Kritik Terhadap Negara dari Rektor UNS

Maret 26, 2008 § 28 Komentar

“Indonesia ini benar-benar!” dengan nada gelisah dan kecewa, “bayangkan saja, Presidenya Muslim, Wakil Presidenya muslim, Ketua MPR muslim, ketua DPR muslim tapi bagaimana logika bisa menerangkanya, Indonesia sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar dunia ini, menempati ranking ke 6 dalam kancah Perkorupsian Internasional dari 170an negara di dunia” Ujar Prof. Dr. dr. Moch Syamsulhadi, SpKJ (K) yang tidak lain tidak bukan adalah rektor UNS Solo saat memberi tausyah pengajian di Rektorat hari minggu malam (23/03).

Sebagai sebuah komunitas perguruan tinggi, UNS merupakan salah satu yang unik, karena mempunyai kultur religi yang kuat, baik dari pejabat birokrat kampus maupun mahasiswa sendiri. Setiap sebulan sekali dikalangan pejabat rektorat, dari jajaran karyawan sekelas satpam pun, hingga rektor duduk bersama untuk mengikuti pengajian rutin. Biasanya diisi oleh Ustadz – ustadz dari kalangan internal kampus sendiri, kebetulan kemarin yang ngisi Ust. Dr. Ir. Syafii, MT seorang dosen Jurusan Teknik Sipil yang menyelesaikan studi S3 nya di Kyoto Univ Jepang. Nah kebetulan saja karena jabatan struktural di lembaga kemahasiswaan saya dan beberapa teman-teman diundang, hujan rintik-rintik namun biasanya bikin orang malas keluar rumah menghadang didepan pintu rumah, namun sms dari Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS (Purek 1 UNS) langsung kepada saya siang itu kembali membangkitkan adrenalin dan mencerahkan pikiran untuk tetap menembus kelam langit dan tetesan nikmat air hujan. Subhanallah, ketemu dengan Dona (KaBiro Riset) di Porsima setelah magrib menambah semangat saya, bayangkan saja, kos-kosanya lumayan jauh dari Porsima tapi beliau tetap dengan zuhud berjalan kaki ditengah balutan udara dingin dan air hujan.

Dari forum kemarin saya dapat memetik beberapa pencerahan, pertama adalah arti sebuah pengorbanan. dalam forum itu pun Prof Syamsul menyatakan, bahwa dia juga jauh – jauh dari Klaten (sekitar 25-30km dari Kota Solo) dengan cuaca gerimis dan dingin minta ampun beliau tetap membutuhkan hadir, ” ini bukan suatu Kewajiban, ini bukan hukum fardhu kifayah, atau sunnah muakad, tapi saya Butuh”. Kesadaran seorang pemimpin, yang memegang kekuasaan utama di Universitas sebesar UNS untuk mengikuti forum ilmu agama tidak diragukan lagi, bisa jadi Lho.. misalnya rektor UNS itu bukan seseoarang yang tidak mau berkorban untuk mengikuti kajian, lalu kemudian akhlaknya kurang baik, dan diturunkan kepada orang-orang dibawahnya. Runyam sudah, nama baik sebuah Perguruan Tinggi. Pelajaran kedua adalah, kemampuan seorang akademisi yang di mix dengan kemampuan seorang Ustadz. Sebagai contoh adalah Dr. Syafi’i tadi, petinggi Perguruan Tinggi Negri yang reputasi kemampuan science dan teknologinya tidak diragukan lagi, dan juga dengan kemampuan untuk mengibangi keilmuanya tersebut dengan religi, ilmu dan amal. Sebuah master piece norma-norma kehidupan yang dapat dijadikan oleh para petinggi negara. Dalam Tausyah yang disampaikan oleh Dr. Syafii kemarin beliau berpesan bahwa Jika Umat ini masih dipegang oleh seorang yang hanya mengutamakn logika, maka kita hanya akan menunggu kehancuranya saja.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Tausyah at lebihbaik.

%d blogger menyukai ini: