Sepeda Kemana Saja

Oktober 24, 2011 § 7 Komentar

Selamat Pagi!

Tidak ada lagi saya dengar anak kecil jaman ini bernyanyi “pada hari minggu ku turut ayah ke kota, naik DELMAN istimewa ku duduk di muka….” namun sebaliknya, justru mereka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, sekelas dangdut popular yang menurut saya cukup norak. Tapi kali ini saya tidak mau membahas tentang lagu-lagu itu, saat ini delman sudah berganti dengan mobil kawan, walaupun kadang sewaan.

Lokasi : Niti Mandala, Denpasar

Hari minggu ini saya seperti biasa bersepeda kemana arah terkayuh, dan kali ini saya kembali ke seputaran Denpasar. Saya mencoba duduk sejenak, mengambil kamera dan memotret aktivitas mereka para pesepeda (cyclist). Saya kemudian terbersit sebuah pemikiran, jika seandainya orang sebanyak ini semua mau dengan sungguh-sungguh menggunakan sepeda mereka sebagai moda transportasi setiap hari, alangkah bersihnya udara disekitar kita dan alangkah berkurangnya angka obesitas masyarakat kita. Klise memang, namun hal ini bisa menjadi solusi kemacetan, crowded dan ganasnya transportasi kita. Jika saja, kita padukan sepeda kita dengan transportasi umum, yaitu bus umum, atau angkutan kota umum lainnya, bukankah itu menjadi hal menarik.

Seperti cerita teman saya dari Belanda, mereka biasa melakukan perjalanan singkat hingga menengah dengan sepeda, lalu dilanjutkan dengan bus umum, atau kereta yang dapat membawa mereka ke tujuan yang lebih jauh. Dari apartemen, mereka menuju ke terminal atau stasiun, dengan sepeda. Di Belanda, stasiun atau terminalnya sudah di fasilitasi dengan area parking sepeda yang memadai, disitulah mereka letakkan sepeda dengan aman, lalu mereka berganti moda, kepada transportasi umum.  Seandainya saja disetiap terminal atau beberapa halte bus Trans Sarbagita sudah ada loker sepeda, atau guarded parking, bisa saja hal ini akan mengurangi kemacetan yang mulai semakin trendy di Denpasar.

Lokasi : Niti Mandala, Denpasar

Dalam sebuah jurnal ilmiah, Pucher dan Djikstra (2000) menyebutkan  bahwa Belanda adalah negara dengan tingkat penggunaan sepeda tertinggi, lebih dari 27% dari seluruh perjalanan digunakan dengan sepeda! Bahkan di kota-kota yang berukuran medium hingga besar, penggunaan sepeda mencapai 35% dari seluruh angka perjalanan! Mantap bukan?

Ada lagi yang menarik kawan, kurang lebih antara tahun 2000 hingga 2004, Pemerintah Belanda melalui Asosiasi Pengendara Sepeda dan ProRail, membuat sebuah solusi bersepeda yang disebut “PT – Bicycle” yaitu Public Transportation Bicycle (dalam Dutch “openbaar vervoer – fiets). Nah, PT-Bicycle ini bisa kita bayangkan seperti bus umum, atau taksi, angkot, namun dalam bentuk sepeda. Sebenarnya tujuan dari adanya fasilitas ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan yang berhubungan dengan penggunaan sepeda sewaaan di akhir aktivitas dari perjalanan kereta (Emmen et al., 2004). Sistem PT-Bicycle ini adalah dengan registrasi user, dengan biaya administrasi yang sangat ringan kepada unit organisasi pemerintah yang berhubungan. PT-Bicycle ini diparkir di loker sepeda, atau di guarded parking tertentu yang aksesnya sangat mudah dijangkau dari platform kereta. Haha.. asik sekali sepertinya yah.

Lokasi : Kira-kira dimana tuh?

Nah, selain Belanda, lawan main bulutangkis kita, cina juga pernah menjadi jawara pengguna sepeda terbesar di dunia. Cina pernah mendapat julukan “Bicycle Kingdom” karena angka pemilik sepeda di Cina cukup besar, pada tahun 2002 dalam 100 rumah tangga, dapat memilik 143 sepeda. Namun akhir-akhir ini pemerintah Cina tak mempedulikan lagi peggunaan sepeda (Chinadaily.com, 2004), karena penggunaan taksi dan mobil pribadi sangat meningkat tajam. Walaupun begitu Cina masih memproduksi sejumlah besar sepeda, yaitu 78 juta sepeda pada tahun 2003, atau sepertiga produksi total sepeda di dunia.

Oke, kalau Cina produsen sepeda terbesar pertama di dunia, Indonesia sebenarnya menempati urutan ke 6 kawan! Cina diikuti oleh India, Jepang, Italy, Jerman lalu Indonesia. Lalu kemana ya sepeda buatan anak negeri kita ini yah?

Referensi:
chinadaily.com. China ends ‘bicycle kingdom’ as embracing cars. 11 November 2004
 
Emmen, M., Pauwels, H., et al., 2004. The public transport – bike services in the Netherlands: pilot, evaluation and country wide introduction. Web: http://www.epommweb.org/ecomm2004/workshops/anglais/Kramer.pdf diakses 23 Oktober 2011
 
Pucher, J., Dijkstra, L., 2000. Making walking and cycling safer: lessons from Europe. Transportation Quarterly 54 (3), 25–50.
Iklan

Tagged: , , ,

§ 7 Responses to Sepeda Kemana Saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sepeda Kemana Saja at lebihbaik.

meta

%d blogger menyukai ini: