Mereka Menjadi Korban

September 17, 2008 § 20 Komentar

Lima anak itu kini menjadi lengkap sudah kehilanganya. Sosok Bapak yang sudah tidak pernah lagi dijumpainya sejak beberapa masa lalu, kini Sang Ibu tercinta yang menjadi satu-satunya pejuang dalam hidup mereka, kini hanya tinggal memory yang masih hidup dalam labirin-labirin pikiran mereka saja. “Murniati (50), salah seorang korban tewas, adalah janda beranak lima, yang harus menghidupi dua anak terakhirnya yang duduk di bangku SMP kelas I dan SMA kelas III”(Kompas,17/09).

Disana ada 21 “Murniati” yang sama dalam sekejap. Dalam waktu yang sama pula, ada anak-anak lain yang kehilangan panutan hidup mereka, kehilangan tumpuan hidup mereka.

Hanya sederhana, demi 20 ribu rupiah yang diharapkan didapatkan secara cuma-cuma dari seorang dermawan besar yang setiap tahun menunjukan kedermawananya. Cukup simpel, mereka hanya perlu datang dari rumah lalu mengantri… dan 20 ribu ditangan, tanpa berfikir keras, tanpa keringat yang jatuh berpeluh untuk bekerja keras. Ironisnya, peluh yang tidak mereka keluarkan untuk bekerja itu, dibayar dengan nyawa.

Lalu, ada seorang pejabat besar bangsa ini yang menyatakan “saya kecewa, ikut berduka, kenapa hal ini harus terjadi..” Adalagi yang berencana ingin mengusut kasus ini kepada yang berwajib. Duka 21 keluarga hanya menjadi cibiran dan berita dikala senggang diantara sinetron-sinetron cinta monyet yang dipertontonkan kepada 250 juta penduduk bangsa pengemis ini.

Mereka adalah korban bentukan mental kalian! Kalian hanya berbicara dengan ringan untuk memberikan bantuan langsung tunai! kalian hanya beropini tentang “saat ini adalah saatnya subsidi orang”! kalian hanya berbicara dibalik kursi makan yang nyaman dan empuk! dikala disana kalian hanya menonton kedukaan 21 keluarga ini dibalik jas-jas mewah dan mobil berAC! kalianlah yang harus bertanggung jawab! kebijakan yang selama ini kalian keluarkanlah yang membentuk mental mereka! Mereka sudah menunggu bantuan langsung tunai yang kedua, seperti yang sudah ditayangkan di TV! Mereka hanya bisa menunggu!!! kalian buat mereka menunggu! Mereka tidak kalian ajari bertindak lebih kreatif untuk berusaha tapi kalian membentuk mereka menjadi pengemis-pengemis baru yang ketagihan!

Mereka juga punya martabat,kalian tahu itu?! kalian buta! kalian hanya menginjak-injak harkat dan martabat mereka dengan 100ribu perbulan! padahal buat kalian 100ribu itu hanya untuk mengelap sepatu Cesare Paciotti asal Italian kalian yang terkena debu! Kalian itu… kalian memberi contoh kepada mereka dengan berhutang keIMF, dan dibayarlah hutang2 itu dengan hutang yang lain! Harga diri bangsa ini hanya kalian hargai dengan 100ribu perbulan, dan lainya kalian gadaikan di kantor pegadaian asing! Harta mereka kalian jual hanya untuk menggemukan anjing-anjing persia kalian dirumah! Dan kalian lagi-lagi beriklan politik dibalik penderitaan mereka!

demi 20ribu! sedangkan setiap hari, mereka kalian pertontonkan dengan glamorisme, indahnya kisah percintaan anak remaja kaya tanpa realita, kemewahan dengan gemerlapnya harta tanpa rasionalisasi jelas! menjual mimpi instan menjadi seorang artis, menjual gosip-gosip murahan disetiap jam dalam siaran TV!

Kalau kalian masih membiarkan mereka selamanya seperi itu, TERKUTUK kalian!

Tahukah kalian, mengapa mereka berbuat demikian? Air mata mereka sudah kering…

gambar dari sini
Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 20 Responses to Mereka Menjadi Korban

  • haris berkata:

    cerita kematian itu bener2 kayak fiksi, gak bs dipercaya. aku merinding dengernya, ma.

    btw, kabarku baek. kamu piye? ajari nulis? what? aku yo terus sinau kok.

  • indra1082 berkata:

    Ah……..Menyedihkan………..

  • agus cuprit berkata:

    ohya, klo dah lengser trus mau kemana? semoga semangat juang itu tetap terkobar…

    HIDUP MAHASISWA!!!

  • aRuL berkata:

    inna lillahi… kenapa yah ada tragedi baru kita menyesalkan… hmmm…

  • Diedien® berkata:

    Negara ini mmg penuh kemunafikan pejabatnya (elit² politik)…
    Biarkan mereka hancur atas keangkuhan dan kedzolimannya… 😦
    Indikasi Indonesia semakin MISKIN…. tapi sok KAYA… 😯 👿
    Salam,

  • sigid berkata:

    betapa ini adalah bukan fiksi
    di tengah kehidupan sehari-hari
    sepanjang negeri ironi!

  • Abu Aufa berkata:

    “saya kecewa, ikut berduka, kenapa hal ini harus terjadi..”

    Kenapa? karena di ajari..bukankah beliau yang mengajarkan ttg menyantuni fakir miskin bak roobinhood. yang menganggap kemiskinan bisa hilang cukup dg 100 rb BLT?
    Yang-mertua saya bilang ttg BLT- itulah gaya sodagar, bukan pemimpin.
    Jadi rindu kambing banpres, sapi banpres, kredit usaha tani….saat negeri ini memiliki pak harto, lebih riil bung. untuk menjaga yang lemah tetap tegak berdiri meski bukan u menjadi raksasa.
    salam kenal, abu aufa aufia.wordpress.com

  • peyek berkata:

    Hm… saya menyalahkan mereka, pejabat negeri ini dan sekaligus saya sendiri.

  • ndop berkata:

    sudah sudah ndak usah saling menyalahkan, mumpung di bulan romadlon, kita musti mengambil hikmah saja… dan mendoakan supaya yang bersalah segera minta maaf dan menyesali perbuatannya.. dan tidak mengulanginya…aamiin…

  • kucingkeren berkata:

    katanya untuk Rp 30 ribu .. Tapi berapapun, semuanya sekarang gak ada artinya.. tragis. semoga arwah para korban diterima dengan baik di sisiNYA

  • Abeeayang™ berkata:

    sungguh memiriskan hati……..

  • ressay berkata:

    Melakukan hal baik dengan cara-cara yang tidak baik, menurut logika aristotelian, itu g benar.

    Marilah kita melakukan hal-hal benar, dengan cara-cara yang benar, semata-mata untuk YANG MAHA BENAR.

  • fauzansigma berkata:

    @ haris: hehe, ris km kan udah menang bbrp award ttg penulisan.
    @ indra1082: iya mas..
    @ agus cuprit: yg jelas masih sgt dekat dgn apa yg sy lakukan skrg mas
    @ arUL: iyo bang arul .. parah bgt
    @ Diedien®: smoga mereka segera dapat pencerahan bung .. salam
    @ sigid : fiksi yang mjd kenyataan.
    @ Abu Aufa: kita smua kecewa kan bung, salam hangat
    @ peyek: yup, krn ini adalah pemasalahan sistemik
    @ ndop: km kok bisa bijak gt ndop?
    @ kucingkeren: yup, bahkan dibayar dengan nyawa
    @ Abeeayang™: ya mas abee
    @ ressay: ya, seperti halalan toyyiban.. halal dan baik

  • Gelandangan berkata:

    kenapa pemerintah tidak pernah belajar dari situasi gini yah

  • inidanoe berkata:

    lha piye boz..???
    nggawe lowongan pekerjaan po..???
    tapi nek pemerintah yang buat lowongan pekerjaan., tar malah jadi wahana dokrinisasi pemerintah yang Kcoret 😀

  • afwan auliyar berkata:

    memang bangsa ini harus berbenah ….

    bukan cuman soal pemimpin saja, tp juga sistem yg mengaturnya … 🙂

  • Qittun Nyepam berkata:

    Om Danoe telah bangkit dari kuburnya..wakakakaka…

    Tulisanmu bagus sig, dipublikasikan ulang boleh nggak nih….
    Sig besok ada kejutan dari aku…tunggu aja…

  • fauzansigma berkata:

    @ gelandangan : iyas mas itu jg yg sy sayangkan
    @ inidanoe: bikin warung kopi…
    @ afwan auliyar: revolusi mas? sepakat!
    @ Qittun Gila: boleh ajalah, koyo opo wae, emang pantes apa dipublikasi ulang? hehe.. wah mo bikin kejutan apa Tun? *berharap*

  • nunik berkata:

    yah…gimana ya??? gak ada abisnya kalo trus menyalahkan. yuk,,qt perbaiki ini dari sekarang. konkrit. jadi biar qt gak jago teori donak. tapi konkrit. turun tangan langsung di lapangan. (bukan bagiin blt loh..) tapi, ya dari sekarang ini, sejak dari mahasiswa. perbaikan itu butuh perbuatan. cinta itu butuh pembuktian.
    (halah!!!gak nyambung ya???)

  • anto bem'ers berkata:

    po di gawe koyo cuba WAE,, NGKO GURU BESAR’E Mbah fidel

    indonesia——–indonesia——-
    aku cinta padamu
    tapi
    wakil-wakilku nggambus thok…

    wis penak’e
    bangkit atau mati bung?!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mereka Menjadi Korban at lebihbaik.

meta

%d blogger menyukai ini: