UNS Go-Blog!

Maret 31, 2009 § 14 Komentar

Solo – UNS. Saya adalah seorang mahasiswa UNS yang telah menapaki tahun terakhir di kampus, begitu banyak hal yang saya pelajari dari kampus yang sejuk dan sederhana ini. Benar-benar kampus yang sederhana, dengan fasilitas apa adanya, namun menurut saya justru itulah arti sebuah perjuangan ini. Tidak pernah saya kecewa dan justru sangat berbangga karena bisa merasakan pendidikan di kampus ini. UNS yang berdiri pada 11 Maret 1976 ini dapat meningkatkan rankingnya di  webomatric dari 4.681 pada bulan Juli 2008 lalu,  menjadi 2.159.  Manuver yang luar biasa bukan.

Hal ini menjadikan saya semakin berbangga hati karena telah memilih cinta saya pada UNS.  Saya menjadi mengenal teknologi dan berbagai instrumennya juga karena wawasan dan wacana yang saya dapatkan dari kampus ini, saya menjadi blogger (halah… jarang apdet ya ga apa2, red) juga karena saya dikenalkan oleh Wi-Fi gratisan di sekitar kampus. Yang akhirnya membawa saya ke dunia yang benar-benar luar biasa, blog memang benar bisa merubah dunia. Saya menjadi mengenal orang dari berbagai jenis suku di Indonesia juga salah satunya karena blog ini. Kawan, blog bukan sekedar curhat, walaupun tulisan saya sering terkesan cengeng, tapi bukan hal itu pointnya kawan. Tapi menulis merupakan satu hal yang tidak bisa didapatkan secara cuma-cuma! Menulis dengan berbagai inspirasi dari manapun merupakan satu kelebihan yang luar biasa, iya kalian para blogger di mana pun anda, anda adalah orang-orang luar biasa. Karena tulisan anda bisa merubah dunia, dari satu hal yang sangat kecil yaitu rangkaian huruf-huruf menjadi satu hal yang luar biasa.

Oke, kita kembali ke UNS kawan.  Walaupun agak ketinggalan namun UNS berani untuk memulai, budaya ketinggalan jaman dan gaptek akan pengetahuan seputar IT akan di babat habis di UNS. Artinya akan datang masa renaissance di UNS yang di awali oleh para blogger di UNS. « Read the rest of this entry »

Iklan

Rode Roos

Maret 27, 2009 § 11 Komentar

Aku telah menyiapkan semuanya, dengan waktu yang sangat sempit akhirnya semua finish. Walaupun masih jauh dari ekspektasiku tapi ini adalah usaha maksimalku. Aku sudah siapkan lilin, roti cake, dan taburan bunga untuk menyambut kedatanganya. Aku berusaha bersikap biasa saja ketika bertemu denganya. Dia Nampak bingung, aku yang selalu terlihat kusam, kacau dan jauh dari yang namanya rapi didepanya, tiba-tiba saja mengenakan setelan kemeja dan celana yang menurutku itu sudah sangat rapi lengkap dengan sepatu kulit yang berkilap. Dari kostnya yang di dekat kampus, aku telah menunggunya untuk beberapa saat, dia sedang ada acara di suatu tempat yang agak jauh dari kampus. 21:30 oke aku masih sabar menunggunya. 22:00 dia datang. Aku berdebar-debar, kuusahakan menunjukan senyum paling manis sebisaku didepanya. Aku bilang padanya hanya ingin mengajaknya keluar dan akhirnya terlaksana juga rencanaku itu. Aku yakin sekali, bahwa dalam hatinya dia pasti sudah menebak-nebak apa yang akan aku lakukan, namun aku berusaha untuk tidak memikirkan hal itu, aku tidak mau mengecewakan diriku sendiri sebelum melihat hasil akhirnya.

Disuatu tempat yang jauh dari kota aku sudah menyiapkan acara kecil-kecilan. Akhirnya sampai juga di lokasi yang sudah kutentukan, aku segera mengontak timku untuk bertindak cepat. Jangan sampai acara ini gagal karena ketidak-solidan tim pikirku.

Waduk pinggiran kota. Aku tiba disana bersamanya, semakin masuk agak jauh kedalam aku membawanya serta. Dia hanya tertawa-tertawa kecil. Akhirnya tiba di lokasi. Aku mengambil keputusan untuk dapat menerima apapun reaksinya.

Lilin-lilin kecil yang tersapu angin malam itu memberinya jalan di kanan kirinya penerangan, temaram lilin itu tersusun pada setiap anak tangga yang dia tapaki, memberikan dia sedikit penerangan untuk menuju ke dasar tangga. Tangga itu menurun. Di dasar tangga tepat, ku siapkan alas karpet untuknya agar dia bisa duduk lebih nyaman. Di setiap tangga dan sekitar karpet aku taburi dengan serpihan bunga. Disitu sudah ada kue ulang tahun yang menunggu untuk ditiup oleh orang yang sangat kusayangi itu. Dia masih tersenyum, senyuman yang belum pernah ku lihat sebelumnya, aku senang dia bisa tersenyum dengan apa yang telah aku lakukan untuknya. Iya, aku melakukan ini hanya untuknya. Di alam terbuka dan masih sangat sejuk ketika sore hari kita ingin nikmati indahnya sunset. Rumput yang terhempas angin malam menjadi pelengkap suasana, orchestra alam semesta yang menjadi backsound malam indah itu adalah suara-suara jangkrik dan kodok yang menyanyikan lagu melankolis khas pedesaan. Aku dan dia masih berpandangan, dia masih tersenyum padaku, hatiku bergetar melihat senyumanya. Hanya ada aku dan dia, kami saling bercerita, aku dan dia tidak pernah kehabisan cerita, aku dan dia sangatlah berbeda, namun ada satu hal yang sama dari kami, yaitu keras kepala. Dan pada perbedaan itulah kami menemukan makna, mengapa kami dipertemukan.

Aku menuangkan minum untuknya, satu gelas untuknya dan satu gelas untuku. Kami hanya saling berdiam, dan saling menatap. Diam, dan diam… namun kediamanya tidak pernah hanya diam, dia selalu berpikir dan terkadang aku sering jengkel dibuatnya ketika dia melakukan hal itu. Dia selalu tahu apa yang ku pikirkan. Tapi sebaliknya juga, aku juga sering seperti itu terhadapnya, dan dia akan cemberut lalu menunjukan pipinya yang kemerahan semakin menggembung seperti ikan koi. Dia adalah wanita paling indah yang pernah aku temui, dia bukan hanya seorang wanita yang cantik, aku sangat suka jalan pikiranya, dia begitu cerdas. Bagaimana dia menyikapiku ketika aku sudah kehilangan kendali sangatlah anggun, aku sering merasa bersalah karena telah marah kepadanya. Namun dia akan selalu menunjukan senyum terbaiknya untukku. « Read the rest of this entry »

Entahlah

Maret 15, 2009 § 18 Komentar

17.30

Pramex sore itu – aku berlari mengejar ketinggalan kereta menuju Kota Budaya (Solo, pen). Petugas peron sudah memperingatkan aku untuk segera berlari daripada aku harus menunggu satu jam lagi kereta selanjtunya.

Aku terkejut, ada yang berteriak memanggil namaku dari luar gerbong kereta. Ternyata dia adalah teman ku yang kunci Kosnya masih ada di tasku. Geli sekaligus konyol perasaanku, aku tertawa dan sekaligus merasa bersalah karena kekonyolanku waktu itu. Coba saja dia tidak ingat bahwa aku membawa kunci kostnya, bisa jadi dia akan sangat kesusahan untuk menjebol pintu kostnya malam itu. Akhirnya sambil tertawa-tawa miris, aku lemparkan kunci kostnya melalui jendela kreta. Seluruh penumpang digerbong melihatku dan bertanya-tanya ada apa dengan orang itu.

Aku ceroboh, sekaligus pemalas, dan pastinya moody. Itu kata seseorang yang sangat mengenalku. Itu hanya segelintir kekonyolan yang kuderita selama hidupku. Belum disebutkanya sifat-sifat konyolku yang lain. “kamu kok bisa sante gitu, padahal sudah deadline! Hidupmu udah deadline Bhi…..!” itu yang pernah dikatakanya, dan aku hanya terkikik.

Iya. Bhi… dia biasa memanggilku Bhi. Entah dapat darimana nama itu, padahal pada namaku tidak ada unsur penyusunya yang dapat dikaitkan pada kata seperti Bhi.

Aku sudah sangat lama menjadi manusia yang hidup terlalu bebas, aku tidak pernah terikat peraturan, apalagi keterikatan pada sesuatu dan ketergantungan. Hidupku begitu mengalir dan penuh dengan tawa-tawa gila. Semua hal bisa menjadi bahan bercandaku, dari sesuatu yang sangat kecil misalnya seorang dosen yang hanya berani memandang papan screen ketika mengajar, hingga wakil presiden yang datang ke kota dimana aku tinggal, dan apa yang dilakukanya disini, apakah dia akan pergi ke pasar Klewer lalu membeli aromanis karena sedang ada sekaten.

Di pramex aku sudah mendapat tempat duduk, setidaknya dapat meletakan tas berat di punggungku sejenak karena tempat duduku sangat sempit. Aku melihat sekeliling dan menemukan beberapa penumpang mengenakan headphone. Hemm, aku pikir, mereka sedang memainkan soundtrack hidup mereka masing-masing sepertinya. Setiap orang mempunyai cerita, bahkan setiap cerita akan menyimpan banyak makna, dan hikmah kalau kita bisa menarik satu kesimpulan. Namun kadang sebagian dari kita tidak pernah menganalisis ulang dan berpikir lebih jauh tentang cerita-cerita itu. Aku sendiri, mempunyai cerita yang panjang, tidak mungkin aku ceritakan pada kalian. Terlalu ribet. Suatu hari aku ingin menceritakanya pada anak-anaku kelak, aku ingin menuliskan cerita-cerita itu, dan membuatnya menjadi satu jilid buku yang akan ku tulis bersama istriku nantinya. Aku bukanlah orang yang sempurna, aku hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik. Kelak kalau aku mati, ceritaku bisa bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya, aku sudah sangat bahagia. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Maret, 2009 at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: