For the Loser

April 14, 2009 § 14 Komentar

Aku adalah sebagian dari mereka, yang sedang asyik tertawa. Tapi aku bukan tertawa karena gembira dan bahagia, tapi aku tertawa karena aku tahu aku sudah gila. Aku tidak sendiri pastinya, kawan-kawanku dari berbagai daerah juga banyak yang menjadi seperti ku sekarang ini. Aku hanya berdiri di sudut ruangan ini, untung saja ruangan ini ber AC dan ada TVnya, kalau tidak aku sudah tambah gila.

Sendirian aku di ruangan ini, aku merasa sepi, aku merasa salah dan kalah! Aku kalah… Aku kalah… Aku tidak dapat duduk di kursi empuk itu sambil berdiskusi dan menikmati uang mengalir secara spontan ke rekeningku. Karena saat ini aku hanya dapat disini sendiri menatap halaman berumput hijau itu. Semua miliku sudah habis, hutangku bertambah berlipat-lipat seperti grafik kuadrat, anak istriku sebenarnya sudah melarangku, tapi aku tidak mungkin hanya diam dengan kesempatan seperti ini. Usahaku bangkrut karena semua aset kujual dan kugadaikan. Hanya untuk sekedar berpesta di gelanggang perebutan kursi panas itu.

Aku menatap keluar dari jendela kamarku, terkadang mereka yang di halaman luar sana menyapaku dengan lambaian tanganya, sebenarnya mereka sadar atau tidak, aku juga tidak tahu, kerena mereka juga sepertiku tetapi masuk kesini dengan jalan yang berbeda.

Aaaahh, sekarang sudah jam 12 siang. Waktuku untuk makan siang, aku sedang menunggu wanita yang biasanya membawakanku makanan. Yang aku herankan, kenapa wanita itu selalu memakai pakaian serba putih. Dan, ketika aku ingin berlari pergi dari ruangan ini, ada dua pria yang berbaju putih mencegahku. Mereka bilang aku gila tapi aku merasa waras sepenuhnya, aku adalah anggota dewan hoi!

—————————————————————————————————————————————————-

Fakta:

11.215 orang memperebutkan 560 kursi DPR dan 1.109 orang bersaing mendapatkan 132 kursi Dewan Perwakilan Daerah. Selain itu, sekitar 112 ribu orang bertarung untuk mendapat 1.998 kursi di DPRD provinsi dan 1,5 juta orang bersaing merebut 15.750 kursi DPRD kabupaten/kota. Total caleg 1.624.324 orang dan total kursi yang diperebutkan 18.440 kursi.

Dari 1.627.342 orang tersebut, sudah dapat dipastikan bahwa 1.605.884 orang bakal gagal menduduki kursi “Anggota Dewan  Terhormat” (mediaindonesia.com).

Kuota RSJ di Bogor, Rumah Sakit Jiwa Marzuki Mahdi (RSMM): “Kami telah menyiapkan 10 ruangan VIP  khusus untuk caleg yang kaya raya dari Kota Bogor, maupun dari luar Bogor, yang  tidak lolos menjadi anggota DPRD. Ada 104 kamar dari total 800 kamar yang belum terisi. Dari kamar kosong itu, sebagian besar memang disiapkan mengantisipasi lonjakan pasien setelah pemilu 2009” (sorot.vivanews.com). « Read the rest of this entry »

Fenomena Hotspot

Februari 26, 2008 § 56 Komentar

Disebuah universitas negri terkenal di Solo nan jauh disana, ada seorang kawan yang bernama Jon Koplo (pinjem istilahnya Solopos ya, red). Dia adalah seorang mahasiswa semester 11 yang sudah malas kuliah dan tidak pernah kuliah lagi karena sudah punya sambilan dan banyak proyek yang digarapnya. Suatu ketika Jon Koplo ke kampus dengan penuh percaya diri, dan dandanan yang rapi berbaju formal sudah seperti eksekutif muda masa ini yang berwarna kuning pucat dengan motif batik, celana kain halus berwarna hitam yang dia kenakan juga menambah keren penampilanya yang nyentrik. Jon Koplo juga meerupakan salah satu tokoh mahasiswa di kampus itu, apalagi di fakultasnya, hampir semua mahasiswa kenal dia, apalagi dosen dan karyawan jangan ditanya lagi reputasinya sebagai mahasiswa tua yang berpengaruh.
Disela-sela waktu setelah kuliah Jon Koplo bertemu dengan temanya Lady Cempluk yang juga mahasiswa di fakultas yang sama dengan Jon Koplo, namun usia mereka kuliah disana agak jauh perbandinganya, Lady Cempluk baru menempuh semester 7 saat itu. “Pluk sini dulu, piye kabarmu saiki, kok ga pernah ketemu lagi?” kata Jon Koplo yang sedang duduk di shelter fakultas yang rindang dan indah itu, yang disekitarnya juga sedang terjadi banyak aktivitas mahasiswa seperti biasanya. “wah bos, alhamdulilah baik, lha km sekarang kok udah hebat gitu gimana caranya?mbok aku diajari bos?” dengan gaya bicara Lady cempluk yang gayeng dan renyah. “lho kok km ngga kuliah gimana to Pluk?” kata Jon Koplo, “nanti sepuluh menit lagi mau kuliah ini bos” jawab Lady Cempluk sambil mengeluarkan Laptopnya dari tas ransel besarnya yang berwarna hitam dan merek terkenal itu. “wah kalau kamu kuliah mbok aku pinjem laptopmu Pluk….mau cari bahan di internet nih, aku mau ngenet di hotspot PUSKOM aja Pluk, boleh to?” kata Jon Koplo sembari melirik laptop Lady Cempluk, yang belum jadi di turn on kan. “ya udah bos bawa aja ga papa, nanti kalo udah dititipin anak sekre aja ya” jawab Lady cempluk dengan gampangnya meminjamkan, karena Jon Koplo dan Lady Cempluk adalah teman dekat.
Sepuluh menit kemudian Lady Cempluk bersama kawan-kawan sekelasnya menuju ruang kuliah di Gedung F lantai 5 Ruang 13 yang bisa diakses dengan mudah melalui lift yang berada di depan pintu utama gedung itu. Sudah mulai kuliah di dalam kelas, Lady Cempluk duduk disamping Parno yang juga teman mbanyol si Lady Cempluk yang asli Wonogiri, dengan gaya khas nya Parno mengatakan sesuatu kepada Lady Cempluk yang membuat tertawa cekikikan pelan agar tidak terdengar dosen yang mengajar membosankan di depan. Tiba-tiba HP Lady Cempluk berbunyi dengan kerasnya “tiiiit…..tiiiit…..tiit…”, wah, ketahuan sudah bahwa Lady Cempluk hanya pakai HP monophonik yang tidak bisa dipakai foto-foto atau memutar MP3 Sholawatan seperti yang teman-temanya biasa lakukan.
Cempluk membaca dengan gaya sedikit ditutupi kursi yang ada didepanya, kemudian dia agak merunduk dan badanya bergetar seperti orang menahan tawa kurang jelas, yang membuat Paijo penasaran “hhheeh..ono opo Pluk? Bisik Paijo dengan pelan. “iki lho woconen sms-e Jon Koplo” sembari memperlihatkan HP yang berisi sms Jon Koplo dari PUSKOM, yang sedang hotspotan “Pluk, iki carane ngurupke wireless-e piye ben iso hotspotan?”

arti dari “Pluk, iki carane ngurupke wireless-e piye ben iso hotspotan?” adalah “Pluk ini gimana cara nyalain wirelessnya biar bisa hotspotan?”

disclaimer: posting ini saya comot murni tanpa perubahan dari blog saya yang satunya ini

JALAN KE MALL

Desember 17, 2007 § 3 Komentar

Suatu siang yang terik menjadi sejuk karena memasuki mall di salah satu pusat kapitalisme di kota Solo yang indah, disana banyak sekali barang-barang mewah yang tidak tersentuh oleh kantong dalam saku celana belakangku. Apalagi dengan warna-warni pengunjungnya yang berdandan semaksimal mungkin, memakai merek terkenal, dari ujung kaki sampai kepala, belum lagi kalau ngomongin pegananya (HP, red) wuah jauh sekali dengan punya saya. Disitu saya Cuma duduk di food court memesan es teh yang dipackaging dengan plastik polyethylene kata anak ITP (Ilmu dan Teknologi Pangan) UNS seharga 2 bungkus nasi kalau kita beli diwedangan yang biasa saya kunjungi, kalau dibeliin es teh diluar juga dapat dua. Bosan aktivitas yang monotone, yaitu mengamati aktivitas kehedonisan manusia-manusia jaman sekarang, saya mulai jalan-jalan. Well, wah saya bingung juga mau jalan kemana, akhirnya saya beranjak ke salah satu toko yang bertengger di lantai tiga mall ini. Memasuki toko, Cuma iseng aja

pegang-pegang barang yang asing ditangan saya, lalu disana saya melihat ada seorang perempuan. Layaknya Ornithoptera chimaera (kupu-kupu bersayap warna warni, perpaduan antara kuning dan hitam, red) dia melenggangkan tanganya ke tumpukan baju-baju yang kelihatanya tidak mungkin saya beli. Melihat fenomena itu saya tak bergeming, wajar lah kalau ada orang hedonis lagi shoping. Tapi kemudian saya melihat seorang sosok laki-laki yang sangat maskulin beberapa meter didepan saya, dia cukup bersih, dengan kulitnya yang putih sangat pantas sekali jaket jeans kolosal menempel ditubuhnya, rambutnya yang sedikit unik dan acak-acakan namun malah berkesan eksentrik membuat pria dengan kaca mata warna silver putih tersebut semakin meyakinkan. Berdiri beberapa meter didepan saya nampaknya dia juga menyadari kehadiran saya didepanya, kami saling berhadapan dan menatap seperti sedang bertelepati, dia menatap mata saya dengan matanya yang tajam memperlihatkan keoptimisan dan jiwa yang percaya diri. Semakin lama kami saling mendekat, saya tidak sadar, pria itu telah membius pandangan saya, kemudian saya bertanya dalam hati, apakah dia seseorang yang saya kenal. Jarak kami dan rentang waktu yang membatasi dimensi semakin dekat, dia mendekati saya dari depan face to face, ternyata dia adalah ……. kaca cermin.

fenomena HOTSmPrOT

Desember 7, 2007 § 5 Komentar

Disebuah universitas negri terkenal di Solo nan jauh disana, ada seorang kawan yang bernama Jon Koplo (pinjem istilahnya Solopos ya, red). Dia adalah seorang mahasiswa semester 11 yang sudah malas kuliah dan tidak pernah kuliah lagi karena sudah punya sambilan dan banyak proyek yang digarapnya. Suatu ketika Jon Koplo ke kampus dengan penuh percaya diri, dan dandanan yang rapi berbaju formal sudah seperti eksekutif muda masa ini yang berwarna kuning pucat dengan motif batik, celana kain halus berwarna hitam yang dia kenakan juga menambah keren penampilanya yang nyentrik. Jon Koplo juga meerupakan salah satu tokoh mahasiswa di kampus itu, apalagi di fakultasnya, hampir semua mahasiswa kenal dia, apalagi dosen dan karyawan jangan ditanya lagi reputasinya sebagai mahasiswa tua yang berpengaruh.
Disela-sela waktu setelah kuliah Jon Koplo bertemu dengan temanya Lady Cempluk yang juga mahasiswa di fakultas yang sama dengan Jon Koplo, namun usia mereka kuliah disana agak jauh perbandinganya, Lady Cempluk baru menempuh semester 7 saat itu. “Pluk sini dulu, piye kabarmu saiki, kok ga pernah ketemu lagi?” kata Jon Koplo yang sedang duduk di shelter fakultas yang rindang dan indah itu, yang disekitarnya juga sedang terjadi banyak aktivitas mahasiswa seperti biasanya. “wah bos, alhamdulilah baik, lha km sekarang kok udah hebat gitu gimana caranya?mbok aku diajari bos?” dengan gaya bicara Lady cempluk yang gayeng dan renyah. “lho kok km ngga kuliah gimana to Pluk?” kata Jon Koplo, “nanti sepuluh menit lagi mau kuliah ini bos” jawab Lady Cempluk sambil mengeluarkan Laptopnya dari tas ransel besarnya yang berwarna hitam dan merek terkenal itu. “wah kalau kamu kuliah mbok aku pinjem laptopmu Pluk….mau cari bahan di internet nih, aku mau ngenet di hotspot PUSKOM aja Pluk, boleh to?” kata Jon Koplo sembari melirik laptop Lady Cempluk, yang belum jadi di turn on kan. “ya udah bos bawa aja ga papa, nanti kalo udah dititipin anak sekre aja ya” jawab Lady cempluk dengan gampangnya meminjamkan, karena Jon Koplo dan Lady Cempluk adalah teman dekat.
Sepuluh menit kemudian Lady Cempluk bersama kawan-kawan sekelasnya menuju ruang kuliah di Gedung F lantai 5 Ruang 13 yang bisa diakses dengan mudah melalui lift yang berada di depan pintu utama gedung itu. Sudah mulai kuliah di dalam kelas, Lady Cempluk duduk disamping Parno yang juga teman mbanyol si Lady Cempluk yang asli Wonogiri, dengan gaya khas nya Parno mengatakan sesuatu kepada Lady Cempluk yang membuat tertawa cekikikan pelan agar tidak terdengar dosen yang mengajar membosankan di depan. Tiba-tiba HP Lady Cempluk berbunyi dengan kerasnya “tiiiit…..tiiiit…..tiit…”, wah, ketahuan sudah bahwa Lady Cempluk hanya pakai HP monophonik yang tidak bisa dipakai foto-foto atau memutar MP3 Sholawatan seperti yang teman-temanya biasa lakukan.
Cempluk membaca dengan gaya sedikit ditutupi kursi yang ada didepanya, kemudian dia agak merunduk dan badanya bergetar seperti orang menahan tawa kurang jelas, yang membuat Paijo penasaran “hhheeh..ono opo Pluk? Bisik Paijo dengan pelan. “iki lho woconen sms-e Jon Koplo” sembari memperlihatkan HP yang berisi sms Jon Koplo dari PUSKOM, yang sedang hotspotan “Pluk, iki carane ngurupke wireless-e piye ben iso hotspotan?”

Where Am I?

You are currently browsing the bercanda category at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: