Cintanya Tanpa Syarat

Oktober 21, 2008 § 46 Komentar

Kepada Ibu yang padanya aku berhutang cinta yang tak pernah terbayar lunas sampai mati sekalipun, kepada Ibu yang dalam setiap doanya senantiasa kudengar namaku disebut, kepada Ibu yang tidak pernah lelah untuk menyayangiku. Untuk Ibu yang selalu menangis ketika aku sakit, kepada Ibu yang telah membawaku kemana-mana dalam 9 bulan ditiupkan rohku dirahimnya. Kepada Ibu yang sering aku sakiti hatinya namun tak pernah sekalipun mengeluh dan berkata-kata kasar padaku, kepada Ibu yang selalu menentramkan jiwa ku disaat semua cahaya telah padam, kepada Ibu yang jauh disana namun selalu memelukku hangat dalam doanya.

Kepada Ibu yang tersenyum dan menangis bahagia ketika melihat dan mendengar tangis pertamaku di dunia ini, pada 21 Oktober beberapa tahun yang lalu. Kepada Ibu yang mengajarkan ku kesederhanaan dan kesempurnaan hidup dengan kesederhanaan itu, untuk Ibu yang mengajarkan berbagai macam ilmu, untuk Ibu yang selalu mengajarkanku menggunakan mata hati, untuk Ibu yang mengajarkanku ikhlas menerima berbagai macam keadaan.
Untuk Ibu yang pernah merasakan pahit getirnya membesarkan anak laki-laki bandel sendirian, dengan segala keterbatasan dengan segala himpitan namun semua dilawan dengan Cintanya. Yah, dia sangat mencintaiku, namun aku selalu lupa.

Ibu, saat ini anakmu telah menjadi manusia dewasa *insya Allah*. Saat ini anakmu telah kau besarkan dan mengerti bagaimana kebenaran itu ditegakkan, bagaimana mencari sebuah hakikat tentang kebenaran, bagaimana harus bersikap tegar dengan segala deraan. Bagaimana memegang prinsip yang telah Ibu ajarkan kepada ku.
Ibu telah memberiku kesempatan untuk menjadi seorang manusia luar biasa, walaupun hidup kadang susah, namun Ibu selalu menyekolahkanku di tempat-tempat yang luar biasa, dan disana aku bisa belajar banyak hal Bu. Di antara teman-temanku dan keseharian Ibu selalu mengajariku suatu pelajaran bagaimana menggunakan hati nurani yang jarang bisa di dapatkan di sekolah-sekolah jaman sekarang.

Bu, ijinkanlah anakmu ini memilih jalan hidup ini Bu, anakmu ini memilih jalan hidup kesempurnaan dengan kesederhanaan, seperti Rasulullah, yang hidup sederhana namun setiap langkah hidupnya dipenuhi dengan barokah dan memberi inspirasi untuk setiap orang. Karena tidak ada lagi figur pemimpin  di bangsa kita ini yang hidup seperti Rasulullah Bu, semua hanya mementingkan simbol-simbol kekayaan materi tanpa tahu batasan. Padahal yang diajarkan Ibu adalah bagaimana kita menerima segala sesuatu dengan apa adanya, itu adalah konsep bersyukur yang aku dapatkan dari Ibu.

Bu aku ingin menjadi pejuang untuk mereka yang lemah, untuk mereka yang selalu ditindas oleh kedzaliman, untuk mereka yang menangis kelaparan, untuk mereka yang tidur kedinginan di pemukiman kumuh, untuk mereka yang masih buta dengan pendidikan, untuk mereka yang tidak pernah merasakan kasur empuk karena hanya bisa tidur dijalan, untuk anak-anak terlantar yang entah orang tuanya pergi kemana, untuk para pedagang kaki lima yang setiap saat khawatir akan digusur paksa, untuk bayi-bayi polos yang tidak pernah merasakan pelukan seorang Ibu. Aku ingin membagi kebahagiaan seperti yang aku dapatkan dari Ibu, kepada mereka Bu. Ibu masih ingat kan ketika kita pernah hidup susah berdua? Sekarang kita sudah cukup sempurna Bu, dan saatnyalah anakmu ini untuk mengajak mereka-mereka untuk keluar dan jerat kesusahan itu, Ibu telah mengajarkanku hal itu. Dan hal itu akan sangat luar biasa karena pastinya Ibu merestui perjuanganku, pahala yang Ibu dapatkan tidak akan berhenti mengalir hingga Ibu sudah disisiNya nanti…amiin… Karena Ibu telah mengajarkan Ilmu kepada mereka dan kepadaku pastinya.

Untuk Ibu yang cintanya tanpa syarat! yang telah mengajariku cinta sejati…Maafkan anakmu ini…
Tidak ada kalimat yang pantas untuk mengungkapkan rasa cinta Ibu kepadaku.. tidak ada…

Bu, semoga Ibu, Bapak dan Adik Bita selalu sehat disana. Doakanlah anakmu yang sedang mencari Ilmu di Solo ini.

Solo, 21 Oktober

hari ini adalah hari bersejarah untuk ku dan Ibu.

Iklan

Tagged: , , ,

§ 46 Responses to Cintanya Tanpa Syarat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cintanya Tanpa Syarat at lebihbaik.

meta

%d blogger menyukai ini: