PUTHU

Oktober 7, 2008 § 73 Komentar

Dibuat dari parutan kelapa, kemudian diambil ampasnya, lalu bubuhi gula merah di dalamnya. Membuatnya unik apalagi cara menjualnya, seorang penjual puthu akan berkeliling dari desa ke desa dan membawa aroma serta bunyi yang sangat unik.. “ngiiiiii…ng..” seperti lebah tapi sedikit mengambil nada yang lebih tinggi. Membawa harmoni dan irama di desa semakin tenang dan damai, dengan kesederhanaanya. P-u-t-h-u. Kalau dituliskan kurang lebih seperti itu, namun mengejanya tidak biasa, mengeja T dalam Puthu tidak sama dengan T dalam Petai, namun T dalam Puthu seperti T-nya orang suku Bali. Namun setahu saya makanan khas puthu ini hanya terdapat di Jawa tengah, DIY dan sekitarnya, *tapi mungkin udah menyebar ke banyak daerah*. Jadi membaca Puthu, dengan T-Bali namun logat Jawa. Ah, khas sekali. Benar-benar Indonesia.
Puthu yang ini berbeda dengan Puthu lainya yang biasa tersaji dimeja makan keluarga atau resepsi suatu pesta, namun sang pejuang penjual puthu ini menggunakan sepeda sebagai media transportasinya, siang hari ketika terik matahari masih berada diubun-ubun dan membakar kulit para pecinta salon perawatan, sang penjual puthu masih tetap gigih dengan pendirianya, bahwa puthu ini harus terjual habis untuk bisa menghidupi keluarganya. Di Solo, masih ada beberapa penjual puthu yang sering saya temui, sebutlah Pak John. Nama lengkapnya adalah John Paijon.

Pak Jon, dia berumur kurang lebih hampir 50-an. Walaupun tubuhnya sudah mulai termakan usia, namun dari sinar matanya, dia adalah seorang yang gigih, sudah berpuluh-puluh tahun Pak Jon berjualan puthu keliling Kota Solo, cukup jauh, lebih jauh dari Kontrakan saya ke kampus yang hampir 10km. Pak John, sepeda Onthel Kebo jenis Kebo Wedoknya sudah menemaninya sejak pertama dia berjualan Puthu. Sejak subuh dia sudah ke pasar tradisional, kemudian mengolah bahan baku Puthunya untuk dipasarkan. Ketika kebanyakan orang mulai mempersiapkan mobilnya untuk pergi ke kantor, Pak Jon pun tidak kalah, dia mempersiapkan Pit Kebo kebanggaanya di depan rumah dan dibelakang Pit Kebo itu sudah disiapkan dengan sejenis Bakul yang mirip bronjong, namun di dalamnya terdapat kompor untuk memanaskan Puthu yang akan dijualnya nanti. Kompor minyak, ban sepeda, dan pastinya bahan baku puthu sudah siap mewarnai Dunia dengan kesederhanaanya.

Berapakah harga Puthu? @ Rp 250,- . Setiap bulir – bulir puthu yang diracik dari tangan keriput Pak John dihargainya dengan Rp 250 saja. Biasanya saya membeli Puthu 10 biji untuk saya makan bersama 3 orang teman. Rp 2500. Namun saat ini peminat puthu sudah mulai menurun drastis, Puthu bisa saja sudah tidak dikenali oleh generasi setelah saya yang lahir setelah tahun 80 – 90an. Anak – anak SD bisa jadi sudah tidak kenal lagi dengan Puthu ini, padahal Puthu dahulu adalah makanan kesukaan saya dan teman-teman saya, ketika sore hari penjual puthu serasa membawa kebahagiaan, mereka datang dengan bunyi khasnya, yang kencang namun ringan, membawa anak-anak kecil seusia saya dulu untuk saling bertemu dan bercengkerama dalam kesederhanaan. Penjual puthu bukan hanya membawa sebungkus makanan, namun membawa pesan kebahagiaan. Kami menjadi berkumpul dengan teman-teman sebaya untuk saling mengenal satu sama lain. Kalaupun ada perkelahian, toh itu hanya anak kecil sewaktu itu, tidak akan terjadi apa-apa setelah mereka bersalaman 5 menit kemudian.

Namun ditangan Pak John, Puthu masih tetap eksis menjadi salah satu kearifan lokal. Pak John bisa jadi adalah generasi terakhir pembuat puthu, kalau beliau tidak mewariskan ilmu perPhutu-an kepada anak-anaknya. Pak John mulai tergantikan dengan costumer service, tergantikan dengan kasir, tergantikan dengan muka manis palsu sales promotion girl. Nikmat puthu sudah dialihkan pada nikmat snack instan yang setiap jam iklanya muncul di media televisi, Nikmat persahabatan dalam kesederhanaan mulai tergantikan dengan filem-filem sinetron konyol yang dipaksakan ditonton oleh anak-anak yang belum dewasa, yang bahkan pertengkaran kecil seorang anak SD bisa menjadi pembunuhan. Tangan terampil dan indra perasa Pak John mulai digantikan dengan mesin-mesin besar tanpa otak dan perasaan.
Pak John pernah mengaku, dia hanya bisa mendapatkan 8 pelanggan dalam sehari, dengan jarak tempuh lebih dari Solo – Sragen (kurang lebih 25 km). Popularitas Puthu sudah meringsek jauh kebawah, ke khas-an puthu dan bunyinya mulai tidak dihiraukan karena saat ini sebagian besar dari kita dan anak-anak itu tumbuh didunia instan.

Puthu, kemudian orang-orang seperti Pak John, persahabatan, kesederhanaan, kebahagiaan, dan nostalgia … saat ini bisa dilipat hanya menjadi satu keping CD!

yang pada saatnya, akan sangat mudah terkena virus atau rusak … dan musnah!

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 73 Responses to PUTHU

  • Qittun berkata:

    hhhhmmmm…. Jadi inget masa kecil, gak nyangka kesukaan kita sama sig… Tapi sayang di desaku udah gak ada lagi yang jualan Puthu, hiks… 😦

  • peyek berkata:

    sayang!
    kenapa nggak ada yang bikin franchise puthu!
    layak coba itu. hmm… ;))

  • Zulmasri berkata:

    puthu? dulu tahun 70-an saat masih kanak-kanak orang tua sering beli. nggak tahu, apa skrg masih ada atau tidak.

    jadi kalau dikatakan puthu hanya ada di jateng dan yogya perlu diteliti lagi.

    o ya, masa kecil sampai tamat kuliah saya habiskan di sumatera barat

  • yulism berkata:

    Kalau di Surabaya puthu bisa ditemuai setiap saat. Tetapi kalau di desa saya hanya bisa didapa pada saat “buka giling” pesta pembukaan produksi pertama pabrik gula. Jadi makannya ciman setahun sekali he he.. 😛 thanks

  • edratna berkata:

    Di kompleks perumahan tempat tinggalku, setiap sore masih lewat penjual puthu dengan iramanya yang khas. Cuma libur lebaran ini kelihatannya pulang kampung.

    Puthu makanan sehat dan rendah kolesterol.

  • nurma berkata:

    kirain ngomongin temen saya si puthu…

  • itikkecil berkata:

    di Palembang sini yang jualan puthu masih ada. masih sering lewat kalau malam.

  • anna berkata:

    waha.. anna suka banget ama makanan yang satu ini.. Disini ada juga yang jual, dilihat2 sih kayaknya cuma 1 orang yang jualan. Biasanya adonan puthu-nya dikasih pandan, jadi berwarna ijo.. kalo ga salah disini-kalimantan- sekarang dah seharga Rp. 500,- perbuahnya (lama ga beli 😀 )

  • don45 berkata:

    Penggemar puthu kok bisa menurun ya padahal rasanya kan enak !!! biasanya sekali beli saya habis 20 untuk dirir saya sendiri !!!

  • gendhismanis berkata:

    saya juga suka puthu kok! tapi kudu yang masih anget, pas kena gula merahnya itu loh, mak nyuss… Hehehe..

  • ariefdj™ berkata:

    waktu kecil, saya suka sekali makan puthu… tapi, setelah besar, saya lebih suka cari makanan lain bareng ni made…

  • mujahidahwanita berkata:

    Salam

    Di daerah saya puthu….udah nggak ada lagi/langka atau mungkin juga punah, soalnya enggak pernah nemuin lagi itu puthu…

  • alris berkata:

    Puthu : kenangan masa kecil, masih berlangsung saat ini dan Insya Allah sampai akhir masa.
    Salam kenal, silahkan mampir ke blog saya. Saya baru mulai belajar, masih sangat bayi dalam dunia blog. Mohon bantuan semua pihak yang mau membantu saya dalam dunia per-blog-kan. Semua bantuan anda tidak akan sia-sia, akan di catat oleh sang Khalik sebagai amal.

  • Yari NK berkata:

    Di Bandung hampir tiap hari masih ada yang jual putu dan klepon. Walaupun sudah lebih dari 5 tahun saya tidak pernah beli putu lagi. Bukan karena nggak suka lagi, tetapi yah… seringkali sekarang banyak sekali macam panganan mangkannya sampai bingung. Tapi jangankan putu, hotdog aja saya nggak pernah beli lagi hampir 3 tahun. Tetapi mbaca postingan ini saya jadi ingin ngerasain lagi kue putu. Asal jangan terlalu manis aja kali buat saya… hehehe……

  • Rindu berkata:

    ini kue kedoyanan saya ini kang … duh, pengen banget 🙂

  • Sarah Luna berkata:

    Enak tuh kayaknya.. Dah lama gak makan putu… Dulu wkt kecil, kalo dgr bunyi “ngiiii…ng” nya itu..langsung lari keluar rumah.. buat beli.. sekarang jarang dirumah siyh…

  • septy berkata:

    wah, saya jaman sd-smp dulu penggemar puthu,
    sayang sekarang sudah sangat jarang penjual puthu yang lewat di depan rumah…

  • aRuL berkata:

    hehee, seperti sy bilang putu udah mengindonesia walau asalnya dari jawa tengah yakz… 🙂
    btw kalo dirasakan itu putu, sebaiknya dimakan jangan banyak2 malah ntar tambah eneg…
    seperti halnya madu, yang diminumsedikit2, terasa aromanya mewangi 🙂
    eh kalo sy ke solo, traktir putu yakz, mau rasakan gimana puthu di sana 🙂 hehee

    *btw.. sy juga nulis tentang penjual loh, tapi dari perspektif lainnya, wanitanya gitu 😀

  • Kang Nur berkata:

    wa betul kalo nasib penjual2 kelilingan jadi tersisih karena kini banyak macam jajanan jualan lain 😦
    padahal keramahan, ketulusan, persahabatan; dari hubungan penjual-pelanggan itu sesungguhnya hampir tak tergantikan oleh yg lainnya..
    kalo tempat saya orang jualan bakso, juga es dhung-dhung (es putar yg jualnya dng mukul2 bendhe hingga bunyinya dhung-dhung) kini kalah dgn warung2 pinggir jalan
    dulu orang jualan bakso masuk kampung sambil pukul2 mangkok/piring/kenthongan kecil

    kalo puthu jualnya cuman dekat anak2 sekolah SD, saat waktu istirahat

  • langitjiwa berkata:

    saya suka sekali makanan ini,mas.
    sayang di tempat sy tinggal ini,jrg sekali tukang puthu.
    memang nikmat sekali bila dimakan masih panas,di situ seninya,hahaha…

  • Sawali Tuhusetya berkata:

    sungguh layak diapresiasi kerja pak john *btw kok namanya kebarat-baratan yak * yang masih setia memproduksi puthu dengan cara2 tradisional. mungkin ada bagusnya kalau puthu buatan pak john dikemas lebih sedikit modern agar nilai jualnya lebih tinggi. konon, ilmu marketting bilang begitu, mas sigma. oh, ya, selamat idul fitri, minal aidin walfaizin, mohon dimaafkan semua kesalahan dan kekhilafan saya selama ini, mas sigma. sukses selalu buat mas sigma. salam buat keluarga.

  • mang kumlod berkata:

    Puthu baru tau ada huruf h nya, cuz si pedagang ga pernah nulisin kata puthu ini…

    Mengenai pak jon yg sudah bertahun2 jualan puthu, saya kok kasihan. Ga ada kemajuan dalam usahanya. Ini yg bikin saya menangis ketika liat tukang dagang favorit saya waktu kecil lewat depan rumah pas saya pulang kampung masih bernasib sama sampe sekarang. Ga ada kemajuan. Saya hampir ga percaya, kok bisa mereka begitu terus sementara zaman udah berlari meninggalkan mereka?

  • sha berkata:

    Saia jadi inget sama bapak tukang puthu yang jadi langganan keluarga saia sampe beberapa waktu lalu . udah 2 bulan gg keliatan . semoga aja cuma pulang kampung kaya biasa’a

  • fauzansigma berkata:

    @ Qittun: oalaahh lah.. bukanya km sukanya bandeng Tun?
    @ peyek: iya , bkin puthu yg agak unik aja yah
    @ Zulmasri: nah itu jg yg saya tanyakan mbak, krg ada data pasti
    @ yulism: surabaya ada puthu jg yah..
    @ edratna: wah ilmiah tuh, sehat dan rendah kolesterol
    @ nurma: saya gak suka ngomongin org 😀
    @ itikkecil: hee,klo malam lewatnya?klo siang pempek yah
    @ anna: iya yg 500an kayaknya lebih gedean deh ukuranya
    @ don45: beli 20 PAK???
    @ gendhismanis: gula merahnya manis bgt mbak.. *kyk sy* huek..
    @ ariefdj™: puthu.. memang udah gak jadi makana pilihan
    @ mujahidahwanita: emang di daerah mana mbak skrg tingalnya?
    @ alris: salam mas alris, semoga tetep jaya!
    @ Yari NK: kalo kemanisan tinggal liat saya pak, pasti ilang, hahaha
    @ Rindu: mo saya beliin mbak?
    @ Sarah Luna: lha sekarang sering nya dmn mbak sarah? di udara..
    @ septy: skrg jadi penggemar siapa dunk jadinya?:)
    @ aRuL: iya bang, makanya sy nanya ke ente wkt ituh, hehehe,iya sy udah baca tentang wanitanya.. ah.. kirain..:D
    @ Kang Nur: mas, memang benar, sy sudah katakan smua yang serba instan ini akan segera musnah
    @ langitjiwa: iya mas.. jaman skrg udah sulit dpt makanan unik kayak gini.
    @ Sawali Tuhusetya: kliatanya pak guru bisa jelaskan ke mereka, saya rasa pak sawali lbh tau caranya.
    @ mang kumlod: iya mang, mgkin karena mereka memang kurang bimbingan dari org2 disekitarnya, makanya kita harus bantu mrk.

  • fauzansigma berkata:

    @ S H A : tukang puthu itu mungkin sedang mencari tempat yang lebihbaik untuk dia dan keluarganya, solo udah mulai penuh sesak

  • kyai slamet berkata:

    yang jual keren banget namanya JOHN
    hehehehhe 😀

  • yessymuchtar berkata:

    ahh..jadi pengen makan putu mas hihihi

    entar sore tungguin ahh depan rumah..dengan bunyinya yang gak berhenti itu ..seperti siulan peluit memanggil …

  • ma2nn-smile berkata:

    heheh…aq suka yang warnanya ijo..

  • uNieQ berkata:

    dimakassar juga ada kok puthu…tp kayaknya harganya udah Rp. 500. klo model kek gini, dibilangin puthu nangis.. soalnya suaranya yang ngih..nging itu lho kaya orang nangis hehe

  • Puthu kalo ditempat saya warnanya ijo…dulu pas kecil heran banget ma suara peluit uapnya itu, hehehe

  • Gyl berkata:

    tenang mas. Saya dulu di balikpapan, kaltim ada penjual puthu kok. Dan itu juga pas saya SMP dulu…

    Enak juga lo, apalagi kali pas gula merahnya gak dicampur apa-apa. Hmm… nikmat.

  • kucingkeren berkata:

    aku kangen kue puthu ini.. panas dan manis.

    Pak John pernah mengaku, dia hanya bisa mendapatkan 8 pelanggan dalam sehari, dengan jarak tempuh lebih dari Solo – Sragen (kurang lebih 25 km)..—> . busyet dah… btw Rp250 per buah? hmm.. bagaiman bisa dpt untung ya? hmmm… aku jadi lapar pengen makan puthu..

  • devry berkata:

    Ehmmm… biasanya yang jual pakai pikulan keliling kampung dech! 😀

  • santribuntet berkata:

    Puthu memang simbol perjuangan dari sebuah kesederhanaan 😀

  • yudhi14 berkata:

    jadi inget waktu masih kecil
    karena ibu saya suka membuat phutu untuk sarapan pagi dan untuk ngopy di siang hari
    paling enak tuh kalo kopi nya pahit dan kelapa nya agak banyak
    euuuuuuuh jadi ngiler
    btw yang pasti bisa mengingat kan kenagan

  • rizoa berkata:

    jadi ngiler nech,,,

  • novnov berkata:

    kue jaman kecil dulu yang sekarang udh mulai langka….tapi di Jambi masih ada yg suka lewat depan rumahku lho….

  • ivanmuhtar berkata:

    Mas, mbok aku dibawain PUTHUnya itu…. aku pengeeeeen….

  • mierz berkata:

    di kampoeng saya, udah gak ada lagi puthu, tapi sekarang di sidoarjo bisa dengan mudah dapetin puthu, heheh

  • nunik berkata:

    kayanya kalo mau bikin putu harus pake alat khusus yang dibawa abang2 yah… kalo lagi pengen susah, harus nunggu abangnya lewat (kalo masih ada yang lewat yah??) tapi kalo bikin klepon ma gampang banget….

  • Iman Brotoseno berkata:

    iya udah hampir punah di jakarta, padahal bunyinya suara bambunya yang buat teringat kembali ke masa kecil…

  • Anggie berkata:

    Di Bandung puthu ini masih banyak, sayang rasanya sudah tidak senikmat dulu lagi

  • di Kalsel juga ada penjual puthu walau bisa dihitung dengan jari. Suaranya khas, ada bunyi tuuuttttt…tuuttttt…. Saya gemar juga makan puthu jenis ini. Apa sama ya puthu ditempat saya dengan yang dimaksud kang Fauzan…

  • masDan berkata:

    Di depok ada Penjual Puthu Ndak Ya ………..

    Jadi Inget Nganjuk …

  • juliach berkata:

    Aduh itu kue puthu bikin ngiler. Tapi sayang sekarang bungkusnya enggak pakai daun pisang lagi ya?

  • regsa berkata:

    enak dinikmati waktu sore hari sambil minum teh apalagi pas sehabis hujan . Kerinduan tentang makan puthu sekarang terobati karena di Btam udah ada orang jualan puthu keliling,ngak menggunakan pit kebo tapi pake honda supra fit . eh tapi ngak seperti di Solo puthu di Batam warnanya hijau :mrgreen:

  • ichanx berkata:

    ih… jadi inget… jaman kecil tiap malem ada tukang putu lewat depan rumah…. bunyinya “nguuuuuuuuuuuuuuung”

  • indra1082 berkata:

    MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
    mohon Maaf Lahir dan Batin

  • ndop berkata:

    ndik nganjuk warnane ijo lo…

  • mujahidahwanita berkata:

    emang di daerah mana mbak skrg tingalnya?
    =======================================================================

    Saya tinggal di daerah kal-tim, balikpapan.
    Mengapa tidak ada yang jual putu di daerah saya, karena daerah saya tinggal, daerah danger, banyak gigi-gigi taring yang siap mengigit
    orang-orang asing yang lewat.

    Saya tinggal di perkampungan yang rata-rata menganut agama Nasrani
    hanya 3 rumah yang beragama islam, termasuk rumah saya.
    Rata-rata mereka memelihara hewan yang di haramkan oleh umat muslim.

    makanya tidak ada para pedagang keliling yang masuk di perkampungan tempat saya tinggal

  • aziz berkata:

    kok warnanya putih yah? ditempat saya warna puthunya biasanya ijo??….

  • penjual puthu berkata:

    terima kasih mas , kmrn udah beli puthu sy.. doakan smoga puthu sy laris terus ya mas.. keep blogging mas..

  • fauzansigma berkata:

    @ kyai slamet: JOHN PAIJON! hahahaha
    @ yessymuchtar: he’em mbak yessy
    @ ma2nn-smile : sy jjuga
    @ uNieQ: hahah, putuh nangis, hehehe ., aga kareba bu?
    @ Joell Tukang Nggunem: ya itu pak ke khas-anya…
    @ Gyl: bner banget pak
    @ kucingkeren: memang begitu perjuanganya..
    @ devry: skrg pake pit kebo … yg sy jumpai sih
    @ santribuntet: that’s the point pak kyai..
    @ yudhi14: waaaa sy jg jadi pengen..
    @ rizoa: dilap dlu bos,,
    @ novnov: syukurlah, smoga tetap eksis ya
    @ ivanmuhtar: yo van,, kapan2 yoh
    @ mierz: sidoarjo, mudah kenapa ?
    @ nunik: masa gt Nik? bikinin klo gt…
    @ Iman Brotoseno: iya mas iman, sy kira perlu ada regenrasi deh penjual2 ituh
    @ Anggie: mgkin karena bandung banyak polusi kang?
    @ Syamsuddin Ideris: saya kira juga sama pak, mungkin cm warna nya aja yg sedkit beda
    @ masDan: depok.. sy krg tahu mas, tp nganjk ada..
    @ juliach: pake kertas minyak mbak..
    @ regsa: hahaha, di batam pake supra fit yah, hehe
    @ ichanx: iya chank, skrg udah jarang yah?
    @ indra1082: nggih mas indra, maaf lahir batin
    @ ndop: iyo cak, kediri podo
    @ mujahidahwanita : saya di solo mbak, waaw,. perjuangan mbak ini luar biasa ya disana, smoga bermanfaat
    @ aziz: iya mas, di sini warnanya putih, dalamnya manis..
    @ penjual puthu: smoga laris pak..

  • qizinklaziva berkata:

    keren euy nama tukang putunya Pak Jon…. kirain Pak Made!

  • chic berkata:

    phutu favorite yang di jual di deket pasar tebet.. sayang di Jakarta phutu sudah mahal.. hiks

  • hanggadamai berkata:

    wah harga puthu dijakarta 500 ..
    itupun sudah lama sekali entah sekarang berapa..

  • rasanya aku sudah lama tak mencicipi kembali kue itu. udah tahunan deh kalo gak salah 🙂

  • pimbem berkata:

    aduh mbaca tulisan mas fauzan kok seolah2 ada harum puthu yg khas…
    laper euy…

    dulu waktu saya masih sekolah, hampir tiap sore dan malam ada penjual putu yg melintas di dpn rumah, skrg sepertinya udah jarang sekali..
    saya kangen suara uapnya… asapnya… warna ijonya… gula merahnya… kelapanya… kl dimakan seperti ada pasir manis yg bermain di dalam lidah… yummy!!

  • Wow saya suka … bila lewat di muka rumah langsung beli he he

  • Kyaaa! Puthu itu cemilan favorit saya di Jogja dulu buat temen lembur! Kok di Jakarta saya ndak pernah liat orang keliling jualan Puthu ya? Heran!

  • Elys Welt berkata:

    aduh .. aku suka makanan ini, di kampungku disebut puthu bumbung 😀

  • escoret berkata:

    lama ga makan,makanan ini…..

    di jogja buanyakkk bgt….tp,di semarang ga ada…hik.hik

  • gadis berkata:

    putu nyam nyam eunak isinya gula merah

  • Fenty berkata:

    Terima kasih sudah mampir … aahh ngomongin Puthu … kangen juga jadinya sama makanan satu ini, memang biasanya sih warnanya ijo kalo di jawa 😀

  • Alex berkata:

    kue putu wah…..pasti enak tu mas fauzan..sy suka sekali

  • norjik berkata:

    ini dulu mknan favoritku waktu SMA. Smpe skg msh sering “lwt di dpn rmh dg suara yg khas …”tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu” .. tp kl di balikpapan warnanya koq Hijau ya 🙂

  • agungfirmansyah berkata:

    Iseng-iseng mbayangin…

    Gimana caranya putu gantiin sandwich… 🙄

    Bakalan keren bgt tuh klo jadi.

  • Jane berkata:

    wa… jadi inget putu di daerah tempat kerjanya papaku.. kalo si papa pulang kadang suka beli.. tapi dah lama gak pernah makan lagi.. huhu.. jadi kangen.. >.<

  • ikrar berkata:

    waktu kecil itu saya bilang kue nguk.
    karena pasti ada sirinenya ketika lewat rumah saya. dan lampu nya redup
    wah jadi inget masa kecil

    salam kenal ya

  • kucingkeren berkata:

    mas.. puthunya blm habis juga ya… kirim2 dong 🙂

  • wet berkata:

    aku suka banget ma puthu…..

  • Huang berkata:

    udah lama juga gak beli kue puthu :D, biasanya bunyi nging-nging-in.. yang nandain tukang jual puthu lagi lewat

  • aklam berkata:

    hmm mantap mas 🙂 salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading PUTHU at lebihbaik.

meta

%d blogger menyukai ini: