Stellar

Januari 8, 2009 § 40 Komentar

Cincin kawin itu masih berkilap di jari manis tangan kananya. Dan masih saja dia menatapnya dengan penuh senyuman bahagia, sore itu dengan ditemani foto-foto kesayanganya, dia dan keluarga serta sahabat-sahabatnya. Sederhana dan hangat terasa sore menyapa, sayup cahaya kemerahan memasuki ruangan yang masih sama sejak pertama dia ada disana bersama istrinya.

***

Lani, berkali-kali jatuh untuk kemudian bangkit lagi. Itu adalah prinsip yang dipegangnya hingga Lani bisa seperti sekarang ini, Lani bukan seperti perempuan kebanyakan pada masanya, dia tidak menyukai posisi aman, dia lebih suka menawarkan dirinya pada kondisi kritis. Karena dengan kondisi seperti itu Lani mampu benar-benar merasakan hidup. Prinsip manusia benar-benar merasakan hidup ketika dia sudah berada di ambang kematian adalah benar adanya menurut Lani, dengan prinsip seperti itu kita tidak perlu sakit stroke untuk sekedar mensyukuri bahwa Tuhan memberikan kenikmatan yang luar biasa kepada makhluk ciptaanya yang sombong ini.

Lani, terus melangkah, pencarianya belum selesai, baginya jalan menuju roma masih sangat panjang. Berkali-kali Lani bertemu orang, berkali-kali Lani menyapa dan menyambut kedatangan mereka dan berkali-kali pula Lani tidak pernah menemukan kejelasan tentang perasaan. Lani pernah menemukan manusia sempurna didalam perjalananya, Lani cukup bahagia, Lani merasa aman dan Lani terus dalam lingkaran kebahagian yang luar biasa. Hidup Lani seutuhnya sempurna. Kebahagiaan adalah sebuah sistem kata Lani, kebahagiaan secara kasat mata, seperti materi dan sebagainya adalah salah satu bagian sistem itu, namun juga kebahagiaan secara spiritual tidak pernah Lani tinggalkan. Yang mana, sinergisitas diantara keduanya merupakan kebahagiaan yang hakiki. Kata orang, materi yang berlimpah bukanlah segalanya. Itu kan kata orang-orang yang kalah. Sergah Lani ketika ada orang berkata seperti itu. Namun Lani tidak pernah menemukan titik fokus dari hubungan itu. Kadang semua sudah instan, kadang pula semua serba ada dan siap. Yang terlalu sempurna tidaklah sempurna. Lani tidak suka.

Lani akhirnya bertemu Lana. Lana bukanlah lelaki idamanya, Lana orang yang sangat berbeda denga Lani. Lana lebih terliahat acak-acakan dan seperti manusia yang antikemapanan. Walaupun demikian, Lani suka mendengar cerita Lana dan hal itu pun berlaku sebaliknya, Lana juga sering ingin mendengar cerita Lani. Lana banyak sekali mengenal orang, laki-laki, perempuan, lebih tua darinya atau lebih muda darinya. Lana bukanlah lelaki yang menarik ketika dilihat secara ansih sebagai seonggok tulang yang dibalut daging dan memakai baju. Namun Lana mempunyai kekuatan lain, Lana mempunyai sikap. Segila-gilanya Lana, dia tidak akan membiarkan seorang yang dikenali dan disayanginya menderita atau tersakiti, Lana mempunyai banyak sekali teman, dari berbagai macam jenis teman. Lana seperti pelangi, dia warna warni, Lana seperti Joker yang kadang bisa menjadi pelengkap ketika satu kartu apapun itu tidak ada, Lana kadang juga menjadi pemeran utama dalam satu skenario kehidupan. Namun Lana kadang terlihat seram tapi penuh kehangatan. Lana disukai banyak orang, karena sifatnya yang serba ada, kadang sesama laki-laki pun bisa jatuh cinta padanya. Kata seorang teman, hati orang seperti Lana sangat luas, dia bisa mencintai banyak hal dalam waktu bersamaan.

Bertemu Lani, bagi Lana adalah satu keajaiban, belum pernah Lana senyaman ini untuk bercerita, Lani selalu memandang mata Lana dengan penuh makna, ketika Lana bercerita. Pernah Lana bercerita pada Lani tentang satu sisi kehidupan yang Lana tidak pernah ceritakan pada siapapun! Namun pada Lani, apapun itu dia bisa bercerita, kadang hingga menangis dalam pelukan Lani. Lana dengan hidupnya yang sangat penuh pemakluman dan situasional kadang mengalami kesulitan, Lani bersedia sepenuh hati membantu Lana. Lani adalah sosok perempuan yang diidamkan banyak orang, cukup teratur dan rapi, dia mudah memahami orang lain. Lani sampai saat ini pun masih terheran-heran, mengapa akhirnya Lana.

Lana, suka jalan-jalan, mencari sesuatu yang baru dan penuh pemaknaan. Banyak hal yang ditemui Lana yang ditunjukan pada Lani, Lani senang, Lani seperti menemukan dunianya yang baru dan yang dulu, dunianya yang dianggapnya “rumah” untuk berpulang dan dunianya yang baru untuk kembali mencari jalan menuju Roma. bagi Lani hidup adalah perjalanan, kenapa harus berjalan? karena tidak pernah akan ditemui suatu hal yang indah yang tiba-tiba jatuh dari langit. Semua ada tanda-tandanya. Sebenarnya Lani pernah bertemu Lana, namun waktu itu mereka berdua hanya berprolog, benar-benar hanya sebuah prolog. Untuk bertemu berkenalan dan pergi dengan jalan yang berbeda, namun akhirnya Tuhan yang berkehendak… Iya, Lani dan Lana sama-sama berdoa, bahwa pertemuan mereka adalah benar-benar kehendak Tuhan. Bagi Lani dan Lana sepertinya banyak rambu-rambu, petunjuk jalan dan arah ketika mereka bersama. Dan semua petunjuk jalan itu terbaca dengan jelas. Lani dan Lana sama-sama mencari, dua hal dalam satu utas tali yang mencari satu hal yang sama.

Akhirnya Lani dan Lana menikah. Baginya pernikahan adalah satu jawaban yang pasti dari Tuhan. Namun, Tuhan kadang memang mempunyai satu skenario yang aneh. Lani lebih dulu menghadap Tuhan. Lani meninggalkan Lana untuk kembali sendiri. Lana hanya berharap semua cinta yang telah mereka jalin berdua adalah satu keyakinan bahwa Tuhan adalah sutradara terhebat satu cerita panjang kehidupan. Belum terlalu tua untuk menghadap Tuhan waktu itu, usia Lani masih sangat muda. Lana sangat merasa kehilangan, namun Lana seperti mendapatkan satu anugerah luar biasa. Lana tetap bisa mencintai dan menyayangi Lani seperti saat Lani masih bersama Lana, diranjang yang biasa mereka lewatkan melalui hari, Lana masih memasang dua bantal dan dua guling. Usia Lana masih belum mencapai kepala tiga saat itu. Lana masih memakai cincin pernikahanya hingga waktu itu. Lana masih saja memandangi foto-foto Lani, dan teringat bahwa Lani, susah sekali mau difoto. Namun karena Lana, akhirnya Lani mau difoto berdua. Lana hanya tersenyum dan mengingat memory-memory indah itu.

Dan hingga saat ini, usia Lana genap berusia 63 Tahun. Cincin kawin itu masih berkilap di jari manis tangan kananya. Dan masih saja dia menatapnya dengan penuh senyuman bahagia dihiasi kriput wajahnya yang semakin jelas, sore itu dengan ditemani foto-foto kesayanganya. Sederhana dan hangat terasa sore menyapa, sayup cahaya kemerahan memasuki ruangan yang masih sama sejak pertama dia ada disana bersama istrinya, Lani. Yang selalu hidup abadi dalam hati Lana. Hingga hari itu. Hari dimana Lana, dipanggil Tuhan.

Iklan

Tagged: , ,

§ 40 Responses to Stellar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Stellar at lebihbaik.

meta

%d blogger menyukai ini: