Sore Itu di Halaman Rumah

Juli 23, 2010 § 12 Komentar

Oleh Fauzansigma

Namanya adalah Suranto, aku biasa memanggilnya Sur, seorang anak petani di daerah pedesaan di kota kelahiranku, waktu aku mengenalnya adalah pada saat dia mengenyam pendidikan di jenjang SMA. Tidak seperti anak muda sebayanya saat itu, disaat teman-temanya sedang memakan mentah-mentah yang namanya kesenangan masa SMA dia justru sebaliknya. Tetap dengan kesederhanaanya, bahkan di kampungnya pun dia dikenal sebagai anak yang dapat dijadikan contoh untuk anak tetangganya. Bagi mereka warga kampung adalah tabu untuk menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi kecuali anak Pak carik dan Pak lurah, yang notabene mempunyai harta cadangan berupa sawah yang luas dan tanah bengkok pemberian pemerintah.

Kebanyakan dari mereka para pemuda desa yang sudah dewasa dan usia kerja adalah melakukan perantauan, entah itu merantau ke Jakarta atau kota besar lainya, bahkan tak sedikit pula yang merantau ke luar negeri seperti ke Malaysia, Hongkong, Arab, Korea dan negara lainya berbekal satu lembar ijazah SMA. Namun Sur lain, dia tidak mempunyai niatan sedikit pun untuk merantau ke negeri sebrang, dia katakan padaku bahwa setelah SMA nanti dia ingin kuliah, aku masih ingat percakapan waktu itu, di dekat kandang ayam tempatku memulai usaha, disanalah Sur biasa bercengkerama dengan kami, anak-anak kandang, setelah pulang sekolah dia memanggul arit dan karung goni yang sudah agak lusuh untuk merumputkan kambingnya dan mencari rumput untuk dibawanya pulang nanti.

“Sur, setelah lulus SMA mau ngapain?” tanyaku padanya

“Pengenya kuliah Mas, semoga saja bisa dapat PMDK yo Mas, Aku pengen ngambil jurusan Peternakan di universitas negeri yang bagus Mas,biar bias ngembangin peternakan di kampung sendiri Mas” jawab Sur sambil mbabati rumput disekitar kandang.

“Wah, hebat kamu Sur, kalau begitu kamu harus meningkatkan nilai-nilai rapormu di setiap semesternya, semoga Sur, tak doakan Sur!” Aku yakin para malaikat disekitar kami pun mendengar dan menyampaikanya kepada Gusti Yang Maha Berkehendak.

Selain cukup pintar disekolahnya dia juga seorang muslim yang taat, namun dia tak pernah merasa lebih dengan hal itu, karena aku sendiri menyaksikanya, Sur sering pulang mengaji malam-malam ketika aku mau pulang dari kandang. Sur juga selalu mengakhiri percakapan kami ketika adzan berkumandang untuk segera pulang dan menghadap kepada Tuhannya.

Sur mempunyai kepribadian yang baik, dia tinggal bersama satu adiknya yang masih SD, Pian namanya, aku biasa memanggilnya The Real Si Bolang, karena gelagatnya yang penuh semangat dan sarat akan jiwa petualangan, ketika Sur sedang ujian atau belajar untuk ulangan bersama kambing-kambingnya yang dirumputkan di dekat padang rumput dekat kandang, Pian sebagai adiknya merasa terpanggil untuk membantu kakaknya sepenuh hati, tak segan-segan dia memegang arit dan karung goni untuk membabati rumput dan menggantikan kakaknya menggembala. Pian dan Sur sering bermain bersama kami di kandang ketika sore hari, tak hanya menggembala kambing, namun Sur juga mempunyai usaha sampingan sebagai peternak lele dibelakang rumahnya. Sepetak kolam tanah yang dia gali sendiri dengan pacul berhari-hari akhirnya dapat juga dia isi dengan bibit lele, lumayan katanya bisa buat beli buku dan seragam adiknya yang masih SD. Benar-benar seorang pemuda masa depan pikirku, di tengah perkembangan yang saat ini benar-benar membuat anak muda semakin manja dan nakal kekanak-kanakan, masih ada seorang anak yang berjiwa besar seperti Sur yang hidup penuh semangat dan sederhana.

Sur sering menanyakan padaku tentang usaha peternakan dan lele-nya, aku yang terkadang jatuh mental karena harga ternak tak kunjung membaik menjadi bersemangat lagi melihat Sur yang mempunyai kegigihan luar biasa.

Waktu seakan tak pernah beristirahat, semakin dewasa Suranto, akhirnya masa itu tiba juga, Suranto si anak gembala akhirnya mendapat PMDK di sebuah universitas negeri di Solo jurusan Peternakan. Sore itu Suranto datang dengan tergopoh-gopoh ke kandang sambil menggeret tali yang di kekangkan pada kambingnya dan membawa sepucuk surat pengumuman bahwa dia diterima di Universitas negeri.

Dia berteriak dari luar kandang “Mas aku ketompo Mas, Alhamdulillaaaaah….”

Aku turut bangga dengan prestasinya. « Read the rest of this entry »

Después de la coma

Juli 18, 2010 § 7 Komentar

comma lisaNafasnya semakin berat dan sesak waktu kulihat kondisinya, dia tak lagi bisa menangis atau mengeluarkan air mata pilunya. Bagaikan sembilu yang menyelimuti kalbu ketika kulihat kondisinya. Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri saat itu. Dia sangat berhak menangis dia sangat berhak terluka hatinya, namun sebenarnya dia tidak berhak kutinggalkan, karena bagaimanapun dia telah pernah menemaniku selama aku sedih dan terjatuh, namun saat dia terjatuh aku tidak bisa berbuat apapun. Bukan niatanku untuk meninggalkanya seperti ini, tak pelak lagi, semua orang pasti akan menyalahkanku atas kejatuhanya, dia benar-benar terjatuh dan sempat hampir mati.

Setelah kejadian itu, aku pernah sesekali menengoknya, iya, hanya sesekali saja, dan itu pun hanya beberapa detik. Namun baginya kedatanganku padanya waktu itu, memberinya nafas yang telah jatuh tak berarti. Yang tadinya kosong menjadi lebih bermakna. Sebenarnya akupun demikian,  selalu terbersit perasaan itu, suatu saat aku ingin kembali bersamanya. Minum secangkir teh hangat atau kopi kental adalah budaya kami jika bertemu, ramuan tehnya adalah rahasia besar, dibalik secangkir teh itu ada berjuta makna yang bisa menjadi pelajaran hidup. Namun aku tak lagi pernah merasakan teh hangat itu.

Tapi yang menjadikan aku sedikit bisa bernafas lega saat ini adalah kondisinya yang sudah mencapai Después de la coma, kondisi pasca koma. Kondisi itu dicapainya ketika terakhir kali aku bertemu denganya, aku coba lagi untuk berbicara denganya, aku menuliskan beberapa tanda untuknya. Koma. Semoga saja dengan pasca koma ini semua dapat lagi kembali normal,  seperti dulu lagi, minum teh bersama, bercengkerama dengan segala sesuatu disekitar kita, mendiskusikan mengapa teh itu tetap saja nikmat dan dapat kita nikmati hingga saat ini, dikala semua barang yang ada dipasar menjadikan kita terkejut karena harganya melambung, namun teh tetap saja nikmat. Aku ingin sekali minum teh lagi denganya, karena dia adalah https://lebihbaik.wordpress.com . Namun keadaan saat ini akan sedikit berbeda dengan waktu dulu, karena kami akan minum teh bersama-sama dengan Ibu dari anak-anak ku.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Juli, 2010 at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: