TV

September 23, 2008 § 31 Komentar

bangun tidur nonton Tv
makan sambil nonton TV
bermain sambil nonton TV
berkumpul bersama teman hanyalah TV
teman adalah TV
TV adalah Tuhan

mereka ditempat yang berbeda
tertawa bersama TV tapi tetap merasa sepi

Iklan

Mereka Menjadi Korban

September 17, 2008 § 20 Komentar

Lima anak itu kini menjadi lengkap sudah kehilanganya. Sosok Bapak yang sudah tidak pernah lagi dijumpainya sejak beberapa masa lalu, kini Sang Ibu tercinta yang menjadi satu-satunya pejuang dalam hidup mereka, kini hanya tinggal memory yang masih hidup dalam labirin-labirin pikiran mereka saja. “Murniati (50), salah seorang korban tewas, adalah janda beranak lima, yang harus menghidupi dua anak terakhirnya yang duduk di bangku SMP kelas I dan SMA kelas III”(Kompas,17/09).

Disana ada 21 “Murniati” yang sama dalam sekejap. Dalam waktu yang sama pula, ada anak-anak lain yang kehilangan panutan hidup mereka, kehilangan tumpuan hidup mereka.

Hanya sederhana, demi 20 ribu rupiah yang diharapkan didapatkan secara cuma-cuma dari seorang dermawan besar yang setiap tahun menunjukan kedermawananya. Cukup simpel, mereka hanya perlu datang dari rumah lalu mengantri… dan 20 ribu ditangan, tanpa berfikir keras, tanpa keringat yang jatuh berpeluh untuk bekerja keras. Ironisnya, peluh yang tidak mereka keluarkan untuk bekerja itu, dibayar dengan nyawa.

Lalu, ada seorang pejabat besar bangsa ini yang menyatakan “saya kecewa, ikut berduka, kenapa hal ini harus terjadi..” Adalagi yang berencana ingin mengusut kasus ini kepada yang berwajib. Duka 21 keluarga hanya menjadi cibiran dan berita dikala senggang diantara sinetron-sinetron cinta monyet yang dipertontonkan kepada 250 juta penduduk bangsa pengemis ini.

Mereka adalah korban bentukan mental kalian! Kalian hanya berbicara dengan ringan untuk memberikan bantuan langsung tunai! kalian hanya beropini tentang “saat ini adalah saatnya subsidi orang”! kalian hanya berbicara dibalik kursi makan yang nyaman dan empuk! dikala disana kalian hanya menonton kedukaan 21 keluarga ini dibalik jas-jas mewah dan mobil berAC! kalianlah yang harus bertanggung jawab! kebijakan yang selama ini kalian keluarkanlah yang membentuk mental mereka! Mereka sudah menunggu bantuan langsung tunai yang kedua, seperti yang sudah ditayangkan di TV! Mereka hanya bisa menunggu!!! kalian buat mereka menunggu! Mereka tidak kalian ajari bertindak lebih kreatif untuk berusaha tapi kalian membentuk mereka menjadi pengemis-pengemis baru yang ketagihan! « Read the rest of this entry »

Nabilla

September 8, 2008 § 44 Komentar

Cukup, biarkan semua berjalan natural saja pikirku, toh mereka akan sadar dengan sendirinya.

Aku mulai mengambil peralatan perangku seperti biasanya, ransel, helm standard, motor dan beberapa perlangkapan jalan lain. Panti asuhan, tujuanku bersama temanku. Sama sekali lain, aku bertemu anak-anak usia dibawah lima tahun yang entah orang tua mereka ada dimana, entah dari keluarga berada ataupun keluarga tipe 21. Entah dengan sejarah suram akan kelahiranya, atau sejarah yang baru akan dibuat karena mereka tanpa asal-usul yang pasti.

Nabilla, anak usia kira-kira dua tahun itu sedang berada dalam box bayi ukuran 1×1 m dengan krawang-krawang pembatas yang sudah mulai mengelupas cat putihnya, bahkan sebagian sudah karatan. Nabilla baru belajar berdiri. Senyumnya tulus, dari matanya yang bening dan polos itu dia balik menatapku tanpa ekspresi, namun akhirnya setelah kuhibur dengan hiburan konyol ala happy three friend “na…na…na…na…na…3X” akhirnya dia tersenyum juga. Manis sekali anak ini, rambutnya yang masih tipis menghiasi wajah mungilnya, dan dia menunjukan giginya yang baru ada 2 ketika dia tersenyum. Pipinya yang masih kemerahan semakin terlihat lucu dengan sedikit lesung pipit di kedua sisinya.

Nabilla melambaikan tanganya kepadaku, anak ini sangat mudah bergaul, tidak seperti anak kecil biasanya. mungkin bagi Nabilla pelukan dari tangan siapapun adalah kasih sayang, senyum itu semakin lebar ketika dia kudekap, tapi kata suster yang jaga di panti itu anak-anak disini tidak boleh digendong, nanti jadi pengen digendong semua. Dia terlalu muda untuk mengetahui tentang dirinya.

Tiba-tiba ada temanku yang berkata “Apa kata pertama yang akan diucapkan Nabilla ketika dia sudah mulai belajar bicara, ya?” ketika anak-anak lain biasanya mengucapkan “mama..” atau “papa..” lalu apakah Nabilla tidak bisa mendapatkan yang serupa, apakah kata pertamanya haruslah “siapa… ” “aku…”.

senyumnya adalah ironi dari cerita panjang kehidupanya yang berliku, Nabilla. Dia hanya satu dari berjuta-juta “Nabilla” yang lain. Bukankah Nabilla mempunyai harapan yang sama dengan anak-anak seumurnya.

…………….untuk Nabilla……………….. :((

Where Am I?

You are currently viewing the archives for September, 2008 at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: