Kedahsyatan Lebaran Kita

Oktober 1, 2008 § 39 Komentar

Penuh sesak jalan utama Kota kecil itu, namun kali ini lain. Bukan karena  kesibukan aktifitas masyarakat pekerjanya, tapi mereka adalah seluruh  masyarakat dari berbagai pelosok kota, bahkan mungkin ada yang dari luar  kota yang sedang merayakan hari kemenangan. Hingga saat ini pun kumandang  Takbir masih sayup-sayup terdengar dari setiap penjuru mata angin.

Sebuah mobil bak terbuka, menampung puluhan hingga belasan orang  membunyikan pengeras suaranya yang sudah mulai parau seperti saya kalau  lagi serak, mengagung-agungkan asma Allah. Di ikuti dengan serombongan  kendaraan bermotor yang cukup meriah dengan suara-suara merdu mesin  kendaraan yang dibolong knalpotnya, Indah sekali, seperti kampanye parpol  setiap lima tahun sekali itu. Mereka bersorak sorai, mereka saling  bersahut-sahutan antar pengendara menandakan bahwa mereka sedaerah, atau  sekampung, mungkin juga se-gank. Jalan utama kota itu benar-benar ramai  dengan mobil-mobil bak terbuka, dan mereka semua kompak untuk saling  mengadu pengeras suara dengan lagu-lagu merdu mereka. Benar-benar  Indonesia! Beraneka ragam karakter manusia ada di jalan itu, selain mobil -mobil yang di tumpangi para rombongan, juga terdapat banyak mobil-mobil  mewah berplat B, D, A, H, AG, BM, DK, dan sebagainya yang menunjukan bahwa  mereka adalah pemudik yang sedang menikmati Kota kelahiranya. Indah bukan  main dalam benak mereka. Berkumpul bersama keluarga jauh yang terpisah  cukup lama dan kemudian bersama secangkir teh atau makanan ringan ‘itikaf’ dipinggir jalan merayakan hari kemengan. Ya! Hari kemenangan, Ramadhan  telah habis terlewatkan 30 hari penuh. Puasa sudah tertunaikan  kewajibanya. Zakat sudah dibayarkan ke panitia zakat, dan pastinya hari  idul fitri itu akan datang.

Ya, idul fitri telah tiba. Hari dimana seluruh umat muslim di Indonesia  yang jumlahnya 88,2% dari total penduduk Indonesia kembali ke fitrah,  kembali suci, kembali pada zero mistake! Luar biasa bukan. Dengan hanya 30  hari, Tuhan memberikan keringanan yang sangat dahsyat! yaitu kesucian  diri! Setiap tahun kita diberi kesempatan untuk kembali menjadi suci lho  kawan-kawan! betapa Tuhan ini Maha Legowo, dosa-dosa kita yang bejibun dan  tidak mungkin kita menyadari bahwa kita melakukan dosa bisa diampuni oleh  Tuhan pada bulan ini. Luar biasa.

Nah, oleh karena itu saya rasa, yah.. karena ke-legowoan Tuhan itu tadi  kita menjadi terbiasa, kita menjadi ngenthengke bahwasanya ketika kita  berbuat dosa toh nanti juga ada masa-masa diampuninya. Begitulah bangsa  kita ini memandang hal itu. Belum lagi dengan luapan kebahagiaan yang  diungkapkan setiap kali selesai ramadhan. Saya menjadi curiga, apakah  takbir yang berkumandang, kemudian, jalan-jalan yang ramai dengan pemudik,  ramai dengan para pemeriah ramadhan ini, berekspresi seperti itu karena  bahagia ditinggal ramadhan terus kemudian tidak perlu lagi berpuasa, atau  memang tahu hakikat dari Hari Kemenangan, hari kembali fitrah itu  bagaimana. Saya pikir sudah sejak lama kita melakukan hal seperti ini,  terlarut dalam kegembiraan ditengah sebuah kenihilan pemahaman. Ya, tidak  bisa disalahkan, tidak ada yang salah disini. Lha wong tidak paham saja  bisa sangat bergembira kok, apalagi kalau paham. Tidak perlu paham untuk  bisa gembar-gembor takbiran!

Seperti dikatakan Cak Nun dalam salah satu tulisanya ” Kita (orang  Indonesia, pen) mampu memadukan setan dengan malaikat dalam situasi yang  sangat damai. Kita bisa menjajarkan kebaikan dan keburukan dalam suatu  harmoni yang indah. Kita mampu mendamaikan kesedihan dengan kegembiraan,  kesengsaraan dengan pesta pora, krisis dengan joget-joget, keprihatinan  dengan kesombongan, dan kemelaratan dengan kemewahan. ” Sungguh satire dan  paradoks. « Read the rest of this entry »

Waktu Itu.

Agustus 18, 2008 § 21 Komentar

Waktu itu aku bersama anak jalanan dan bersendagurau dengan mereka, ada seorang anak yang memabacakan puisi buatanya :

Nasibmu kini….. Indonesiaku

seperti diriku yang telah terabaikan

di tepi jalan mengais uang

beribu cercaan orang telah sering kudengar

sebenarnya tak ingin kulakukan

terontang anting oleh pekerjaan

tapi keadaan yang memaksakan

apa daya itu yang harus ku telan

ku coba melamar pekerjaan tapi diriku diremehkan

mereka bilang aku tidak punya ketrampilan

bagaimana ku bisa merdeka

bila aku masih dijalan dan tak ada yang memperhatikan

Yuli, Pengamen Jalanan (Stasiun Jebres Surakarta, 17 Agustus 2008 )

Waktu itu aku kembali ke dunia kecil namun tak berbatas, dengan sejentik jari-jari diatas keyboard ku temukan lagi sebuah puisi yang ditulis dalam sebuah milis. Singkat… benar-benar singkat, sesingkat penjajahan Belanda kepada Indonesia. Namun Ironis, dan semua mengatakan bahwa kita benar-benar merdeka dari kemerdekaan.

“Proklamasi 63 Tahun” oleh Kang Becak

Kudengar,
Proklamasi,
Berkumandang,
Tiap tahun,
Selama 63 tahun.

Tapi kurasakan,
Rasa kebangsaan,
Semakin menyusut,
Tiap tahun,
Selama 63 tahun.

Kang becak – Milis Sastra Pembebasan, 17 Agustus 2008

Dan, pada waktu itu adalah Proklamasi. Sekarang hanyalah menjadi olok-olok salah satu iklan provider telepon seluler!

Biarlah, karena kita hanya merayakan 63 Tahun Proklamasi. Tidak lebih.

Dan sekarang, panggung itu benar-benar hanya menjadi panggung pertunjukan hiburan rakyat. Karena idola mereka menari diatas panggung itu.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with indonesia at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: