Gedung itu Bernama Porsima

November 26, 2008 § 37 Komentar

Begitu mendekati gerbang belakang kampus, secara reflek haluan kendaraanku memasuki gerbang dan langsung berbelok ke timur, menuju kompleks gedung UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Masih ramai dengan berbagai macam kegiatanya para rekan-rekan mahasiswa itu rupanya. Seperti biasa. Dan aku hanya berhenti sejenak dan diam didepan Gd. Porsima.

***

kebersamaanbeberapa mahasiswa beralmamater, naik turun tangga di gedung itu, dan sepertinya dia begitu sibuk membawa barang-barang, dari pemflet selebaran, hingga kursi lipat dan juga meja. Rupanya lepas ada kegiatan dari lembaga yang menempati sekretariat di gedung itu. Wajah mereka berpeluh, sepertinya lelah, namun dia masih tertawa dan tersenyum ketika melihatku. Apa aku kenal dia? ehmmm… apa dia mengenalku? Aku tak lagi mengenali wajahnya. Anak baru mungkin, pikirku.

Dulu banyak teman-temanku disana, digedung itu, bahkan aku yakin sebagian besar dari mereka mengenalku, minimal tahu namaku. Seperti anak itu tadi, mereka bagitu tulus, begitu ikhlas, tanpa mengharapkan sekocek materipun. Gila! aku pikir. bagaimana bisa mereka mempunyai niat yang begitu tulus. Aku banyak sekali belajar dari mereka untuk hal yang satu itu.

Awal tahun 2004 ketika aku baru saja menginjakan kaki di kampus indah ini, aku tergerak untuk ikut langkah-langkah mereka yang berada di gedung itu. Karena saat itu, maklumlah mahasiswa semester satu yang sama sekali buta akan wacana perkampusan, aku asal saja masuk gedung itu. Namun ternyata aku sama sekali tidak salah jalur, aku menemukan banyak orang hebat disana, kakak-kakak yang luar biasa perhatianya kepada kami mahasiswa baru saat itu. Aku dilatih untuk berpikir, berdiskusi, berbicara, dan berinteraksi dengan banyak orang. Aku dan beberapa temanku sesama mahasiswa baru dihadapkan dengan banyak masalah, dan kami mau tidak mau harus proaktif terlibat secara langsung, muatan-muatan ideologis dan berbagai macam variabel permasalahan kami hadapi bersama. Dan rupanya kakak-kakak kami itu sedang mengalami masalah yang begitu berat, mereka tidak hanya berdiskusi dan berpikir, tapi mereka menggunakan hati nurani untuk bertindak. Pernah suatu malam aku diajak mereka untuk bercerita dan ngobrol santai, kujumpai banyak sekali petuah-petuah bijak yang sangat dalam dan sangat luar biasa untuk menghadapi berbagai hal dalam hidup. Mereka bercerita hingga mata mereka lebam, menahan tangis.

Sejak saat itu, aku benar-benar jatuh cinta pada ruh perjuangan itu. Aku harus mampu menjadi seperti mereka minimal. Karena disana, aku diajari melihat sesuatu dengan mata hati, yang pastinya pelajaran itu tidak kudapatkan dari kurikulum berbasis kompetensi. Mereka mampu memberiku contoh bagaimana aku harus bersikap sebagai mahasiswa, tapi disana aku tidak merasa digurui, kami belajar bersama. Walaupun aku kadang-kadang nggak donk tapi mereka akan menjelaskan semuanya dengan sangat cerdas. Entah aku hanya dibiarkan mencari jawabanya sendiri, atau aku akan diberitahu secara langsung. Karena semua akan mempunyai efek yang berbeda.

***

porsima-bem-unsAku kembali ke aktivitas gedung itu. Seorang mahasiswa memakai jas almamater keluar lagi dari pintu. Dia membawa bendera panji-panji berwarna biru yang sangat besar, entah akan dibawa kemana. Yang jelas aku menjadi teringat bahwa bendera itu pernah kubawa ke Jakarta bersama kawan-kawanku. Untuk sebuah aksi.

🙂 Aku hanya tersenyum melihat mereka. Aku pernah menjadi seperti mereka, dan aku sangat bangga bisa berjalan seiring dengan mereka, kadang perjalanan itu begitu berat, sehingga kami harus bermandi keringat. Rasa lapar bukan halangan bagi kami, mandi atau tidak itu tidak penting. Waktu berjalan begitu cepat, saat itu aku merasa masih berpenat didalam gedung itu bersama mereka. Tapi saat ini aku hanya memandang mereka dari luar.

Waktu itu kami pernah bersama-sama membantu mahasiswa baru untuk mengurus prosedur dan mengadvokasi mereka yang tidak mampu agar mendapat keringanan biaya pendidikan. Banyak diantara temanku yang menangis karena melihat betapa sulitnya bagi mereka mendapatkan uang sekian rupiah untuk membayar biaya pendidikan. Waktu itu kami pernah berdiskusi panjang lebar hingga tidak perduli waktu hanya untuk sekedar memberikan evaluasi perbaikan arah kampus ini akan berjalan. Waktu itu kami pernah mengajar anak-anak SD di pinggiran kota yang membutuhkan uluran tangan dan tidak perduli kondisi kami sendiri. Waktu itu kami pernah ke panti asuhan yang membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi saking ironisnya kondisi mereka. Kami juga sering bersama-sama turun ke jalan untuk mewacanakan kegelisahan hati kami karena sebuah kezaliman terjadi.

Dan…. banyak…. sangat banyak yang telah kami lakukan bersama. Tidak akan habis waktu semalam untuk menceritakan semua yang kami alami bersama.

Dalam keterbatasan kami berjalan, dalam kekangan yang luar biasa kuat kami melangkah, berat kami jinjing bersama dengan diselingi tawa. Indah, luar biasa indah.

Akhir tahun 2008 ini, mengakhiri karierku dilembaga itu, aku sangat banyak mendapat pelajaran dari sana, hari-hari ku dikampus banyak sekali kuhabiskan bersama mereka. Kalau teringat mereka, satu persatu aku ingin memeluk dan memberikan pesan kepada mereka. Warna-warni karakter mereka yang saling menguatkan membuat kami akan terus bisa bertahan. Aku jadi teringat setiap aku datang dan naik ke lantai 2 gedung porsima, mereka sudah bisa menebak siapa yang datang karena suara-suara berisik yang aku timbulkan dan akhirnya aku menggedor pintu untuk mengagetkan mereka. 😀 yaah, aku yakin mereka akan merindukan hal itu :D. Aku ingin meminta maaf kepada mereka semua karena selama mereka bersamaku sering kusakiti hatinya, mungkin.

Hal yang selalu kuingat dari kawan-kawanku tercinta itu adalah Semangat dan Komitmen. Kupikir modal dua hal itu sudah sangat cukup untuk berjalan dan berlari ketika banyak hal mengejar. Dan pastinya satu kekuatan yang membuat mereka akan selalu bertahan adalah Cinta. Aku benar-benar merasa menemukan cinta disana, tanpa alasan apapun aku mau berbuat banyak untuk banyak orang dan banyak hal, tanpa syarat apapun aku akan rela mendaki jalan terjal itu bersama mereka. Tidak perlu apa-apa untuk bisa berbuat banyak. Hanya rasa peduli dan ingin memberi. Bangsa ini butuh orang-orang seperti kalian. Yah, kalian adalah orang-orang pilihan yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menyampaikan banyak kebaikan di dunia ini. Perjuangan kalian adalah nyata, kawan.

Nama kalian akan selalu terukir di prasasti sejarah perjuangan mahasiswa. Untuk gunawan, sonia, anang, wachid, eny, guspur, wahyudi, imam, labib, jefry, dias, charla, karina, krisna, dita, ririn, dede, agus raharjo, putri, chandra, dona, zuhud, gatot, anto, aziz, hatta, dzakiyyah widinta, shofy, harri, resty, yunita, tya, nugroho, dan semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Menyebut nama kalian membuat hati ini bergetar dan doa akan terlantun untuk kalian. Kalian adalah manusia-manusia mulia disisiNya. Kalian lah yang bisa membuat saya tetap bertahan membersamai perjuangan ini. Dan pastinya kalian tidak akan pernah ada yang menggantikan. Lanjutkan perjuangan ini kawan!

Oh yah, sampaikan pada pengurus selanjutnya, Gedung itu Bernama Porsima. Gedung yang kita tempati di BEM UNS adalah Gedung Porsima. I’ll never forget it!!

Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 37 Responses to Gedung itu Bernama Porsima

  • diana berkata:

    🙂
    ditunggu berita yg kemaren..
    klo bisa skalian ceritain ttg temennya temenmu yg sempat ada masalah yg sama…

  • Sonia berkata:

    gantian, saya yang speechless..
    sehebat apapun kita menggambarkan porsima, seindah apapun kata2 kita menuliskan pengalaman2 hebat di sana, belum cukup…
    masih ingat, saat HP saya dihinggapi short massage service dari kawan seperjuangan saya “Son, beri aku alasan kenapa aku harus kembali ke BEM!”..
    ah… tapi pasca itu, semua kembali indah. itu hanya kerikil kecil, yang menambah warna perjuangan kita disana. (jadi mellow gini..)
    Bagaimana Allah mengatur setiap cerita, skenario langkah kita yang kadang tersendat. tapi kita tetap bertahan, meski dengan keterbatasan.
    Perjuangan itu semoga tetap dimaknai sama oleh semua pengusungnya.
    Porsima yang selalu kukenang.

  • Qittun berkata:

    Ak gak tahu Porsima sig, tahunya Pukesmas… 😛

    Huahehehhe…

  • ALex berkata:

    kenangan yg indah ya mas…moga silaturrahim dgn teman2 itu semua tdk terputus dan tetap berjuang kawan.

  • aRuL berkata:

    Susah juga yah kalo kita meninggalan tempat yang membesarkan kita dengan pemikiran yang luar biasa hebatnya…
    tapi itu kali namanya tantangan untuk mencari tantangan baru di tempat lain…
    Katanya temanku “Kampus hanya tempat persinggahan kawan!” 😀

  • rien berkata:

    porsima…never ending memory…
    besar dalam rahim idealisme…sebuah kebanggaan tersendiri
    porsima…………….porsima,…..tiga tahun q menghabiskan waktu disana….
    semua kan menjadi kenangan indah…

  • agus cuprit berkata:

    saat pertama saya meninggalkan gedung itu, kaki ini terlalu berat diajak melangkah. Kenangan perjuangan teramat dalam terukir, terlebih mengenang masa-masa menjadi takmirnya.

    Ah, sudahlah…saya nggak mau sok puitis deh…
    yang jelas gedung itu memiliki tuah, mencetak beberapa generasi pemberani. Masih ingat saat digerebek preman gara-gara kita sering mendemo Ibu presiden yg mereka idolakan atau disamperin polisi yang tidak suka kita memancang bendera setengah tiang di depan gedung itu. banyak kenangan, terutama saat harus menemani mahasiswa baru seperti zigma yang saat itu berambut gondrong berkacamata dan sok tahu, atau culunnya jokpit, si kembar sonia-rosina, dan sederet nama lainnya.

    Semoga ada ruang suatu saat nanti kita reunian bagi para eks penghuni gedung itu di gedung itu

    salam perjuangan dari Batam
    HIDUP MAHASISWA!!!

  • agus cuprit berkata:

    ohya, ada sedikit tulisan diblogku untukmu, sonia-rosina, jokpit, dan kawan-kawan lainnya. semoga bermanfaat

  • s H a berkata:

    T.T

    Baca tulisan ini, saya jadi yakin bahwa perjuangan saya adalah disana. Bantu dan ampunilah langkah saya ya Allah. Untuk kebaikan

  • orang kecil berkata:

    wewww…mantafffff….seandainya aku bisa jd org hebat seperti kalian semua…?? hiks…
    wes rak popo..sing penting ber-Iman, ber-Taqwa, bermoral dan selalu bijak dlm menyikapi permasalahan yg ada.. bukan dg emosi tp dg Hati nurani…halahhhh… 😉

  • nunik berkata:

    gedung itu bernama porsima. saya pernah disana, magang istilahnya. awal2 anak baru. ketemu tya, aji, tmn2 magang, sigma, mba sonia, jokpit, mas hendro, pak bayu, pak ikhlas, mba mia, mba ayu,dll. hanya 1 bulan. sigma beruntung pernah belajar disana bertahun-tahun. belajar perjuangan tanpa pamrih. ya,sigma beruntung. beruntung punya teman2 yang saat kau sebut nama2 nya itu hati mu pun bergetar. keluarga, persaudaraan, pembelajaran, kedwasaan, ikhlas, biijkasana, pencerdasa, ah, entahlah masih banyak lagi yang kau dapatkan. kau beruntung sigma pernah kenal dan berinteraksi langsung dan kenal kakak2 yang bisa memberitahu mu akan ruh perjuangan itu. kau beruntung sig. bersyukurlah… dan aku pun hanya bisa merasakannya dahulu, 1 bulan awalan saat aku masih lugu dan tak tahu apa-apa. dan aku pun hanya bisa memimpikannya sampai sekarang dan seterusnya. kau beruntung sig..

  • inidanoe berkata:

    ojo nesu sig..
    ampuunn….
    kw kok iso melow gt tho..???
    ki tisu., gelem po rak..???

    *kaboooorrrr*

  • deeast berkata:

    gd. itu b’nama porsima,
    tlah b’ubah luar-dalam,
    lebih….
    ap ya???

  • abeeayang berkata:

    kenangan tak terlupakan yaks… 😛

  • ainulfahmi berkata:

    porsima tu apa sih kak!!!!

  • ainulfahmi berkata:

    kak tukeran link yuk!!!
    hi!!
    (^_^)

  • Dony Alfan berkata:

    Btw, koe fakultas opo tho?
    Salam kenal, hehe

  • realylife berkata:

    semoga akan terus menjadi saksi perjuangan ya mas
    maaf nich dah lama ngga mampir ke sini
    lagi berjhuang juga mas

  • serena berkata:

    good luck

  • silly berkata:

    Oh, ok… nanti aku sampein yahhh… Gedung itu namanya PORSIMA.

    Egh… ada pesan lagi gak pak?… nasi goreng pete misalnya? atau mo sate es cream?… boleh pak, diliat2 dulu menunya… 😛

    *ditendang karna OOT*

  • regsa berkata:

    guyup rukun agawe santosa 🙂

  • ndop berkata:

    wow, jadi orang sibuuuk terus ya bos? kapan mulih nyang kediri???

  • ilamona berkata:

    hidup mahasiswa!

  • ichanx berkata:

    baiklah…. pesan saya terima… gedungnya bernama porsima… 😐

  • Tukang Nggunem berkata:

    Aku kayake cah UNS murtad…lha tekan saiki aku ra mudeng gedung PORSIMA kuwi sebelah endi e…hahahaha…ben waelah, sedelo meneh yo wes lulus we…ning nek misal nglamar gawean kiro2 ditakoni letake gedung PORSIMA kuwi ra yo? nek ho’o yo tak golekane kapan2..hehehe

  • ressay berkata:

    emang arep nglamar neng UNS po mas?

  • suwung berkata:

    aku bekas UNS kok gak mudeng gedung iki nangnedi ya?

  • dzakiyyah berkata:

    gedung itu bernama Porsima
    selamanya…
    meski dunia telah runtuh, ia akan ada di Hati untuk setiap orang yang pernah ada disana.

    thanks a lot Friend!

    jadi kangen nie…kapan bisa aksi lagi ke jakarta bareng kalian…

    HIDUP MAHASISWA!!!

  • kawan lama berkata:

    hmm…akhirnya merasakan kembali jadi orang biasa dan di”gudang”kan setelah di “sedot’ sarinya. selamat b’adaptasi lagi dech…

  • inidanoe berkata:

    porsima karo posa bedanya apa sig.?
    sudahlah sig., itu tempat singgah saja., jgn trlalu melankolis. Apdet dunk., moso’ br liat tulisan porsima aja langsung nangis and gk jd nulis :mrgreen:
    *ditimpuk mouse ma sigma*

    @ivanmuhtar : ilmumu ngko ilang lho van. . . . . 😀

  • afieagp berkata:

    salam UNS sukses aja deh, gak mdheng aku ttg porsima

  • randualamsyah berkata:

    Salam Kenal. Porsima ya namanya ? akan saya ingat.

  • masiqbal berkata:

    Selamat tahun baru bro..

    Semoga segala harapan dan doa yang baik bakal segera terwujud di tahun yang baru ini, aminn…

  • chaessar berkata:

    “Fauzan Sigma”
    Kata mereka…
    badan ku gemuk, pendek, mataku bulat & suaraku keras
    itu semua, Tak masalah bagi aku!
    dengan aku yang gemuk
    aku penuh energy dan siap menantang hari,
    dengan badan ku yang pendek
    tak membuat akalkupun pendek,
    bahkan daya fikirku tinggi
    dengan mataku yang bulat
    aku dapat melihat dengan jelas apa arti kebenaran
    dan dengan suaraku yang keras
    aku dapat berteriak dengan lantang,
    dan menuntut kepada mereka….
    “hai pemimpin bangsa
    bersikaplah adil dan bijaksana
    kepada rakyat karna itu tugas
    dan tanggung jawab kalian!”.
    Itu..
    itulah aku!
    dan aku bangga menjadi
    “Fauzan Sigma”

    mass dd sedih baca post nya…

    i miss u soooooooooooooooooooooooo much..

  • Tomi berkata:

    Enake kalo ke ke Porsima tu bisa lihat Stadion UNS.
    Masih sering kesana Mas?

    Oya Mas, kok isoh huebbbat blogge?
    blogku sik kakean neka2, durung2 golek iklan 😦

    tularke ilmune ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Gedung itu Bernama Porsima at lebihbaik.

meta

%d blogger menyukai ini: