Tuntut Pelibatan Mahasiswa dalam Otonomisasi Kampus (BLU/BHP)

April 3, 2008 § 34 Komentar

disclaimer: Posting agak panjang dan perlu kesabaran serta keseriusan dalam membaca 🙂

Kurang tahu, apakah rekan mahasiswa sekalian dan pegiat pendidikan (minimal) sudah pernah mendengar tentang sebuah rencana besar negara untuk mem-badanhukum-kan seluruh instansi pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Sebuah cita-cita negara untuk memberi kebebasan pada instansi pendidikan, agar lebih mudah dalam mengatur manajeman, baik keuangan maupun akademik. Namun masih menjadi polemik yang dibicarakan oleh kalangan “elit” pemerintah, pakar pendidikan, pemerhati pendidikan, civitas akademika kampus, dan sekelumit mahasiswa yang peduli. Polemik yang didasari oleh keresahan akan terjadinya sebuah reformasi pendidikan, dan secara sistemik pendidikan akan menjadi sebuah komoditi. Untuk menghadapi Globalisasi katanya, liberalisasi bacanya. Lebih ekstrem lagi kapitalisasi pendidikan. Begitulah kira-kira komentar mereka seputar akan berubahnya budaya pendidikan di Indonesia, pro dan kontra terjadi, antara pihak yang berkepentingan dan pihak yang menjadi objek saling berbenturan, media massa pun tersenyum lebar dengan materi-materi barunya yang marketable seputar pendidikan tinggi.

Namun disisi lain, wacana perubahan besar-besaran pada status sebuah lembaga pendidikan sama sekali tidak tercium oleh mayoritas stakeholder kampus, yaitu mahasiswa umum. Mahasiswa yang sedang duduk tenang dalam kelas dan memperhatikan kuliah dengan cermat, tapi tidak mengerti bahwa akan ada rekonstruksi luar biasa yang skenarionya sudah digulirkan sejak tahun 2003 lalu. Lama! Memang. Skenario yang diterjemahkan ke dalam sebuah undang-undang dan sudah ada pilot project yang dijadikan contoh memang menuai kritik yang tidak sedikit. Sejak tahun 2003 pemerintah bersama DPR sudah menggodok dan menguji publik RUU Badan Hukum Pendidikan.

Substansi dari Badan Hukum Pendidikan pun akhirnya menjadi sesuatu yang gamang, dan terkadang malah menjadi salah kaprah, ada yang mengartikan bahwa BHP adalah semata-mata usaha untuk mengkomersialkan pendidikan, memeras mahasiswa dan berbagai opini yang tidak proporsional lainya. Usaha penggiringan opini publik untuk menganggap BHP menjadi tidak seimbang ini penulis akui berhasil. Tapi apa sebenarnya yang ingin pemerintah sampaikan dengan dibuatnya RUU BHP ini? Badan Hukum Pendidikan pertama kali diwacanakan dimulai dengan adanya UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS yang dinukilkan pada pasal 53. Kurang lebih esensi pada pasal tersebut adalah Badan Hukum Pendidikan didirikan oleh pemerintah atau masyarakat, berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. Kemudian disikapi lebih lanjut dengan pembentukan RUU BHP untuk melegalkan dan menjadi aturan tersendiri. « Read the rest of this entry »

Semangat Kawan!

Februari 7, 2008 § 59 Komentar

Kawan apakah kau dengar kata mereka? Orang –orang yang berteriak di pinggir jalan membawa poster-poster yang menyuarakan hati nurani mereka melawan kezaliman. Mereka adalah bulir-bulir tinta emas yang membuka labirin pemikiran dan spektrum kehidupan yang semakin tidak menentu arahnya, mereka menuliskan setiap langkah demi langkah mereka dalam lembaran-lembaran putih yang dihiasi dengan bingkai indah perubahan, lembar demi lembar mereka tuliskan setiap jengkal langkah gerak mereka.

Tidak peduli apa kata dunia nyata tentang omong kosong idealisme yang nantinya akan termakan kenyataan. Mereka hanya lah nurani, mereka hanya mencoba meneriakan kebenaran, dengan darah yang mengalir dari alveoli ke jantung mereka , dengan keringat yang mengalir melalui kelenjar ekskresi mereka, dengan setiap Adenosin TriPhospat yang mereka keluarkan sepenuh hati dan keihklasan dari tulus hati perjuangan mereka, setiap langkah mereka adalah tinta emas tulisan sang waktu. Bagaikan adrenalin yang memompa emosi dan kelenjar-kelenjar semangat, sepenuh hati perjuangan mereka disatukan dalam barisan-barisan rapi yang melangkah indah bagai padi-padi disawah yang dihembus angin timur. Dalam barisan dengan satu komandan yang membawa panji-panji kebenaran sehingga melahirkan jiwa-jiwa yang kokoh membawa arah perjuangan ini.

Tak berharap balasan atas jasa-jasa, tak menunggu upah hingga keringat mereka kering, tak menunggu waktu memberikan ganjaran yang setimpal, namun hanya ketulusan yang akan berbalas firdaus. Hanyalah berharap pelangi kehidupan yang terususun dari spektrum warna yang berbeda-beda sehingga tersusun dalam damai menghiasi bumi kelahiran mereka. Hanyalah senyum seorang sahabat kecil mereka yang menari-nari dibawah gemericik air hujan persahabatan, hanyalah masa depan penuh cinta bumi pertiwi, hanyalah moralitas yang berlandaskan nurani setiap kafilah penunggu 17.000 lebih pulau di bumi pertiwi, hanyalah tangis bahagia Homo sapiens tua dan keriput yang melihat cucu dan cicitnya generasi ke sekian ratusnya dapat mengenyam majlis – majlis ilmu disetiap pelosok nusantara.

Semua disini akan berawal , mulai 5 Februari 2008 dalam barisan-barisan rapi, BEM UNS akan mengawal sang waktu menghadapi rona-rona kehidupan. Memerintahkan parasit, toksin, dan patogen jiwa manusia pergi dari cawan jati diri dan meyambut hangat sapaan dan pelukan kawan-kawan mereka yang bernama semangat, konsistensi diri, komitmen, responsibility, dedikasi, keihklasan, pengorbanan, dan loyalitas yang akan menemani perjalanan mereka dalam lembaran-lembaran sejarah yang tidak akan pernah hilang dari catatan malaikat pencatat perbuatan manusia.

berita disini

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with pendidikan at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: