Koma,

Maret 12, 2010 § 8 Komentar

,

inna lillahi.. untuk Raja Orde Baru Soeharto

Januari 27, 2008 § 28 Komentar

akhirnya Sang Raja Orde Baru, Bapak mantan presiden republik Indonesia, Bapak Soeharto.
saya hanya akan mengucapkan Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji’un. sebagai makhluk ciptaan Tuhan sudah menjadi sebuah keniscayaan untuk kembali kepadaNya. sekali lagi kita diingatkan akan kesuaan Tuhan, untuk kepan saja mengambil ruh dari jasad, yang membuktikan betapa manusia tidak ada apa-apanya disisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

sekarang  kembali pada diri kita masing-masing dengan peringatan itu. mati adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua, namun cara kita mati, dan apa yang akan kita tinggalkan dari kematian kita itulah yang harus kita rencanakan saat kita masih hidup.

mati yang menghidupkan, kata Solikhin Abu Izzudin. seperti kematian para syuhada. mereka meninggal dengan perjuangan, dengan meninggalkan wasiat pada kita agar terus berjuang di jalan yang benar.  jiwa-jiwa mereka akan terus hidup  menjadi penyemangat diri kita, menjadi suri tauladan bagi yang hidup. Kematian yang pahalanya tak pernah berhenti.

merencanakan hidup agar selalu bermanfaat dan ketika mati menjadi sejarah *yang baik* , adalah menddesain kematian kita untuk menuju kehidupan yang kekal nantinya.

selamat berpulang soeharto, semoga tauladan baikmu akan abadi di jiwa-jiwa anak Bangsa ini.

pengadilan akherat, pengadilah paling adil telah menunggumu 

Sang Waktu berkata: semua akan berawal dan berakhir kepadaNya.

Soeharto dan Penyakit Obsesif Kompulsif

Januari 13, 2008 § 53 Komentar

Seorang kawan yang telah sukses mengadakan seminar sekala nasional di sebuah hotel Sahid Jaya ternama di Kota Solo yang luar biasa, setelah acara selesai yah seperti biasa, mereka saling bercanda untuk menghilangkan penat yang menghantui pikiran mereka disela-sela kesibukan akademik. Juhud yang bermuka hitam lebam dengan logat khas Jowo bangetnya bertanya kepada kawan-kawanya “heh, siapa nih yang udah pernah tidur di hotel berbintang 5 kayak gini?” spontan Jono yang anak gunung tersesat kuliah di Kota menjawab dengan polosnya “ wah aku rung tau Hud, wekekek”, ditimpal dengan jawaban Andri yang berlagak sok Kota dengan “halah masa belum pernah to, lha wong aku aja tiap hari tidur sini kok, bapaku kan pejabat pemkot, hahahaha”, suasana menjadi semakin renyah dan riuh dengan canda kawan-kawan tadi. Namun dari salah satu mulut kawan kita yang polos tapi bermakna “lha kok nanyanya siapa yang pernah tidur di hotel ya? Kenapa kok ngga, siapa yang pernah tidur dikolong jembatan sama golongan marginal itu yah?”. Tiba-tiba mata semua kawan-kawan yang disana berubah cahayanya dan forum itu menjadi sebuah forum kontemplasi atas kesuksesan sesuatu yang beharga. Yaitu mengingatkan kita akan salah satu penyakit yang meraja lela dikalangan makhluk Homo sapiens jaman sekarang cinta dunia dan takut mati.

Hal ini juga dapat di analogikan dengan kematian Soeharto *nanti, entah kapan* yang dapat kita ambil dari sejarah beliau sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, mempunyai anak cucu yang berfasilitas ultraeksklusif, mempunyai kacung-kacung negara yang hegemoni dari akar hingga ke kepala. Hingga saat ini (13/1) pukul 05.00 dilaporkan oleh metro tv sudah dalam keadaan deadly critical condition, dan mengalami gangguan organ tubuh akut yang sepertinya akan membuat Kalitan ramai sebentar lagi. Sebagai informasi saja di Solo bandara satu-satunya yaitu Adi sumarmo akan ditutup untuk sementara untuk aktivitas transportasi yang meledak karena menunggu kedatangan keluarga cendana, jalan raya Solo yang menjadi jalur-jalur utama telah dibersihkan dan beberapa diantaranya termasuk Jl. Slamet Riyadi, Jl. A Yani, Jl. Adisucipto, Jl. Jend Sudirman dan Jl. Ir. Sutami (depan kampus saya UNS) dan beberapa jalan protokol lain akan ditutup berdasar keputusan Kapoltabes Solo *sumber berita: disini*.

Sepertinya mereka dan sebagian dari kita, dan mungkin juga saya telah terkena penyakit yang mengakar dari masa lalunya, yaitu obsesif kompulsif terhadap materi keduniaan yang berlebihan dan takut menghadapi kematian. Sangat jarang dari kita *dan saya* untuk merasa cukup dengan apa yang telah di anugrahkan olehNYA.

Nb: posting disela2 ujian, maaf menggangu, dan posting bukan bermaksud justifikasi.

gambar diambil dari  sini

 

 

BODONG! Kebo 1 Suro

Januari 11, 2008 § 19 Komentar

Entah datang dari labirin otak yang mana lagu kitaro – Matsuri meliuk-liuk membangkitkan semangatku untuk menyambar kunci motor dan pastinya tidak lupa tangan ku reflek mengambil kaca mata yang tergeletak mentah-mentah di meja makanku, ku lihat  Sang Waktu sudah membentuk sudut 30 derajat dari pukul 00.00. Sepanjang jalan Adi Sucipto membujur ke timur yang diujung jalan kita bisa melihat betapa indahnya kota Solo di malam hari, di sekitar stadion Manahan berjajar membentuk barisan yang siap menyejukan pejalan kaki di siang hari Casuaraina equsetifolia (cemara). Namun pada malam hari seiring senyapnya kota Solo, tempat ini menjadi rumah yang nyaman dengan kasur yang empuk bagi para raja jalanan gelandangan.

Lagu Kitaro mulai meredup ditelinga virtualku. Melaju dengan kecepatan 90 km/jam motor tua jenis Honda yang kutunggangi menyalak-nyalak ditengah sepinya jalan disekitar Jl. AdiSucipto, mengejar ambisiku untuk melihat seekor kebo bersejarah yang sangat tenar di Kota Solo dan Indonesia tentunya yaitu kebo keturunan Kyai Slamet yang keramat, untuk pertama kalinya.  Berkelebat disampingku sebuah kendaraan bermotor dengan plat AD 89… JT sebuah motor JUpiter, sudah jelas motorku tidak ada apa-apanya kalau dibanding dengan Honda jenis terbaru itu, sebenarnya sudah biasa sih aku diperlakukan tidak adil seperti itu, namun ketika kuperhatikan setelah motor itu melaju didepanku, pengendara motor itu, aku hanya berteriak tapi kutahan “wua..” sebilah keris menancap diselendang belakang pria berbelangkon hitam coklat dengan motif batik khas solo, lengkap dengan baju almamater beskap Solo warna hitam , dan dipinggangnya ada selendang pria yang lebih mirip ikat pinggang seperti bling-bling yang lagi ngetrend pada jaman majapahit. Komplit pakaian adat jawa, dengan jarik warna coklat bemotif batik-batik yang indah kalau boleh kubilang dia lebih mirip among tamu ditempat orang punya hajat. “gila orang itu, tapi salut deh buat semangatnya”kataku dibalik helm,  kupikir dia adalah salah satu abdi dalem kraton surakarta hadiningrat, karena orang yang akan mengiringi perjalanan malam si kebo bukan orang sembarangan, melainkan dia harus memenuhi system requirement dan lulus uji sertifikasi kraton dengan ketat, sungguh elegan. « Read the rest of this entry »

Pahatan Kehidupan

Desember 4, 2007 § Tinggalkan komentar

Lelah melakukan perjalanan kembali lagi saya mengunjungi wedangan yang sama untuk ke sekian kalinya, kembali lagi saya memesan teh hangat, namun karena sudah pukul 00.00 lebih beberapa menit nasi bungkus di wedangan itu sudah habis. Terpaksa saya hanya menunggu teh hangat yang dibuat penjual itu, terdengar suara penjual itu sedang mengambil bubuk gula, dan dengan secepat kilat seperti seseorang yang dikejar-kejar angin topan yang berpusar dibelakangnya dan menuangkan biang teh yang masih panas kental berwarna hitam bagaikan air yang menggenang di danau yang sangat dalam sehingga hanya nampak hitam kecoklatan. Sudah kuduga teh ini akan sangat panas dilidah, namun nikmatnya bukan main, dalam udara sedingin puncak, yang menyelimuti kota Solo yang cantik di malam hari setelah hujan terus menerus sejak sore tadi. “Wis wareg durung Bud?” tanya seorang Bapak2 di sudut warung dengan bahasa jawa yang artinya “udah kenyang belum Bud?” kepada seorang pemuda yang kurang lebih seumuran anak SMU atau sederajat. Budi yang hanya tersenyum menjawab pertanyaan itu, sedang sibuk merogoh sesuatu dari dalam kantong jaketnya yang mirip baju pramuka, berwarna coklat pucat, tapi tanpa atribut. Setelah mendapatkan sepuntung rokok didalamnya dia lanjutkan dengan “korek endi mas?” tanyanya kepada sang Penjual yang mengambilkan korek dari kotak rahasia yang dijaganya dengan ketat seakan perlu kode rahasia untuk membukan kotak yang berada diatas grobak wedangan uniknya. “nyoo…rokoke gak boleh tambah lho ya..!” kata penjual itu dengan sedikit ekspresi kecutnya, saya bertanya dalam hati, kenapa kok si Budi yang berwajah polos, berambut cepak, bermuka bulat dengan ekspresi mukanya yang sama sekali tidak seperti anak SMU kebanyakan di posisikan seperti itu oleh beberapa orang yang ada di wedangan itu.

Bapak yang duduk sambil agak mengantuk di wedangan itu tadi juga menanyai seolah-olah Budi adalah seorang anak kecil yang nakal dan masih suka berbuat aneh-aneh. Baru kusadari bahwa Budi mempunyai raut muka yang “general”, default, sesuai template, dari sononya untuk anak yang keterbelakangan mental. Tapi kalau menurutku si Budi polos tidak terlalu parah dan sudah bisa mengendalikan diri untuk anak yang sejenis denganya. Dia sudah bisa membeli makanan sendiri, menghitung, dan tau bagaimana merokok, tapi saya ga jamin dia tahu bagaimana cita rasa dari rokok, yang dibuktikan dengan aneh raut mukanya dan gayanya ketikan memantik api dari korek jress yang dipinjamnya dari penjual itu.
Budi adalah seorang anak dengan keterbelakangan mental di sebuah kampung dipinggiran kota Solo, yang lingkunganya lumayan agak sedikit modern tapi masih sangat menjaga culture yang normatif. Dia mempunyai kemampuan otak dibawah rata-rata orang biasa, di punya waktu loading yang lebih lama dari orang normal biasanya, dan daya tangkap terhadap perintah atau kebiasaan yang lemot. Namun dia tetap diberikan oleh Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pencipta hati dan akal pikiran, dia juga dilahirkan sebagai manusia biasa yang bisa punya hati nurani dan mengerti bagaimana harus survival dalam hidupnya, jika digambarkan isi kepala Budi bagaikan batu pualam dalam gua yang hitam kelam, dan keras, sehingga perlu dijatuhi air bertahun-tahun untuk bisa membuat sebuah lobang diatasnya, saking sulitnya, tapi bisa juga. Nah, sekarang tinggal apa yang ditangkap oleh Budi selama belasan tahun hidup di lingkunganya, masyarakat yang membentuk kepribadianya, keluarga yang mengarahkan jalan hidupnya, dengan benturan konflik lingkungan yang membentuk perilakunya. Ada yang mengatakan kita adalah lingkungan kita, dan juga “kalau mau tahu sifat seseorang lihat siapa teman-teman orang itu”. Dengan bentukan sosial yang baik maka Budi juga akan membuat pahatan di batu kehidupanya dengan kata-kata manis dan kenangan manis, dengan lingkungan masyarakat yang memberi pengaruh sangat besar, karena dia hidup di kampung yang memberi contoh yang baik dia juga akan berlaku seperti yang telah dicontohkan teman, saudara, tetangga, Pak RT/RW, penjual wedangan dan juga orang-orang yang berada dalam wedangan itu, serta orang-orang, ratusan bahkan ribuan orang yang datang dan pergi ditemuinya dalam hidupnya. Pastinya juga berlaku sebaliknya, bahkan saya rasa hal-hal yang buruk tapi menyenangkan akan lebih cepat bercokol dan memenuhi pikiran serta sel-sel darah kita, pulse ke otak kita dan merubah tabiat kita, yang akan berlaku pada Budi pula. Sebuah balok kayu yang dipaku pada tiap-tiap kita melakukan kesalahan dengan satu paku akan berlobang, dan meninggalkan bekas yang tidak pernah bisa hilang selamanya walaupun paku itu dicabut kembali, begitu juga dengan hati kita, memory kita…tidak akan pernah hilang luka pada hati itu jika sudah dipakukan kesalahan atau memory yang buruk, walaupun paku-paku sudah dicabut (termaafkan).

Where Am I?

You are currently browsing the Uncategorized category at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: