagahnya layaknya pak JK yang melewati Kota Jakarta yang sibuk. Berhenti di sebuah lampu merah dekat perempatan, mobil itu tetap menderu. Paradox yang kulihat saat itu adalah pemandangan seorang anak kecil, dengan baju kumal, rambut merah terbakar sinar matahari kota, dengan tanganya yang kecil menengadah ke dekat kaca mobil besar itu. Bahkan tinggi anak itu tak sampai menyentuh kaca mobil itu, ku pikir dia pasti seumuran Adik ku 4/5 tahun, jika sekolah di TK pasti masih 0 (nol) kecil, namun tuhan mentakdirkan lain. Dengan ukuran tubuh sekecil itu dia dipaksa mencari nafkah dengan profesinya sebagai pengemis jalanan Kota yang kejam ini! Wajahnya yang polos dan masih ingusan itu membuatku tak tega melihatnya, mengingatkanku pada keangkuhan manusia-manusia dzolim yang menyebabkan anak kecil yang seharusnya dapat menikmati keindahan masa kecilnya bersama teman-temanya di Bangku sekolah tapi dia DIPAKSA untuk melakukan hal yang sama sekali bukan tanggung jawabnya. Dipaksa oleh keadaan, dipaksa oleh sistem yang berjalan saat ini di negara yang katanya berkeadilan dan melindungi setiap warga negaranya, di negara yang dalam undang-undang dasarnya menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak. « Read the rest of this entry »

Iklan

12 Mei 2008, Tugu Rakyat Harga Mati!

Mei 17, 2008 § 32 Komentar

Jogjakarta. Kereta api kelas ekonomi penuh sesak dengan berbagai macam jenis manusia, dari tua, muda, bayi, anak-anak, dan ibu2. Namun kali ini mereka mendapat sebuah pemandangan lain ketika akan menaiki kereta di stasiun lempuyangan sore itu, senja mulai menampakan keindahanya ketika kereta menderu dan mengaluarkan bunyi gemeretak khas kereta api negeri ini dilengkapi dengan pedagang asongan yang berlalu lalang tidak peduli penumpang sudah penuh sesak demi mencari beberapa lembar ribuan agar mereka bisa makan. Tiga gerbong terkahir saat itu benar-benar penuh sesak dengan mahasiswa berjas almamater coklat tua (UGM) dan biru muda (UNS), membawa panji-panji perjuangan, mereka menunjukan wajah semangatnya. Jakarta. 12 Mei 2008. Suasana pergerakan mahasiswa mulai memanas, berbagai macam panji-panji besar, berwarna – warni sudah nampak berkelebatan diangkasa menemani pagi cerah di bundaran HI, walaupun saat itu aku pun belum sempat mandi tapi provokasi kawan-kawan lebih menjadikanku semangat, siap membawakan TUGU RAKYAT untuk Indonesia. Aksi pagi itu dimulai dengan pembagian leaflet tugu rakyat pada para pengendara motor, mobil dan kendaraan umum di sekitar bundaran HI. Berbagai warna almamater mahasiswa mewarnai bundaran HI saat itu, bendera – bendera kebangsaan mahasiswa mewarnai atmosfer disekeliling bundaran HI. BEM dari Bandung Raya dan Jakarta nampak dari kejauhan menaiki kendaraan umum *metro mini* dan truk angkutan yang biasanya dipakai untuk pasir, beserta mobil aksi yang diatasnya telah berdiri beberapa korlap dari beberapa universitas. Jakarta pagi itu, siap meneriakan kebenaran! Tapi tahukah kalian kawan? bahwasanya disana diujung bundaran HI terlihat lebih dari satu kompi aparat yang dengan wajah garangnya siap melenyapkan ribuan mahasiswa yang saat itu hanya sekedar membawa seruan moral dengan timah timah panasnya, beberapa Tank yang membawa gas air mata sudah melintas di depan rombongan para mahasiswa itu.

Kupikir ini juga yang terjadi saat itu, iblis-iblis otoritarian itu benar-benar datang (mengutip Hanna, 2008). satu dekade yang lalu di tempat yang sama, dengan warna almamater yang sama, dengan seruan yang sama dan dengan semangat yang sama, hanya untuk sebuah perbaikan. Tidak pernah semudah itu kawan, pengorbanan, adalah harga mati, dan bahkan mati pun adalah harga mati! « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Mei, 2008 at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: