Waktu Itu.

Agustus 18, 2008 § 21 Komentar

Waktu itu aku bersama anak jalanan dan bersendagurau dengan mereka, ada seorang anak yang memabacakan puisi buatanya :

Nasibmu kini….. Indonesiaku

seperti diriku yang telah terabaikan

di tepi jalan mengais uang

beribu cercaan orang telah sering kudengar

sebenarnya tak ingin kulakukan

terontang anting oleh pekerjaan

tapi keadaan yang memaksakan

apa daya itu yang harus ku telan

ku coba melamar pekerjaan tapi diriku diremehkan

mereka bilang aku tidak punya ketrampilan

bagaimana ku bisa merdeka

bila aku masih dijalan dan tak ada yang memperhatikan

Yuli, Pengamen Jalanan (Stasiun Jebres Surakarta, 17 Agustus 2008 )

Waktu itu aku kembali ke dunia kecil namun tak berbatas, dengan sejentik jari-jari diatas keyboard ku temukan lagi sebuah puisi yang ditulis dalam sebuah milis. Singkat… benar-benar singkat, sesingkat penjajahan Belanda kepada Indonesia. Namun Ironis, dan semua mengatakan bahwa kita benar-benar merdeka dari kemerdekaan.

“Proklamasi 63 Tahun” oleh Kang Becak

Kudengar,
Proklamasi,
Berkumandang,
Tiap tahun,
Selama 63 tahun.

Tapi kurasakan,
Rasa kebangsaan,
Semakin menyusut,
Tiap tahun,
Selama 63 tahun.

Kang becak – Milis Sastra Pembebasan, 17 Agustus 2008

Dan, pada waktu itu adalah Proklamasi. Sekarang hanyalah menjadi olok-olok salah satu iklan provider telepon seluler!

Biarlah, karena kita hanya merayakan 63 Tahun Proklamasi. Tidak lebih.

Dan sekarang, panggung itu benar-benar hanya menjadi panggung pertunjukan hiburan rakyat. Karena idola mereka menari diatas panggung itu.

Kecewa Ku Kau Dia dan Mereka

Agustus 6, 2008 § 21 Komentar

Serasa disayat kalau mengingat banyak hal yang terjadi belakangan ini. Semua membuktikan bahwa kita adalah manusia yang tidak pernah bisa lepas dari permasalahan, sedikit pun! “Kau tahu, dimana tempat yang sama sekali tidak akan kau temukan permasalahan di dunia ini Bro?” tanya seorang kawan kepadaku. “Dimana tempat itu?”… “Dibelakang kampus UNS itu masih banyak lahan kosong, untuk kau buat kuburanmu!”

Mati. Kupikir, selama ini hanya orang mati yang merasa sangat nyaman untuk menghindar dari permasalahan duniawi. Banyak hal terjadi pada saat bersamaan, bahkan dua hal yang saling berlawanan sekalipun. Antara kekecewaan dan kebanggaan akan suatu hal. Antara kebahagiaan dan kesedihan. Antara menghampiri dan meninggalkan.

Teringat tentang meninggalkan, saat ini aku dan sahabat-sahabat ku akan meninggalkan sesuatu yang sangat besar dan berat untuk dilepas. Tapi kata mereka “Kita akan meniggalkan apa untuk Adik-adik kita?”. terjadi pada saat yang sama, terasa semua itu akan lepas dan kita bebas, benar-benar tidak akan lagi bisa berada disana untuk kembali menorehkan kata-kata di atas batu pualam untuk dikenang sebagai sejarah! Namun terlanjur kecewa, seharusnya kita bisa meninggalkan semua hal saat ini, untuk suatu kebaikan yang lebih besar!

Aku pernah berdoa, agar suatu saat akan ada yang meningatkan kami akan sebuah substansi. Dalam doaku pun aku menyerahkan diriku, seandainya jalan itu harus ditunjukan melalui diriku dan membuatku menjadi seorang yang harus dikorbankan untuk kebaikan yang lebih besar, aku menerima dengan tulus. Iya, bagaimanapun harus ada yang menjadi korban, harus ada yang menjadi penghantar pesan pada saat perang, dan dia siap mati.

Semua berawal dari sebuah kegelisahan, aku hanya berdiskusi dengan sepi yang setiap kata-katanya memekakan telingaku, setiap malam demi malam kulalui dengan berdiskusi dengan sepi. Sekali waktu aku berdiskusi dengan malam, namun ketika siang datang semua menjadi kabur. Aku mencari jawaban. Tapi yang kudapat adalah pertanyaan. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Agustus, 2008 at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: