Nabilla

September 8, 2008 § 44 Komentar

Cukup, biarkan semua berjalan natural saja pikirku, toh mereka akan sadar dengan sendirinya.

Aku mulai mengambil peralatan perangku seperti biasanya, ransel, helm standard, motor dan beberapa perlangkapan jalan lain. Panti asuhan, tujuanku bersama temanku. Sama sekali lain, aku bertemu anak-anak usia dibawah lima tahun yang entah orang tua mereka ada dimana, entah dari keluarga berada ataupun keluarga tipe 21. Entah dengan sejarah suram akan kelahiranya, atau sejarah yang baru akan dibuat karena mereka tanpa asal-usul yang pasti.

Nabilla, anak usia kira-kira dua tahun itu sedang berada dalam box bayi ukuran 1×1 m dengan krawang-krawang pembatas yang sudah mulai mengelupas cat putihnya, bahkan sebagian sudah karatan. Nabilla baru belajar berdiri. Senyumnya tulus, dari matanya yang bening dan polos itu dia balik menatapku tanpa ekspresi, namun akhirnya setelah kuhibur dengan hiburan konyol ala happy three friend “na…na…na…na…na…3X” akhirnya dia tersenyum juga. Manis sekali anak ini, rambutnya yang masih tipis menghiasi wajah mungilnya, dan dia menunjukan giginya yang baru ada 2 ketika dia tersenyum. Pipinya yang masih kemerahan semakin terlihat lucu dengan sedikit lesung pipit di kedua sisinya.

Nabilla melambaikan tanganya kepadaku, anak ini sangat mudah bergaul, tidak seperti anak kecil biasanya. mungkin bagi Nabilla pelukan dari tangan siapapun adalah kasih sayang, senyum itu semakin lebar ketika dia kudekap, tapi kata suster yang jaga di panti itu anak-anak disini tidak boleh digendong, nanti jadi pengen digendong semua. Dia terlalu muda untuk mengetahui tentang dirinya.

Tiba-tiba ada temanku yang berkata “Apa kata pertama yang akan diucapkan Nabilla ketika dia sudah mulai belajar bicara, ya?” ketika anak-anak lain biasanya mengucapkan “mama..” atau “papa..” lalu apakah Nabilla tidak bisa mendapatkan yang serupa, apakah kata pertamanya haruslah “siapa… ” “aku…”.

senyumnya adalah ironi dari cerita panjang kehidupanya yang berliku, Nabilla. Dia hanya satu dari berjuta-juta “Nabilla” yang lain. Bukankah Nabilla mempunyai harapan yang sama dengan anak-anak seumurnya.

…………….untuk Nabilla……………….. :((

Iklan

Pembicaraan Kalangan Bawah

Februari 26, 2008 § 11 Komentar

Kembali ke wedangan yang sama dengan bau khas wedangan yang sepertinya belum akan punah sepuluh tahun kedepan, melalui salah satu pintu sempit yang hanya cukup di lalui satu orang aku masuk dan memilih tempat duduk diatas dingklik sepanjang 1,5 m. Di depanku hanya tersisa beberapa buah menu makanan, “wah, udah telat nih pak saya, udah pada habis semua gini, tinggal tahu tempe, dan telor tusuk satu” kataku pada penjual itu. “iyo mas wis entek-entekan iki” dengan logat jawa kasar khas pak Thukul penjual hik (wedangan, red). HIK, kebanyakan orang Solo dan sebagian Jogja menyebut untuk wedangan jenis angkringan kecil bertenda biru atau orange dipinggiran jalan yang merupakan kepanjangan dari Hidangan Istimewa Kampung (HIK), yang spelling nya lebih tepat seperti He’ mirip e mati pada sobek tapi di akhiri dengan alif, bukan kaf  kalau dalam bahasa arab.

Dengan suasana kekeluargaan ala bapak-bapak kampung  yang bercanda konyol masalah arisan RT bapak2, nongkrong, melek bengi , main kartu sampai larut hingga masalah politik yang dibicarakan sangat subjektif dan awam. Tiba-tiba ada seorang pembeli dari kalangan bapak-bapak tersebut dengan cara jawa ijin pamit duluan “wah iki kudu mulih disik iki” yang kemudian ditanggapi oleh temanya yang duduk disisi meja hik samping dengan sedikit mengepulkan asap rokok yang dihisapnya “lha ngopo arep mulih cepet2? wis ora duwe duit , tanggal tuwo ngene?” dijawab juga oleh bapak yang akan pulang tadi seraya berdiri dan senyum yang mengembang aneh, karena dihiasi oleh gigi ompong ditengahnya berkata ” Ora, iki arep ngeloni anak ku wis wengi”

” halah ngeloni anak opo anak, bar ngeloni anake trus ngeloni sing ngopeni anak”sambil tertawa cekakakan keras yang bisa membangunkan orang yang sedang mimpi jadi presiden sekalipun. Aku hanya tertawa kecil sambil terus melahap menu makanan ala kampung namun nikmat bukan main ini. ” ora… tapi ngeloni anak sing gede.. hahaha” di jawab spontan oleh pak ompong tadi dengan tawa riang pada kawan-kawan sejawatnya.

ku pikir, hal dan pemikiran yang sederhana seperti itulah yang terjadi di masyarakat kita secara umum, di kalangan akar rumput, dikalangan masyarakat bawah yang mengisi bola dunia Indonesia ini lebih dari 50 % nya. Konteks berpikir yang sangat – sangat sederhana namun sepertinya sudah sistemik di lingkup sosial.

Belum lagi disamping warung itu ada Ibu-ibu yang sepertinya istri si penjual HIK itu sedang menonton Tivi dipelataran terbuka dengan tivi ukuran mini hitam putih dengan santainya, dengan anaknya yang masih SD kira-kira kelas 5 an.Termakan iklan seluler yang sedang perang tarif, termakan serial sinetron yang serasa memanjakan mereka dalam mimpi-mimpi buta, termakan gaya hedonisme ala Jakarta dengan mobil mobil mewah yang dipakai untuk syuting film itu, termakan gaya berpakaian si pambawa acara gosip selebriti, dan berbagai macam doktrin sistemik ala media televisi sekarang.

Masih ku nikmati teh hangat yang di permukaanya mengepul asap tipis menandakan panasnya dan nikmatnya rasa teh hangat pak Tukul itu aku mendengar closing statement bapak ompong tadi “wah iyo, iki filme Aisyah yo, wah Aisyah sik bar iki”.  Well, ternyata bapak-bapak pun termakan sinetron.

disclaimer: postingan agak ruwet setelah mengalami serial kehidupan nyata di atmosfer nyata

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with bingung at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: