Rode Roos

Maret 27, 2009 § 11 Komentar

Aku telah menyiapkan semuanya, dengan waktu yang sangat sempit akhirnya semua finish. Walaupun masih jauh dari ekspektasiku tapi ini adalah usaha maksimalku. Aku sudah siapkan lilin, roti cake, dan taburan bunga untuk menyambut kedatanganya. Aku berusaha bersikap biasa saja ketika bertemu denganya. Dia Nampak bingung, aku yang selalu terlihat kusam, kacau dan jauh dari yang namanya rapi didepanya, tiba-tiba saja mengenakan setelan kemeja dan celana yang menurutku itu sudah sangat rapi lengkap dengan sepatu kulit yang berkilap. Dari kostnya yang di dekat kampus, aku telah menunggunya untuk beberapa saat, dia sedang ada acara di suatu tempat yang agak jauh dari kampus. 21:30 oke aku masih sabar menunggunya. 22:00 dia datang. Aku berdebar-debar, kuusahakan menunjukan senyum paling manis sebisaku didepanya. Aku bilang padanya hanya ingin mengajaknya keluar dan akhirnya terlaksana juga rencanaku itu. Aku yakin sekali, bahwa dalam hatinya dia pasti sudah menebak-nebak apa yang akan aku lakukan, namun aku berusaha untuk tidak memikirkan hal itu, aku tidak mau mengecewakan diriku sendiri sebelum melihat hasil akhirnya.

Disuatu tempat yang jauh dari kota aku sudah menyiapkan acara kecil-kecilan. Akhirnya sampai juga di lokasi yang sudah kutentukan, aku segera mengontak timku untuk bertindak cepat. Jangan sampai acara ini gagal karena ketidak-solidan tim pikirku.

Waduk pinggiran kota. Aku tiba disana bersamanya, semakin masuk agak jauh kedalam aku membawanya serta. Dia hanya tertawa-tertawa kecil. Akhirnya tiba di lokasi. Aku mengambil keputusan untuk dapat menerima apapun reaksinya.

Lilin-lilin kecil yang tersapu angin malam itu memberinya jalan di kanan kirinya penerangan, temaram lilin itu tersusun pada setiap anak tangga yang dia tapaki, memberikan dia sedikit penerangan untuk menuju ke dasar tangga. Tangga itu menurun. Di dasar tangga tepat, ku siapkan alas karpet untuknya agar dia bisa duduk lebih nyaman. Di setiap tangga dan sekitar karpet aku taburi dengan serpihan bunga. Disitu sudah ada kue ulang tahun yang menunggu untuk ditiup oleh orang yang sangat kusayangi itu. Dia masih tersenyum, senyuman yang belum pernah ku lihat sebelumnya, aku senang dia bisa tersenyum dengan apa yang telah aku lakukan untuknya. Iya, aku melakukan ini hanya untuknya. Di alam terbuka dan masih sangat sejuk ketika sore hari kita ingin nikmati indahnya sunset. Rumput yang terhempas angin malam menjadi pelengkap suasana, orchestra alam semesta yang menjadi backsound malam indah itu adalah suara-suara jangkrik dan kodok yang menyanyikan lagu melankolis khas pedesaan. Aku dan dia masih berpandangan, dia masih tersenyum padaku, hatiku bergetar melihat senyumanya. Hanya ada aku dan dia, kami saling bercerita, aku dan dia tidak pernah kehabisan cerita, aku dan dia sangatlah berbeda, namun ada satu hal yang sama dari kami, yaitu keras kepala. Dan pada perbedaan itulah kami menemukan makna, mengapa kami dipertemukan.

Aku menuangkan minum untuknya, satu gelas untuknya dan satu gelas untuku. Kami hanya saling berdiam, dan saling menatap. Diam, dan diam… namun kediamanya tidak pernah hanya diam, dia selalu berpikir dan terkadang aku sering jengkel dibuatnya ketika dia melakukan hal itu. Dia selalu tahu apa yang ku pikirkan. Tapi sebaliknya juga, aku juga sering seperti itu terhadapnya, dan dia akan cemberut lalu menunjukan pipinya yang kemerahan semakin menggembung seperti ikan koi. Dia adalah wanita paling indah yang pernah aku temui, dia bukan hanya seorang wanita yang cantik, aku sangat suka jalan pikiranya, dia begitu cerdas. Bagaimana dia menyikapiku ketika aku sudah kehilangan kendali sangatlah anggun, aku sering merasa bersalah karena telah marah kepadanya. Namun dia akan selalu menunjukan senyum terbaiknya untukku. Aku sering hanya diam untuknya, ketika dia bertanya apakah aku menyayanginya, aku tidak dapat lagi berkata apapun, aku hanya mengembalikan perasaan terdalamku ini pada Tuhan. “Aku tidak sekedar menyangimu… aku mempunyai rasa lebih dari itu untukmu, tapi aku tidak tahu harus bagaimana untuk bersikap di depanmu, aku selalu salah mengambil tindakan. Aku sering mengecewakanmu”.

Kesunyian memecah keheningan itu, akhirnya ku sarankan dia untuk meniup lilin di atas kue ulang tahun yang berbentuk angka 21 itu. Dia mau, dia memejamkan mata sejenak untuk make a wish. Ketika dia make a wish, aku juga melakukan hal yang serupa. Matanya terbuka, seperti slowmotion matanya membiusku, mata itu adalah mata terindah yang pernah aku lihat.

Malam itu menjadi malam yang sempurna untukku, karena aku telah melihatnya tersenyum pada hari yang bersejarah untuknya.

25 Maret, 06:06

Aku mengetuk pintu kamar kosnya, seperti dugaanku dia masih terlelap setelah subuh dia laksanakan. Wajahnya nampak lucu ketika dia baru saja bangun dari tidurnya. Aku membawakan bucket bunga mawar merah dan putih untuknya.

Dia berkata ini adalah hari ulang tahun terindahku, makasih Bhi…

Aku sangat sangat bahagia mendengarnya.

untuk Zo


Iklan

Tagged: ,

§ 11 Responses to Rode Roos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Rode Roos at lebihbaik.

meta

%d blogger menyukai ini: